Date a girl who reads

Date a girl who reads
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2013

Don't Let Your Dreams be Dreams


gambar: di sini


Oktober  2002
Aku benci kelasku. Aku benci sekolahku. Aku benci guru-guruku. Lebih dari segalanya aku benci teman-temanku yang pintar (katanya) dan juga sombong! Aku benci ketika guruku dengan nada sombongnya menyebut namaku. Ketika namaku dipanggil ... bisakah kau membayangkan nadanya? Seolah aku adalah sesuatu bukan seseorang! Aku membencinya. Nina...Nina...Nina harusnya namaku terdengar manis di lidah mereka yang menyayangiku, di lidah orang yang tak mengenalku tapi menghakimiku, namaku terasa seperti nasi basi yang ingin dimuntahkan dengan segera.
                Aku menyeret langkah malas. Aku menatap ujung sepatuku yang berdebu dan terkena berbagai noda. Menyerahkan bukuku yang bersampul kertas lilin berwarna kuning dengan hiasan stiker bunga-bunga bergliter yang juga kulindungi sampul plastik. Menurutku bukuku cantik.
                “Mana catatanmu?” Seharusnya cuma kalimat tanya sederhana, tak perlu disertai dengan tatapan mata tajam.
                “Sedang ibu pegang,”
                “Catatan Geografi bukannya diary!”
                Matanya yang melotot seolah menyuruhku untuk melihat tumpukan rapi buku-buku tulis bersampul cokelat dengan gambar siswa-siswi sekolah berseragam. Sampul cokelat kusam yang membosankan. Aku harus katakan. Aku tak bisa jadi yang tercerdas. Aku juga bukan salah satu anak-anak paling kaya di kelas. Ini terdengar payah, tapi aku cuma ingin jadi yang sedikit berbeda. Seharusnya itu sudah jelas. Ibu guruku yang sekarang berwajah bosan (dan juga menyebalkan) membolak-balik bukuku. Meraih spidol merah dan memberi nilai E “Silahkan berdiri di pojokan kelas!” kalimat pedas yang membuat hatiku memanas.
***
                Jam istirahat, saatnya aku melepas penat. Aku memilih duduk di bangkuku dan menikmati duniaku. Dunia milikku sendiri. Tapi, seseorang nampaknya ingin aku kembali ke dunia nyata.
“Boleh lihat catatan Geografimu?” seharusnya permintaan itu terdengar seperti hinaan, tapi sejujurnya ini justru adalah mimpi yang jadi kenyataan. Nata menyapaku! Okay aku benci seisi kelasku karena label kelas plus di mana anak-anak cerdas dengan nilai bagus berkumpul (kecuali aku, kata mereka aku cuma beruntung punya nilai tes bagus ketika pendaftaran masuk) tapi Nata adalah yeah Nata....my first crush! Usiaku 15 tahun, sedang mengalami masa puber dan aku memilih Nata sebagai orang yang sering berada di dalam khayalanku.
                “Boleh kulihat catatan Geografimu?” Nata bertanya sekali lagi. Aku (pura-pura) mengabaikannya. (Masih) berusaha menenggelamkan diri dalam komik serial cantik Throbbing Tonight, cerita cinta konyol tentang gadis dari dunia setan yang jatuh cinta pada cowok cuek dari dunia manusia. Kisah cinta nyaris tak mungkin tapi kau tahu komik. Apapun mungkin terjadi untuk menuju happy ending.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Selamat Tim Volly Ganesha, Kami Bangga!

Final: Tim Ganesha versus Tim Pota


Aku harus bilang betapa beruntungnya aku yang bekerja untuk masa depan para remaja, di Sekolah Menengah Atas kami menikmati bagaimana semangat itu berkembang.  Semangat remaja mungkin itulah yang menjadi Inspirasi band grunge keren Nirvana meniptakan salah satu lagu favoriteku Smells Like Teen Spirit. (janji deh .... nggak bakal menulis dengan sudut pandang seorang guru menyebalkan yang akan kesel dan marah-marah kalo siswanya bolos atau nggak ngerjain PR)
Jadi Sabtu kemaren, tanggal 31 Agustus 2013 adalah penutup turnamen Volly SMA-SMK se Kabupaten Sumbawa Barat, dan yeay tim Volly Putra Ganesha jadi juara pertama, sayang dua Tim Putri dua-duanya nggak lolos, etapi ga masalah kok. Apalagi di final kemaren permainan yang disajikan benar-benar menarik dan memuaskan 3-0 untuk kemenangan tim kita (Cuma agak ganggu dengan yel-yel supporter yang saling bully -_-)  
bayangan para supporter Ganesha

Aku bangga dengan keberhasilan mereka dan ta da kejutan berikutnya adalah bahwa dua orang dari Tim Volly kami juga jadi dua pemain terbaik, selamat buat tim Volly Ganesha serta Ardianah dan Subhan, yeay! Kalian hebat! Yang kemaren ga masuk gegara latihan, minggu ini saya tunggu tugasnya! Ooooops :P

Ini hanyalah ekspresi kebanggaan dan ucapan selamat, berhubung saya adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan dan penulis fiksi genre teenlit jadi jelas ini bukan liputan olah raga yang bagus. Perlu belajar dari jurnalis olah raga :D
Marilah kita  anggap foto ini pake efek blur bukan gegara tangan saya yang tremor :/ btw SELAMAT!

Rabu, 07 November 2012

(Bukan) Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (Tapi) Ibu Yang Luar Biasa



From Zooey Deschanel to Minerva McGonagall

Pernah membayangkan Zooey Deschanel menjadi Minerva McGonagall dalam Harry Potter?
Mungkin begitulah aku, si Quirky yang anehnya kok bisa menjadi guru!
***
            Teringat perkenalan awal sekitar tiga tahun lalu. Saya berdiri di depan kelas dan mengawali karier saya sebagai seorang guru. Mengenang hal itu membuat saya terharu. Setelah membahas nama dan latar belakang pendidikan, menceritakan sedikit kehidupan keluarga dan juga membicarakan hobi, salah seorang siswa menanyakan―entah serius atau candaan, mengenai status saya.
Maksud hati menjawab dalam nada canda dengan status ‘terverifikasi’ tapi dengan lantang saya mengatakan “Saya single…” yang diikuti dengan siulan dan keriuhan. Mencoba bersikap santai, saya memberi waktu mereka untuk menggaduh, tapi tak lama saya melanjutkan kalimat “…yeah single mom” dan mereka terdiam.

Kenapa saya menyebutkan diri saya single mom? Yeah saya belum menikah alias tanpa pasangan tapi harus dipanggil ibu. Saat itu usia saya 22 tahun. “Panggilan Bu Guru” nampaknya terlampau serius untuk gadis yang hanya lima tahun lebih tua dari sebagian besar siswanya yang waktu itu rata-rata berusia 17 tahun.
            Saya mengajar di SMA Negeri 1 Seteluk (Sebuah kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB) saat itu kami hanya punya tiga rombongan belajar dengan siswa yang kurang dari 25 orang di setiap kelasnya. Kabar kurang memprihatinkannya, sekolah kami masih menumpang di SMP dan kami masuk siang. Saat itu, saya mengajar untuk dua mata pelajaran, yaitu Pendidikan Kewarganegaraan (sesuai dengan latar belakang pendidikan saya) dan Sosiologi (karena sekolah kami tak memiliki guru berlatar belakang ilmu tersebut, tapi saya adalah pecinta cabang ilmu satu ini).
Sejujurnya saya mencintai pekerjaan saya, dan dalam mencintai atau untuk melakukan sesuatu disukai seakan sudah menjadi hukum alam bahwa kami harus mengorbankan hal lainnya―bukannya mengeluh, tapi saya harus berada jauh dari pusat kehidupan saya; keluarga, sahabat, dan hal-hal menyenangkan yang harus saya lepaskan demi pengabdian saya pada negara dalam tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Beberapa teman pernah bertanya “Kok mau sih jadi guru?” dan jawaban saya “being a teacher is the most worthy thing a person can be” (Persis seperti ucapan Lola di Film Confession of Teenage Drama Queen, film jaman saya SMA, dan ternyata kalimatnya saya gunakan bertahun-tahun kemudian) tanggapan mereka dari angkat bahu, menggeleng-gelengkan kepala hingga memutar bola mata.
Agak mengherankan juga karena…yang mereka kenal, saya adalah cewek quirky bukan tipikal seorang yang bisa digugu dan ditiru. Dengan mudah bila membayangkan Zooey Deschanel harus memerankan karakter Minerva McGonagall dalam film Harry Potter. Bayangkanlah, saya dengan tinggi 145 cm dengan suara kekanak-kanakan harus mengajarkan sekumpulan remaja, mengajar? Saya tidak bercanda ini serius!

Dan ternyata saya dihadapkan pada realita tentang tugas seorang guru, yang bukan hanya mengajar. Menjadikan siswa dari tidak tahu menjadi tahu, tapi tugas guru jauh lebih kompleks dari itu, karena ada tugas guru yang jauh lebih penting yaitu mendidik―baik di dalam maupun luar kelas, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah atau luar sekolah dengan tugas professional, tugas manusiawi, dan kemasyarakatan (Mengutip pendapat Daoed Yoesof). Apakah saya mampu? Apakah saya bisa?
Beberapa kali sempat berpikir ingin menyerah saja, tapi…manusia yang benar-benar manusia tidak pernah menyerah bukan? Salah seorang teman pernah mengingatkan tentang “Jika kamu tidak bisa mencintai sesuatu maka tinggalkan, dan jika kamu tidak bisa meninggalkan, maka cintailah!” ya ampun saya mencintai pekerjaan saya dan itu sungguh-sungguh. Namun, ada satu hal yang saya lupakan, bahwa cinta bukan berarti hanya menikmati, menyukai, atau menyayangi, tapi di lain waktu cinta itu adalah masalah konsekuensi. Bagaimana seseorang bisa mempertahankan cintanya dalam kondisi kritis sekalipun!

Siapa Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu? Bukan Saya! Saya Hanya Mencoba Menjadi Ibu Yang Luar Biasa!
Kata pahlawan tanpa tanda jasa itu artinya sungguh luar biasa, dan saya yakin saya tidak pantas untuk gelar itu. Selama ini yang saya lakukan― bisa dikatakan memang sesuai dengan aturan apa yang seorang guru harus lakukan. namun, dipikiran saya seorang guru hanya manusia biasa bukan pahlawan sepenuhnya. Kemampuan mereka terbatas, atau mungkin itu hanya berlaku bagi guru seperti saya, ya?

Kamis, 19 April 2012

Graduation Speech: From Silly To Cool

High School Musical Dolls



Terlepas dari UNAS, akhirnya kita BEBAS! Anak kelas tiga SMA sekarang lagi menikmati hari-hari akhir untuk melepas putih abu-abu. Percaya atau tidak tapi nantinya aku yakinkan bahwa episode hidup paling menyenangkan itu adalah saat SMA. Kamu akan merindukan tembok sekolahmu yang penuh coretan vandalism nggak jelas, kamu akan merindukan deringan nyaring bel pagi, kamu akan merindukan bibi kantin tempat kamu boleh ngutang. Kamu akan merindukan sang guru killer yang sering banget setrap kamu. Kamu mungkin akan merindukan satpam sekolah yang sering cegat kamu atau juga tukang kebun sekolah yang tetap tutup mulut saat kamu melewati gerbang tanpa izin untuk membolos. Kamu akan merindukan teman-temanmu yang kamu sayang…dan mungkin kamu akan merindukan seseorang, entah pacar atau seseorang yang belum sempat kamu ungkapkan cinta…