Date a girl who reads

Date a girl who reads
Tampilkan postingan dengan label Karya Kolaborasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Kolaborasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Agustus 2013

Lembaran Euro Untuk Ni Luh Sari



Feat : Mbak Kakaknyah Sekar Mayang


Semuanya berubah, tidak ada yang bisa membeku tanpa tersentuh oleh waktu

***
Ni Luh Sari     

Matahari sudah hampir menghilang di horizon sebelah barat dan daganganku baru laku sedikit. Sepertinya aku bakal merugi lagi hari ini. Tapi paling tidak, aku harus bertahan sebentar lagi. Masih banyak orang di pantai ini dan aku masih bisa menawari mereka untuk membeli lumpia gunting daganganku.

Kamis, 28 Juni 2012

Mbak, Izinkan Aku Membalas Budi


Feat : Sekar Mayang

Sore itu adik iparku, Putri, berkunjung ke rumah. Sudah lama kami tak berjumpa. Sejak pertengkaran terakhir antara suamiku dengannya - yah, sekitar dua tahun yang lalu - baru kali ini dia berani menampakkan wajah. Aku tak ingin memperkeruh suasana, kuterima dia dengan tangan terbuka.

“Apa kabar mbak?” tanyanya.

Dia tersenyum lalu merangkulku, pipinya ditempelkan ke pipiku dengan kikuk. Kami memang tak terlalu akrab.

“Baik,” jawabku. “Kamu, apa kabar, Put?” tanyaku sambil membantunya duduk di kursi kayu  di ruang makan.

Dia tak menjawab, hanya menatap sekeliling ruangan, sudah lama dia tak pulang, aku membiarkan dia bernostalgia terhadap tempat yang pernah dia sebut rumah.

“Bagaimana kabarmu, Put?”

Sabtu, 09 Juni 2012

Friend Or Foe (Chapter Three)




Beberapa pelayan yang disewa Robert keluar dengan segera ketika pintu dapur dimasuki dengan langkah buru-buru oleh Nala dan Marion. Nala membelakangi Marion yang ragu-ragu untuk menyentuh pundaknya yang bergetar. Kemarahan, kesedihan, dan rasa gusar yang tak tertahankan membuat Nala merasa lemah tak berdaya. Dari cermin Marion melihat wajah sahabatnya dalam ekspresi yang sulit dilukiskan. Sementara Nala yang mengetahui kehadiran Marion, pada mulanya lebih suka mengabaikan, tapi dia tahu itu tak berguna. Sekian lama Nala menyimpannya, dan mungkin inilah waktunya untuk dia menumpahkan segalanya – seperti dia menumpahkan sisa Wine yang dia tumpahkan ke wastafel dengan gelasnya begitu saja.

Friend Or Foe (Chapter Two)


Biasanya Nala selalu mempunyai alasan bagus untuk menikmasti pesta. Tapi tidak untuk kali ini. Dia berharap dia takkan memasuki pintu apartemen Robert. Apartemen mewah itu sejujurnya mengintimidasi harga diri Nala. Menunjukkan kesuksesan sahabatnya sebagai pengacara muda hebat.

Tidak mengherankan, Robert adalah seorang yang jenius di bidangnya. Dia punya otak brilian, sebuah keistimewaan ‘tak adil’ yang di dapat dari darah Yahudinya. Sementara Nala, ia masih tetap si sugar daddy. Nala hidup dalam sokongan ayahnya yang berlimpah materi. Putus dari Dalton, Nala pulang ke dalam kemewahan payahnya di LA. Payah, karena segala benda yang digunakannya bukanlah miliknya. Payah, karena ia harus menjilat ayahnya yang munafik dan tak tahu malu untuk sekedar mendapat beberapa ribu dolar setiap minggunya. Ayahnya seorang pria mesum yang hobi mengoleksi perempuan plastik murahan. Nala membencinya, namun memerlukan uangnya. Tapi kini Nala kembali, kembali pada hidup yang pernah ditinggalnya pergi. Kembali ke New York, tempat dia pernah menghindari diri dari kemunafikan hidup saat idealisme tinggi remaja merajainya.

Friend Or Foe (Chapter One)


Dari balik kaca sebuah Coffee Shop, terlihat dua  orang perempuan berusia diakhir dua puluhan. Mereka terlihat akrab, tapi terlihat begitu berbeda. Namun sebenarnya mereka bersahabat erat. Marion dan Nala. 

Marion tipikal wanita karier yang serius. Tinggi kurus, berambut merah yang ditata dengan potongan layer sederhana, berwajah oval dengan warna mata hazel. Keanggunan Inggris terlihat jelas dalam dirinya, berkacamata kotak yang menampilkan aura cerdas, dan binar optimis terpancar dari matanya. Berbanding terbalik dengan Nala, bertampang unik yang didapat dari nenek moyang campuran, setengah Kaukasia juga setengah Asia. Nala lebih mirip seperti gadis dengan senyum malas-malasan dalam halaman utama majalah Fashion, terlihat indah namun tak memiliki cita rasa, seolah kepribadiannya yang bermasalah terlihat seperti buku yang terbuka.

Selasa, 14 Februari 2012

Be Your Own Valentine, B !



Untuk membiarkan seseorang jatuh cinta pada dirimu
Mungkin kamu perlu melakukan sesuatu…
Seperti, memulai untuk mencintai dirimu sendiri dulu

***
       
“Be your own Valentine, B!” aku meneriakkan kalimat itu pagi ini (hari ini tanggal 14 Februari), tidak seperti kalimat yang kuucapkan pada hari-hari biasaku, good morning optimistic, enjoy your busy day, entah mengapa kalimat itu terdengar berasal dari cewek ambisius yang memaksa diri, cewek yang hobi menyiksa diri, workaholic parah yang lebih suka terjajah pekerjaan yang  lebih suka tenggelam dalam kesibukan, hey…hidup bukan tentang bekerja dan bekerja, nikmatilah hidupmu yang menyenangkan!

Bully Versus Froggy


“Pangeran kodok elo datang, Al” seorang cowok bertubuh jangkung dengan tampang jail, seenaknya saja menowel tubuh Alana “Cipok gih! Biar jadi manusia! Tampang si kodok ngorek aja lebih oke daripada cowok elo, gimana ceritanya elo bisa pacarin Kodok berkaca mata itu?” setelah itu tawa penuh ejekan mengakhiri sebuah kisah cinta, Alana, tak bisa apa-apa selain ikut tertawa dengan teman-teman se-gank-nya, sementara Atilla, melangkah secepat kakinya bisa membawanya pergi dari tempat dia baru saja dipermalukan, hari itu sebuah kisah cinta berakhir tanpa kata, tapi dalam hati Atilla dan Alana, mereka merasakan ada sesuatu yang patah dan berdarah, yang rasanya membuat mereka begitu menderita.

Senin, 13 Februari 2012

[KCV] Secret Valentine


Citra Rizcha Maya & Selsa Rengganis


Jika cinta itu masih milik kita
Pada akhirnya kita pasti akan bersama
***
          Dering telepon itu membangunkanku, membuyarkan mimpiku, tentang satu-satunya sosok wanita yang aku rindukan. Di layar teleponku, gambar wanita itu berkelap-kelip, (jangan tanyakan mengenai foto wajahnya, aku mengambilnya di akun jejaring sosialnya), seolah-olah dia baru saja keluar dari dalam mimpiku. Yah telepon darinya, dan tidak ada alasan untukku tak mengangkatnya, dia bahkan sering menelponku di waktu-waktu tak biasa, kapanpun maunya, memang, akan selalu ada waktu untuknya, walau kadang tak mendengarnya bicara, hanya suaranya memuntahkan isi perutnya, saat dia terlalu mabuk sepulang pesta, atau saatnya menangis karena hal-hal yang tak pernah kumengerti, karena dia tak pernah mau membagi sedih, dia akan ceria ketika dia berbicara tentang hal-hal yang disukainya, itu adalah obrolan yang paling kusuka, aku mencintai caranya tertawa, seakan aku melihat wajahnya tertawa di depanku, bukannya kita terpisah ruang dan waktu.

[KCV] Di Pasar itu, Sepuluh Tahun Lalu…


Oleh : Langit + Citra

          Dari balik kaca mobil, gadis itu menatap lurus ke depan. Tempat yang jauh dari kata indah, sebuah tempat kumuh dan kotor, bekas  bangunan pasar tradisional di sebuah kota kecil yang terbakar, yang kini terdapat plank bertuliskan; di tempat ini akan dibangun gedung serba guna, pasar penggantinya berada kurang lebih dua ratus meter dari sini. Tak ada yang istimewa dari tempat ini, kecuali sebuah kenangan yang hanya di mengerti oleh dirinya.

Rabu, 11 Januari 2012

Broken Hearted Diaries: Parodi dari Tragedi



Siang itu aku mengantarkan Rina, istriku belanja ke Mall, sebuah rutinitas menyebalkan yang harus aku lakukan sebagai tanggung jawabku, sebuah fungsi seorangsuami. Sejujurnya aku benci melakukan hal ini, membuatku terlihat tak berharga, mengekor di belakang istriku membawa tumpukan belanjaanya, Rina shopaholic parah, dan sejujurnya yang membuatku mengutuk diri sendiri adalah karena bukan uangku yang dia hambur-hamburkan, tapi uang orangtuanya yang kaya raya, mengingat menikahinya adalah bagian dari baktiku pada orangtuaku, aku tau ada perasaan terinjak-injak di dalam diriku ketika aku melakukan semua yang ia mau, aku merasa tak punya harga diri sebagai lelaki.

Broken Hearted Diaries: Lara Cintaku yang Lalu


Tre…tree.t…treet..
Hapeku bergetar, sengaja aku buat menjadi diam sebelumnya agar tak mengusik tidurku. Kuarahakan tanganku untuk mengambilnya di atas meja sisi kiri ranjang. Jam masih menunjukkan pukul 06.30 wib, tidak biasanya aku harus bangun awal ditanggal merah seperti ini, saat dimana tidak perlu masuk kantor. Kuhidupkan lampu tidur agar suasana lebih terang.

Broken Hearted Diaries:Kesempatan Kedua Itu Tidak Tersisa Untukku




Sore itu aku duduk di depan teras rumah orangtuaku, menghirup secangkir kopi panas mengurangi sedikit beban pikiranku. Sidang perceraian kami, tinggal menghitung hari saja, 3 hari lagi. Dua tahun menjalani pernikahan yang sia-sia, sebentar lagi semua akan berlalu..

Broken Hearted Diaries: Patah High Heel Versus Patah Hati



Ternyata patahnya hak Manolo Blahnik lebih menyakitkan daripada patah hati! Tapi setidaknya aku mendapat pelajaran penting hari ini; jangan pernah memakai high heels baru-mahalmu untuk masuk kebun! Sebagai sekretaris di sebuah Perusahaan asing pengolah minyak jarak, hari ini mau tak mau aku harus ikutan panen, well sebenarnya nggak ikut panen sih, cuma mendampingi Mr. Yamane yang tampangnya mirip Conan Edogawa versi 60 tahun, melihat-lihat proses panen yang dilakukan para petani yang bekerjasama dengan perusahaan kami,. Aaaaaaaaaaaaaaaarrrrrgggghhht seandainya ini bukan karena loyalitas pada Perusahaan, aku takkan pernah mau menginjakkan kaki di sana, dan mengenakan sandal jepit kebesaran berwarna orange norak milik Pak Tani yang bersedia telanjang kaki supaya kaki cantikku tidak kotor, seharusnya aku bersyukur, tapi….aku baru tau ternyata iklan salah satu permen Mint itu boong! Karena kamu nggak bakalan semudah itu mematahkan hak sepatumu yang lain kayak diiklan itu, kamu sudah terlalu sedih kehilangan satu hak sepatumu, dan tidak akan bisa membayangkan kehilangan hak yang lainnya lagi, lagipula nggak ada cowok keren di sekelilingku.Huh!

[MPK] Broken Hearted Diaries: Hampa Terbayar Indah





Aku mengunci diriku di kamar, meratapi semua kisah cintaku dengan mas Rendy. Minggu depan seharusnya adalah saat terindah bagi kami, saat di mana pada tanggal 17 Desember tahun lalu aku menerima cintanya.

BROKEN HEARTED DIARIES SERIES : KISAH NELANGSA RATNA





Hmm..panas nian hari ini..mentari dengan garangnya menggigit setiap mahluk yang ada di bawahnya, termasuk aku yang baru pulang mengajar murid-murid terkasihku di sebuah sekolah menengah atas. Bruuk..!!!kulempar tas kerjaku di atas meja di kamar tidurku yang nyaman.

Minggu, 01 Januari 2012

[Feat: Sekar Mayang] An Ordinary Love Story Part 5


Aku pernah ditinggalkan sekali
Merasakan sakitnya perih, Menahan luka yang pedih
Terima kasih karena sudah menemani
Dan menjagaku dari sepi

***
          Sepanjang malam hujan, dan yang menenangkan Joe menyelimutiku dengan pelukan hangatnya semalaman, itu membuatku benar-benar merasa nyaman.
Entah inibenar-benar terjadi atau hanya perasaanku saja. Aku pikir beberapa hari kebersamaanku dengan Joe membuat iri sang pagi.
Bunyi rintik sisa-sisa tangisan langit membawaku dari dunia mimpi, ke dunia nyata yang indah. Dunia dimana ketika aku terjaga kutemukan seseorang yang kucinta.
Ada rasa tak percaya saat menatap teduh wajah rupawannya. Saat nafasnya menyanyikan simfoni yang indah. Saat wangi tubuhnya memberikan kedamaian di jiwa. Well, aku mulai terdengar seperti gadi-gadis dalam drama  penuh romansa.
Ada berjuta kata ingin kuucapkan, tapi tak ingin kusampaikan, aku benar-benar menyebalkan!!!
“Boleh aku mengucapkan selamat pagi dan mendapatkan sebuah ciuman untuk bibirku ini?” Joe membuka mata dan langsung membuatku merona.

[Feat: Sekar Mayang] An Ordinary Love Story Part 4


Pagi ini adalah  pagi yang sempurna.  Aku terbangun di sebuah kamar dengan aroma segar lavender. Di sampingku, sebentuk wajah itu begitu menyejukkan. Aku tak ingin menceritakan apa yang terjadi semalam, terlalu indah untuk kuceritakan, setelah ciuman sempurna di balkon itu. Yang jelas, semuanya terjadi persis sepertia apa yang kuimpikan selama ini. Walaupun tokoh dalam mimpi itu bukan Joe.
          “Kamu sudah bangun Belle?” Suara sapanya mengalun lembut di telingaku.
          “Hmmmmmmmmmm” aku menggumam manja, Joe menarikku dalam pelukkannya, dia membelai bahuku, dan mencium keningku.
          “Terima kasih”
          Aku memberinya sebuah senyuman hangat dan dia membalas senyuman itu dengan membelai rambut panjangku, aku masih berada dalam pelukannya, terasa hangat tapi juga dingin, terasa damai tapi juga menyisakan ketakutan.
          Ada rasa yang sangat aneh, ketika kedua mata kami bertemu, aku menikmati tatapan teduhnya, tapi apa yang diterjemahkan indera penglihatanku itu nyaris tak bisa kudefinisikan, ada keanehan, ada rasa…rasa yang nyaris tak bisa kukatakan, seperti ketika menelan sirup obat, manis tapi memualkan, bahagia tapi juga merasa berdosa. Kuabaikan perasaan itu, tak kubiarkan aku tersiksa perasaan itu.

[Feat: Sekar Mayang] An Ordinary Love Story Part 3




            Sebagian dari diriku ingin percaya sebagian menolak untuk percaya, tak ada Joe dalam mimpiku, mimpiku masih sama seperti dulu, mimpi yang kurekam berulang-ulang, mimpi tentang kebersamaanku yang penuh tawa-canda bersama Dave, mimpi yang kurencanakan, bagian dari khayalan, tapi akan kukatakan bahwa Joe ada di sana, aku tahu aku membohoginya, tapi sejujurnya setelah kepergian Dave aku terlalu lama menyiksa diri dan aku takkan membiarkan seseorang pergi lagi, Dave jauh lebih berarti tapi aku tak ingin sendiri, mungkin aku terdengar serakah, tak ingin melupakan Dave tapi tak ingin membiarkan Joe pergi, biarlah aku egois untuk kali ini, bolehkan aku menganggap, bahwa ini adalah keajaiban yang kubuat sendiri, mungkin aku akan mencoba memanipulasi mimpi agar setelahnya aku bisa memanipulasi kenyataan
          Mungkin itu menjadi keahlianku saat ini. Ya, aku akui, setelah 5 tahun ini aku semakin dan semakin mahir saja memanipulasi kenyataan. Aku selalu berusaha membawa Dave di setiap helaan napasku, padahal ada Joe yang selalu menggenggam jemariku. Aku ingin berhenti saja dari kehidupan ini. Maksudku, aku berharap aku adalah orang lain yang tak perlu merasakan hidup yang tengah aku alami saat ini. Sekali lagi, aku terdengar egois, kan?!

[Feat: Sekar Mayang] An Ordinary Love Story Part 2




Aku sadar apa yang kulakukan tak lebih dari usaha sia-sia, mencintai sesuatu yang telah pergi, mencintai mimpi, mencintai hal yang tak lagi bisa kumiliki, aku tak ingin terus-terus begini. Mungkin Joe benar, sudah saatnya untukku bangkit dari tidur panjang ini… bagaimana bisa aku bangun dan menghadapi dunia ini? Aku tak bisa…tapi mungkin lebih karena kutak ingin.
Anganku melayang jauh, pada kisah cinta masa kecilku, tentang para Putri yang diselamatkan dari kematian, dari tidur panjang, dari kehilangan harapan, dan tahu apa yang menyelamatkan mereka? Sebuah ciuman, terdengar konyol kurasa, bagaimana aktifitas bertukar liur berisi ribuan bakteri itu mampu menyelamatkan seseorang? Tapi ditengah keputusasaan, kubiarkan logikaku tak lagi  berkuasa, aku tak bermaksud untuk bercanda, tapi mungkin aku akan mencoba membiarkan Joe menghadiahkan sebuah ciuman untukku.

[Feat: Sekar Mayang] An Ordinary Love Story Part 1


Aku lebih suka mengingkari bahwa bintang itu adalah api, dan lebih suka menipu diri, mencoba menganggap kilauan cahaya indah itu adalah sebuah celah dari Surga. Celah untuk mengintip kami, orang-orang yang masih tertinggal di bumi. Ketika malam tiba, sebelum aku akhirnya menyerah pada lelah, di ujungku terjaga, aku selalu menyempatkan diri mengkhayalkan tatapan teduhmu menatap jauh di balik langit biru kegelapan di waktu menjelang subuh, menjagaku dari jauh.
Sempat aku seperti mendengar suaramu yang lembut memanggilku. Mengajakku untuk mengunjungi sebuah taman bunga di atas sana, yang kau bilang penuh dengan bunga jepun putih favoritku. Kau memanggilku berulang-ulang dan lambaian tanganmu benar-benar menggodaku untuk segera melompati dunia ini. Tapi sekali lagi, setelah berulang-ulang mengalami hal itu, aku tetap tidak mau mengakui kalau aku tengah bermimpi dalam lelapku.