Date a girl who reads

Date a girl who reads

Rabu, 10 Agustus 2011

Prince Charming Oh Prince Charming





Dear my Hunny-Bunny-Sweety-Lovey-Darling-Prince Charming



Aku selalu kesulitan untuk memulai sesuatu, tapi baiklah, akan aku mulai, ini lebih mirip sebuah pengakuan, yeah aku jatuh cinta padamu saat usiaku antara empat atau lima tahun, ketika aku pertama kali membaca dongeng Cinderella, alih-alih ingin menjadi Cinderella yang jelita, aku malah membencinya, alasannya karena kamu! Bukan Cinderella yang tepat untukmu, tapi aku! Anggap saja itu hanya pikiran idiot anak kecil.


Oh Prince Charming, Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkanmu? Haruskah aku melewati drama kehidupan menjadi tokoh menyedihkan yang disiksa ibu dan para saudari tiri? Ataukah aku perlu memakan apel beracun? Dan jangan bilang bahwa aku harus mencium berjuta-juta kodok terlebih dahulu sebelum akhirnya aku menemukanmu? Huh! Sulit sekali menemukan pangeran tampan sejatiku pada saat ini! 


Oh Prince Charming, jangan tanyakan kenapa aku mencintaimu? Okay, biar kuhitung alasannya! Yeah kamu tampan, pastinya, kamu punya tahta, (katakan, cewek bego mana yang nggak mau jadi putri dengan gaun indah, mahkota, dan para dayang?), kamu pandai berdansa, kamu punya kereta kuda, kamu punya istana, kamu punya pesona, kamu punya segalanya yang diinginkan oleh gadis manapun di seluruh dunia!Kamu begitu sempurna!


Oh Prince Charming, jangan katakan bahwa alasanku mencintaimu terdengar konyol dan dangkal, dan jangan berpikir bahwa aku cewek matrealistis munafik, tapi yeah kamu tahu kan bahwa seorang cewek itu bukan mencari pria yang tepat, mereka hanya mencari sosok yang sesuai kriterianya, begitu juga aku!


Oh Prince Charming, kamu pun tahu bahwa tugas seorang gadis adalah menjani mimpi dalam kehidupan nyata, dan dalam kehidupan nyata aku memimpikanmu terus-menerus, dan menunggu kedatanganmu, sempatku berpikir bahwa kamu adalah cowok yang duduk di bangku belakangku di sekolah yang membantuku mencatat catatan membosankan tapi sekarang dia terlalu jauh, karena telah pergi menembus awan. Atau adik kelasku yang berotak Einstein yang ternyata sampai detik ini takkan pernah memaafkanku karena kesalahan tololku (Please A*I, saat itu aku masih menjadi ababil, alias ABG labil!). Atau si anak basket payah yang ujung-ujungnya hanya menganggapku sebagai objek obsesif horny-nya, tidak lebih! Aku sempat menyangka bahwa kamu sahabat cowokku (aku terlalu bodoh kala itu, pada dasarnya cowok dan cewek tidak bisa bersahabat, lihat saja Peter Pan dan Tinkerbell, Tink cemburu berat pada saat Peter bersama Wendy), yeah aku bahkan pernah mengira bahwa kamu adalah si penghibur malam-malam insomniaku yang meninabobokan aku dengan lagu-lagu cinta via telepon di malam buta, tidak ternyata bukan juga, terakhir aku sempat menjatuhkan tahtamu pada Pangeran Prancisku, bersamanya, aku menjalani LDR yang menyiksa (BUKAN hanya Long Distance Relationship tapi Long Drama Relationship juga Long Desperate Relationship), sekarang . . .akhirnya kita sepakat menjalani HTS (Bukan Hubungan Tanpa Status tapi Hubungan Tanpa Selisih!). Aku tidak mau menyerah, hanya ingin bertanya, sebenarnya, hai Prince Charming-ku yang mulia, adakah kamu dalam diri setiap Pria? Ataukah hanya untuk Sang Cinderella? jangan biarkan aku percaya pada teori yang mengatakan bahwa Pria baik itu tak ada, jadi jangan hancurkan khayalanku, buatlah aku percaya bahwa kamu benar-benar ada, dan jika itu benar aku tahu bahwa pencarianku akan dirimu tak pernah sia-sia.

Love

Your Silly Drama Queen

Selasa, 12 Juli 2011

Rizha Je t'aime




Saya sengaja tidak ingin berbicara dengannya malam ini..
Saya ragu dengan perasaannya padaku.


Saya sengaja tidak ingin berbicara dengannya malam ini..
Saya ragu dengan perasaannya padaku.

Apa yang membawa saya ke negeri timur jauh ini hanya sebuah naluri, naluri untuk memahami ketidakselarasan yang tidak bisa aku pelajari di negeriku, negeri cinta dengan eiffel yang menjulang serupa tangga bulan. dan bila dalam perjalanan ini saya bertemu dengannya, itu merupakan ketidak sengajaan yang indah. melebihi indahnya langit malam Mumbai atau senja di New Delhi. Sekarang aku tidak ingin bercerita tentang Asia atau Eropa, tapi tentang Dia, gadis dari negeri sembilan Matahri, dengan bulan biru bersinar di matanya.
Saya bertemu dengannya ketika usia saya masih begitu muda, ketika di negeri sembilan matahari itu cinta masih jadi sebuah mainan dan perkenalan dunia, tapi bagiku seperti apa yang jadi budaya di negeriku, aku sudah begitu paham apa itu cinta. L.O.V.E is passion, L.O.V.E is life dan L.O.V.E is ourself. Jadi detik itu juga ketika bulan biru bersinar di retina matanya, aku bedoa pada Jesus : Jadikan dia takdirku.
Aku tidak paham, apa perasaannya sebesar perasaanku. Kenapa setiap apa yang dia lakukan selalu membuatku semakin khawatir saja. dengan jarak ribuan kilometer yang kini membentengi kami, aku semakin gila kalau harus mengingat dia bisa saja bertemu dengan orang lain yang bisa menjaganya di dekatnya. Aku hanya bisa memberinya kesungguhan, apa itu cukup? Setiap detik aku habiskan di sini, tapi hatiku tidak pernah di sini, dia mengembara ke negeri sembilan matahari, menawarkan kehangatan dan kenyamanan padamu. Sabarlah putri berdarah unguku, aku akan datang secepatnya untuk menggandeng tanganmu menuju altar suci yang akan mengabadikan kita dalam sebuah kereta yang sama.
Minggu, 11 Juli 2011
Aku meminum kaleng bir terakhirku, apa yang sering aku lihat di profile Social Networkingmu membuatku semakin “gila”, siapa dia? siapa mereka? kenapa aku tidak bisa seberuntung dia atau mereka, bisa menemanimu dengan jiwa dan raga. Apa kamu cukup hanya dengan “kata-kata”ku saja,, karena sekarang baru ini yang aku bisa. Nanti kalau aku sudah menyelesaikan semua di sini, aku kan membawamu ke negeri cinta, melewati transisi Spring, Summer, Autumn, dan Winter. Kita akan berjalan di sepanjang jalanan Paris, melihat keindahan Saint Etiene atau Marseille, atau mengunjungi kastil-kastil di Monaco.
Setidaknya, jaga separuh hatiku ini sampai aku datang, aku tidak mau kamu berbicara dengan orang lain ketika aku sedang berbicara denganmu, aku tidak mau kamu sedikitpun melihat laki-laki lain dengan perasaan simapati atau apapun, karena aku meminta penyerahan hatimu sebesar aku menyerahkan hatiku untukmu. Aku melakukan ini untuk memastikan tidak ada satu detikpun dalam hidupmu untuk pria lain selain aku, karena aku sangat yakin : Kamu adalah Tulang Rusukku. Kamu paham bukan Putri, aku tidak hanya mencintaimu, tetapi memujamu, dan aku pastikan bahwa tidak seorangpun yang memiliki perasaan sebesar ini padamu selain aku, bahkan untuk setengahnya.
Coffee shop ini tinggal berisi beberapa orang saja, aku nyalakan laptopku. Aku ragu apa harusnya aku menghubungimu, aku sendiri bimbang apa disana kamu menungguku. Sebuah pesan singkat masuk ke E-Mailku, ternyata dari kamu, isinya membuatku memutuskan untuk tidak tidur malam ini : Remon, Je t’aime.. .
Aku ragu, apa aku harus membalas pesanmu ini.. atau.. terbang ke negerimu dengan penerbangan pertama, dan menyelipkan cincin di jarimu sambil berkata, Rizha, Je t’aime..
New Delhi, 11 Juli 2011
*) Sedikitnya data teknis membuat penulis mengeksplor isi hati tokoh utama untuk dijadikan fokus cerita, cerita ini berdasarkan sebuah cerita nyata teman Kompasianer yang sedang berhubungan dengan “Paris Boy”. Hope you’re lucky to be happy with him :)


Tulisannya si Yudha Agustian partner in crime-ku yang akhirnya turut serta dalam membebaskanku dari si kompeni dalam kisah ini, hahaha,versi aslinya ada di sini http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/07/11/rizha-je-taime/