Date a girl who reads
Senin, 05 September 2011
Rabu, 10 Agustus 2011
Prince Charming Oh Prince Charming
Dear my Hunny-Bunny-Sweety-Lovey-Darling-Prince Charming
Aku selalu kesulitan untuk memulai
sesuatu, tapi baiklah, akan aku mulai, ini lebih mirip sebuah pengakuan, yeah
aku jatuh cinta padamu saat usiaku antara empat atau lima tahun, ketika aku
pertama kali membaca dongeng Cinderella, alih-alih ingin menjadi Cinderella
yang jelita, aku malah membencinya, alasannya karena kamu! Bukan Cinderella
yang tepat untukmu, tapi aku! Anggap saja itu hanya pikiran idiot anak kecil.
Oh Prince Charming, Apa yang harus aku
lakukan untuk bisa mendapatkanmu? Haruskah aku melewati drama kehidupan menjadi
tokoh menyedihkan yang disiksa ibu dan para saudari tiri? Ataukah aku perlu
memakan apel beracun? Dan jangan bilang bahwa aku harus mencium berjuta-juta
kodok terlebih dahulu sebelum akhirnya aku menemukanmu? Huh! Sulit sekali
menemukan pangeran tampan sejatiku pada saat ini!
Oh Prince Charming, jangan tanyakan
kenapa aku mencintaimu? Okay, biar kuhitung alasannya! Yeah kamu tampan,
pastinya, kamu punya tahta, (katakan, cewek bego mana yang nggak mau jadi putri
dengan gaun indah, mahkota, dan para dayang?), kamu pandai berdansa, kamu punya
kereta kuda, kamu punya istana, kamu punya pesona, kamu punya segalanya yang
diinginkan oleh gadis manapun di seluruh dunia!Kamu begitu sempurna!
Oh Prince Charming, jangan katakan
bahwa alasanku mencintaimu terdengar konyol dan dangkal, dan jangan berpikir
bahwa aku cewek matrealistis munafik, tapi yeah kamu tahu kan bahwa seorang
cewek itu bukan mencari pria yang tepat, mereka hanya mencari sosok yang sesuai
kriterianya, begitu juga aku!
Oh Prince Charming, kamu pun tahu
bahwa tugas seorang gadis adalah menjani mimpi dalam kehidupan nyata, dan dalam
kehidupan nyata aku memimpikanmu terus-menerus, dan menunggu kedatanganmu,
sempatku berpikir bahwa kamu adalah cowok yang duduk di bangku belakangku di
sekolah yang membantuku mencatat catatan membosankan tapi sekarang dia terlalu
jauh, karena telah pergi menembus awan. Atau adik kelasku yang berotak Einstein
yang ternyata sampai detik ini takkan pernah memaafkanku karena kesalahan
tololku (Please A*I, saat itu aku masih menjadi ababil, alias ABG labil!). Atau
si anak basket payah yang ujung-ujungnya hanya menganggapku sebagai objek
obsesif horny-nya, tidak lebih! Aku sempat menyangka bahwa kamu sahabat cowokku
(aku terlalu bodoh kala itu, pada dasarnya cowok dan cewek tidak bisa
bersahabat, lihat saja Peter Pan dan Tinkerbell, Tink cemburu berat pada saat
Peter bersama Wendy), yeah aku bahkan pernah mengira bahwa kamu adalah si
penghibur malam-malam insomniaku yang meninabobokan aku dengan lagu-lagu cinta
via telepon di malam buta, tidak ternyata bukan juga, terakhir aku sempat
menjatuhkan tahtamu pada Pangeran Prancisku, bersamanya, aku menjalani LDR yang
menyiksa (BUKAN hanya Long Distance Relationship tapi Long Drama Relationship
juga Long Desperate Relationship), sekarang . . .akhirnya kita sepakat
menjalani HTS (Bukan Hubungan Tanpa Status tapi Hubungan Tanpa Selisih!). Aku
tidak mau menyerah, hanya ingin bertanya, sebenarnya, hai Prince Charming-ku
yang mulia, adakah kamu dalam diri setiap Pria? Ataukah hanya untuk Sang
Cinderella? jangan biarkan aku percaya pada teori yang mengatakan bahwa Pria
baik itu tak ada, jadi jangan hancurkan khayalanku, buatlah aku percaya bahwa
kamu benar-benar ada, dan jika itu benar aku tahu bahwa pencarianku akan dirimu
tak pernah sia-sia.
Love
Your Silly Drama Queen
Jumat, 05 Agustus 2011
Sabtu, 23 Juli 2011
Selasa, 12 Juli 2011
Rizha Je t'aime
Saya
sengaja tidak ingin berbicara dengannya malam ini..
Saya ragu dengan perasaannya padaku.
Saya ragu dengan perasaannya padaku.
Saya
sengaja tidak ingin berbicara dengannya malam ini..
Saya ragu dengan perasaannya padaku.
Saya ragu dengan perasaannya padaku.
Apa yang membawa saya ke negeri timur jauh ini hanya sebuah
naluri, naluri untuk memahami ketidakselarasan yang tidak bisa aku pelajari di
negeriku, negeri cinta dengan eiffel yang menjulang serupa tangga bulan. dan
bila dalam perjalanan ini saya bertemu dengannya, itu merupakan ketidak
sengajaan yang indah. melebihi indahnya langit malam Mumbai atau senja di New
Delhi. Sekarang aku tidak ingin bercerita tentang Asia atau Eropa, tapi tentang
Dia, gadis dari negeri sembilan Matahri, dengan bulan biru bersinar di matanya.
Saya bertemu dengannya
ketika usia saya masih begitu muda, ketika di negeri sembilan matahari itu
cinta masih jadi sebuah mainan dan perkenalan dunia, tapi bagiku seperti apa
yang jadi budaya di negeriku, aku sudah begitu paham apa itu cinta. L.O.V.E is
passion, L.O.V.E is life dan L.O.V.E is ourself. Jadi detik itu juga ketika
bulan biru bersinar di retina matanya, aku bedoa pada Jesus : Jadikan dia
takdirku.
Aku tidak paham, apa
perasaannya sebesar perasaanku. Kenapa setiap apa yang dia lakukan selalu
membuatku semakin khawatir saja. dengan jarak ribuan kilometer yang kini
membentengi kami, aku semakin gila kalau harus mengingat dia bisa saja bertemu
dengan orang lain yang bisa menjaganya di dekatnya. Aku hanya bisa memberinya
kesungguhan, apa itu cukup? Setiap detik aku habiskan di sini, tapi hatiku
tidak pernah di sini, dia mengembara ke negeri sembilan matahari, menawarkan
kehangatan dan kenyamanan padamu. Sabarlah putri berdarah unguku, aku akan
datang secepatnya untuk menggandeng tanganmu menuju altar suci yang akan
mengabadikan kita dalam sebuah kereta yang sama.
Minggu, 11 Juli 2011
Aku meminum kaleng bir terakhirku, apa yang sering aku lihat di profile Social Networkingmu membuatku semakin “gila”, siapa dia? siapa mereka? kenapa aku tidak bisa seberuntung dia atau mereka, bisa menemanimu dengan jiwa dan raga. Apa kamu cukup hanya dengan “kata-kata”ku saja,, karena sekarang baru ini yang aku bisa. Nanti kalau aku sudah menyelesaikan semua di sini, aku kan membawamu ke negeri cinta, melewati transisi Spring, Summer, Autumn, dan Winter. Kita akan berjalan di sepanjang jalanan Paris, melihat keindahan Saint Etiene atau Marseille, atau mengunjungi kastil-kastil di Monaco.
Aku meminum kaleng bir terakhirku, apa yang sering aku lihat di profile Social Networkingmu membuatku semakin “gila”, siapa dia? siapa mereka? kenapa aku tidak bisa seberuntung dia atau mereka, bisa menemanimu dengan jiwa dan raga. Apa kamu cukup hanya dengan “kata-kata”ku saja,, karena sekarang baru ini yang aku bisa. Nanti kalau aku sudah menyelesaikan semua di sini, aku kan membawamu ke negeri cinta, melewati transisi Spring, Summer, Autumn, dan Winter. Kita akan berjalan di sepanjang jalanan Paris, melihat keindahan Saint Etiene atau Marseille, atau mengunjungi kastil-kastil di Monaco.
Setidaknya, jaga
separuh hatiku ini sampai aku datang, aku tidak mau kamu berbicara dengan orang
lain ketika aku sedang berbicara denganmu, aku tidak mau kamu sedikitpun
melihat laki-laki lain dengan perasaan simapati atau apapun, karena aku meminta
penyerahan hatimu sebesar aku menyerahkan hatiku untukmu. Aku melakukan ini untuk
memastikan tidak ada satu detikpun dalam hidupmu untuk pria lain selain aku,
karena aku sangat yakin : Kamu adalah Tulang Rusukku. Kamu paham bukan Putri,
aku tidak hanya mencintaimu, tetapi memujamu, dan aku pastikan bahwa tidak
seorangpun yang memiliki perasaan sebesar ini padamu selain aku, bahkan untuk
setengahnya.
Coffee shop ini
tinggal berisi beberapa orang saja, aku nyalakan laptopku. Aku ragu apa
harusnya aku menghubungimu, aku sendiri bimbang apa disana kamu menungguku.
Sebuah pesan singkat masuk ke E-Mailku, ternyata dari kamu, isinya membuatku
memutuskan untuk tidak tidur malam ini : Remon, Je t’aime.. .
Aku ragu, apa aku harus membalas pesanmu ini.. atau.. terbang ke negerimu dengan penerbangan pertama, dan menyelipkan cincin di jarimu sambil berkata, Rizha, Je t’aime..
Aku ragu, apa aku harus membalas pesanmu ini.. atau.. terbang ke negerimu dengan penerbangan pertama, dan menyelipkan cincin di jarimu sambil berkata, Rizha, Je t’aime..
New Delhi, 11 Juli
2011
*) Sedikitnya data
teknis membuat penulis mengeksplor isi hati tokoh utama untuk dijadikan fokus
cerita, cerita ini berdasarkan sebuah cerita nyata teman Kompasianer yang
sedang berhubungan dengan “Paris Boy”. Hope you’re lucky to be happy with him
:)
Tulisannya si Yudha Agustian partner in crime-ku yang akhirnya turut serta dalam membebaskanku dari si kompeni dalam kisah ini, hahaha,versi aslinya ada di sini http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/07/11/rizha-je-taime/
Langganan:
Postingan (Atom)
