Kami melewati banyak malam bersama. Namun yang pasti kenangan itu bisa dibukukan. Lembar demi lembar kenangan itu membentuk cerita dan menyentuh sisi emosionalku yang feminim.
“Aku hanya mencari
udara segar,” aku terkejut mengetahui seseorang berada di atap rumah kos berlantai
tiga yang baru kusewa.
“Sebelumnya tak ada
yang mau menghabiskan waktu di sini. Kalau kau mau kita bisa berbagi.” Dia
berbalik, hanya wajahnya bagian lain dari tubuhnya tertutup punggung sofa tua.
Dia bangkit mendatangiku, menjabat tangan dan begitulah awalnya mula pertemuan
kami. Nyaris lima tahun lalu.
Kami bersama hingga sekarang. Entah teman—walau
kata itu terdengar menyakitkan. Entah kekasih, itu terdengar sangat tak pasti.