Date a girl who reads

Date a girl who reads
Tampilkan postingan dengan label book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2019

Mereka Bukan Tidak Suka Membaca, Mereka Hanya Trauma Dengan Pengalaman Membaca Yang Kurang Menyenangkan

https://ebookfriendly.com/wp-content/uploads/2014/07/Once-you-learn-to-read-you-will-be-forever-free-Frederick-Douglas.jpg




Ada pertanyaan yang diajukan seorang teman beberapa tahun lalu yang membuat saya kesulitan menjawabnya secara serius, jawaban yang saya berikan akan lebih baik jika dianggap candaan. Tapi jika kamu tipe serius, maka itu akan terdengar miris dan tragis. Pertanyaannya adalah: "Apa buku favorite siswamu?" Saya cuma bisa bilang, "Buku wajah, karya Mark Zuckeberg."
      Sesungguhnya kebanyakan siswa saya menderita buta aksara. Ini masalah besar! Siswa SMA tidak bisa membaca? Jangan salah paham, mereka sebenarnya bisa mengenali huruf, merangkainya menjadi kata dan melafalkannya dengan benar. Tapi membaca bukan hanya kegiatan membunyikan kata, namun mengerti dan memahami si kata. Bukankah nyaris tak ada bedanya bisa melafalkan huruf namun tak mengerti artinya dengan sama sekali tak bisa membaca.
      Sebagai guru saya memahami hal ini. Kebanyakan anak-anak usia sekolah tidak menaruh minat besar pada membaca. Padahal menurut saya ini adalah kesalahan, karena― contoh sederhana saja, dalam proses belajar misalnya, ‘kesalahan’ metode belajar dapat berakibat fatal. Pernah dengar tentang solusi tak masuk akal agar pintar? Bakar bukunya, abunya dicampur air dan diminum. Itu kelakar populer di kalangan anak-anak sekolah. Banyak anak-anak memilih ingin pintar tapi tanpa pengorbanan. Untuk itu marilah kita jawab pertanyaan berikut ini. Berapa banyak siswa yang memilih metode menghafal alih-alih membaca perlahan guna memahami materi yang mereka pelajari?

Selasa, 10 Januari 2017

[Review] Gempa Waktu: Membuatmu Bijaksana Dan Menggila Disaat Yang Sama



Keterangan Buku:

Judul                           : Gempa Waktu (Timequake)
Pengarang                   : Kurt Vonnegut
Penerjemah                  : T. Hermaya
Penyunting                  : Chandra Gautama
Desain Sampul            : Teguh Tri Erdyan dan Deborah Amadis Mawa
Penerbit                       : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan Kedua           : Februari 2016
Jumlah Halaman          : 250
ISBN                           : 978-979-91-1143-2

Sebuah buku bagus tak perlu Blurb atau Sinopsis jika buku ini memiliki sederet pujian seperti berikut ini:
“(Vonnegut) Seorang kartunis kata-kata, orang bijak, seorang subversif sejati! … Vonnegut membuat orang yang angkuh tampak tolol dan orang yang santun dan menyenangkan tampak sebagaimana adanya … (Gempa Waktu) adalah pemerenunganyang amat memikat tentang hubungan antara kehidupan sang penulis dengan khayalannya. Karya ini merupakan suatu berkah.”
−Valerie Sayers, New York Times Book Review

“Pertunjukkan yang menakjubkan tentang kejujuran pengarang …sup kental yang terdiri dari fakta dan khayalan … catalog perlengkapan yang disarankan oleh Vonnegut untuk mengarungi eksistensi yang penuh bahaya: humor, kejujuran, kemurahan hati, dan keberanian untuk hidup dan mengada.”
Detroit Free Press

“Paduan otobiografi, permenungan, satir … Vonnegut pada puncak kepengarangannya.”
Atlanta Journal-Constitution

“Gempa waktu adalah novel yang ditulis dan dibintangi Vonnegut … Apa yang dilakukan Vonnegut, yang orang lain tak mampu menandinginya, adalah memperlihatkan ketidakacuhannya yang luar biasa pada zaman pascamodern … Anda tentu menyukainya.”
Washington Post Book World

“Lucu, pedas… Gempa Waktu adalah bacaan yang sangat menarik, penuh dengan kebenaran yang lebih penting ketimbang yang dikisahkan. Tak ada permenungan moral yang lebih kocak.”
−Chocago Sun-Times

“Menyenangkan … menggoncangkan … menggembirakan … karya ini merupakan suatu berkah.”
−Valeri Sayers, New York Times Book Review

“Suatu campuran yang aneh antara kebijaksanaan dan kepahitan, kecerdikan dan kepasrahan, dan ejekan terhadap Alam Semesta.”
San Diego Union-Tribune

Sebuah buku bagus tak perlu review dari pembaca dan penulis review amatiran ini, jika si pembaca dan penulis review amatiran mau repot-repot menuliskan kalimat-kalimat menariknya, sebagagai berikut:

Rabu, 02 November 2016

[GPU Reading Challenge] Corat-Coret di Toilet, IJakarta, dan Pembaca Gratisan

#GPUxiJak



Blurb:
"Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."

Keterangan Buku:
            Judul                     : Corat-Coret di Toilet
Penulis                 : Eka Kurniawan
Desain Sampul     : Eka Kurniawan
Setter Isi               : Fitri Yuniar
Penerbit                : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit        : April 2014
ISBN                    : 978-602-03-0386-4

Review:
                Perhatian: Saya sebagai pembaca terlalu payah dalam menilai buku tapi saya yakinkan bahwa sulit sekali bagi saya untuk tak menikmati setiap buku yang saya baca.
Ada selusin cerpen dalam antologi ini yang akan saya bahas satu persatu.
  1. Peter Pan
Membaca judulnya, menggelitik pikiran saya. Peter Pan adalah salah satu tokoh kesayangan saya dan saya begitu mencintai kisah petualangannya. Berdasar tokoh J.M Barry tersebut rupanya Eka menciptakan tokoh yang alih-alih melawan Kapten Hook, apa yang dihadapi Peter Pan di sini adalah sang Diktator. Tak ada Tinkerbell atau Wendy, yang ada hanya si tuan Putri.
Peter Pan milik Eka rupanya ‘tak ingin dewasa’mungkin lebih karena ketika ‘dewasa’ maka idealisme-nya bisa jadi menghilang. Sentuhan tumbangnya Orde Baru dan kelahiran Reformasi kental sekali dalam cerita ini.

  1. Dongeng Sebelum Bercinta
Memasukkan dongeng Alice in Wonderland dalam cerpen yang diceritakan tokoh Alamanda (mengingatkan saya pada tokoh dari Cantik itu Luka) untuk mengulur-ulur kewajibannya sebagai istri. Saya yang terlalu cepat mengambil kesimpulan berpikir bahwa sepertinya adanya keinginan Eka untuk membuat mungkin versi dystopia dari cerita anak-anak popular  ke dalam cerpen-cerpen ini. Dan saya sebagai pembaca jatuh cinta pada si gembel yang mahir mendongeng dan bercinta.

  1. Corat-Coret di Toilet
Seperti mengejek saya yang lebih sering ‘curhat’ di dinding media sosial dibanding berbicara dengan mereka yang bisa mendengarkan. Karena seringnya kadang yang mendengarkan belum tentu bisa dipercaya. Suka idenya. Salah satu cerpen  favorit saya.