Pagi
ini adalah pagi yang sempurna. Aku terbangun di sebuah kamar dengan aroma
segar lavender. Di sampingku, sebentuk wajah itu begitu menyejukkan. Aku tak
ingin menceritakan apa yang terjadi semalam, terlalu indah untuk kuceritakan,
setelah ciuman sempurna di balkon itu. Yang jelas, semuanya terjadi persis
sepertia apa yang kuimpikan selama ini. Walaupun tokoh dalam mimpi itu bukan
Joe.
“Kamu sudah
bangun Belle?” Suara sapanya mengalun lembut di telingaku.
“Hmmmmmmmmmm”
aku menggumam manja, Joe menarikku dalam pelukkannya, dia membelai bahuku, dan
mencium keningku.
“Terima kasih”
Aku memberinya
sebuah senyuman hangat dan dia membalas senyuman itu dengan membelai rambut
panjangku, aku masih berada dalam pelukannya, terasa hangat tapi juga dingin,
terasa damai tapi juga menyisakan ketakutan.
Ada rasa yang
sangat aneh, ketika kedua mata kami bertemu, aku menikmati tatapan teduhnya,
tapi apa yang diterjemahkan indera penglihatanku itu nyaris tak bisa
kudefinisikan, ada keanehan, ada rasa…rasa yang nyaris tak bisa kukatakan,
seperti ketika menelan sirup obat, manis tapi memualkan, bahagia tapi juga
merasa berdosa. Kuabaikan perasaan itu, tak kubiarkan aku tersiksa perasaan
itu.