Date a girl who reads

Date a girl who reads

Senin, 10 November 2014

Cerber: Saudara Sejiwa (4)




Mataram, akhir 2012- pertengahan 2013

Retta tak mengerti, mengapa rasa bersalah seolah menjadi penghuni tetap di setiap sudut hatinya. Dia juga sedang berada di Sumbawa Besar kala itu, dia pulang dan ketika Agit memintanya untuk bisa bertemu, mereka setidaknya bisa melepas kangen. Sayang, dia bahkan mengacuhkannya. Dan, sekarang pesan singkat Agit seolah memukulnya tepat di hati.
Seandainya waktu itu, aku hang outx sama km aja. Aku ga perlu ikutan ke P. Moyo ma Marsha& tmn2x. Ga perlu jd tengkar gini sama mb’Arika :’(

Cuma itu yang Retta dapatkan dari Agit, selebihnya Retta melihat sendiri bagaimana nama Agit ditulis dengan huruf kapital di Facebook Arika dengan kata-kata yang pastinya takkan ditulis oleh orang yang bermoral dan berotak normal. Arika bisa menjadi sangat jahat jika dia mau. Seberapapun kebaikan orang lain takkan lagi bisa diingatnya. Retta tahu beberapa kali Arika minggat ke rumah Agit dulu, pernah juga Arika seminggu penuh ‘mengamankan diri’ dari amukan keluarganya di kosan Agit. Retta tahu siapa Agit dan Arika dan dengan jelas bisa menentukan mana yang antagonis dan protagonis.
Selain itu Retta tahu betapa Marsha dan Agit tak pernah sejalan. Sebenarnya menghabiskan waktu bersama Marsha adalah cobaan besar bagi Agit— mereka bersaudara tapi satu-satunya yang membakar gairah diantara mereka berdua adalah persaingan, sibling rivalry diantara mereka sangatlah kuat. Sementara mau tak mau harus Retta harus mengakui bahwa hubungan antara dirinya dan Agit persis seperti pepatah dalam bahasa Sumbawa ‘Mana si tau sebarang kayu. Lamen toq senyaman ate. Ba nan si sanak parana.’ Yang berarti ‘Walau siapapun itu, orang sembarangan sekalipun. Kalau mampu membahagiakan dirimu. Sesungguhnya dialah saudaramu.’ Retta tak memiliki saudara perempuan dan Retta tahu dimana menemukan Agit ketika Retta membutuhkannya. Namun, dimana dia sekarang ketika Agit begitu membutuhkannya?
Retta ingin berada di sana, tapi apa daya Retta harus menyelesaikan sendiri masalahnya. Retta ingin seperti Agit menyimpan beban untuk ditanggungnya sendiri, bukankah memang lebih baik untuk berpura-pura bahagia daripada harus menceritakan pada dunia betapa kamu menderita. Retta tak bisa apa-apa sekarang ini, ada yang harus Retta selesaikan, ini menyangkut hidupnya dan masa depannya. Retta tak ingin menceritakan, karena menurutnya apa yang dihadapinya terlalu kelam untuk menjadi kenyataan.
Kehidupannya di tahun ini tak terlalu buruk, masih ada beberapa hal yang disyukurinya, dia akan mendapat pekerjaan baru. Dan juga Singapore-Malaysia menunggunya, dia akan menjadi duta budaya, dia akan menari di sana ikut serta dalam program pemerintah memperkenalkan kekayaan tanah kelahirannya dalam visit Lombok-Sumbawa. Ketika mendapat kabar bahagia itu, Retta merasa sangat beruntung tapi tak lama berubah menjadi nelangsa karena yang dia tahu ada hal yang lebih menyedihkan dibanding tak memiliki siapapun di saat kamu terpuruk, yaitu; ketika kamu begitu bahagia tapi tak ada sahabat perempuanmu yang akan ikut berbahagia bersamamu.

***
Seteluk, akhir 2012- pertengahan 2013
Seperti roda yang berputar lagi, episode kesepian dalam hidup Agit seolah terulang lagi. Dulu, tanpa Retta dia masih memiliki Arika, tapi Arika memusuhinya sekarang, karena cemburu buta. Lagipula, tak seluruhnya kesalahan Arika semata. Agit juga memiliki kesalahan yang sama besarnya.
Dia mengacuhkan Arika, menolak teleponnya, mengabaikan SMS-nya, bahkan permintaan maafnya. Agit hanya tak percaya lagi pada Arika. Agit terlampau kecewa, hingga pilihan bijak menurut Agit adalah mengabaikan dan menganggap Arika tak pernah ada dalam hidupnya. Sebuah SMS di pagi hari lebih setahun silam yang mengatakan bahwa Arika terlibat one night stand  dengan Devon membuatnya terluka. Terluka, karena ia telah memberikan kepercayaan yang besar pada Arika. Beberapa bulan sebelum ‘tragedi’ Agit memberikan ‘suaka’ kepada Arika, saat itu Arika berjanji untuk mengubah hidupnya lebih baik. Arika melanggar janjinya! Itu yang memberatkan Agit. Seandainya itu hanya menyangkut Arika, tapi tidak. Itu juga menyangkut Lovita, putri kecil milik Arika. Arika meninggalkan si kecil demi menyusul Devon ke Bali dan kembali lagi seperti Arika sebelumnya— si gadis manipulatif biang masalah.
Dengan kepalanya yang masih panas. Arika berkesimpulan bahwa apa yang terjadi dengan Agit, dikarenakan kecemburuan Agit padanya. Agit juga jatuh cinta kepada Devon, seperti dirinya. Namun, Agit tak membuka kesempatan bagi dirinya untuk menjelaskan kebenarannya, Agit membiarkan segalanya menjadi kesalahpahaman. Tidak jelas siapa yang diuntungkan atau dirugikan. Dan, mungkin memang seharusnya segala emosi, entah baik atau buruk harus dikatakan. Karena jika tidak, banyak cara menjadikannya sebagai kesedihan. Mengatakan apa yang hati rasakan memang tak pernah semudah membalikkan telapak tangan.
***
Seteluk, akhir 2012- pertengahan 2013

Agit masih menyimpan screen shoot dari pesan yang dikirim Devon padanya, sekarang sudah setahun lebih. Pengalaman itu sungguh traumatis buat Agit. Menukar persahabatan dengan permusuhan karena seorang pria? Agit tak bisa membayangkan, memang dulu, di jaman sekolah Agit pernah memiliki seperti ini, mantan pacarnya pacaran dengan temannya. Tapi, itu biasa saja, karena toh itu mantan. Sementara Agit dan Arika bagai saudara dan ini terjadi di saat usia mereka tak lagi muda, seharusnya mereka lebih dewasa. Peristiwa seperti ini seharusnya tak boleh terjadi. Agit ingat jelas isi pesan Devon yang terkirim di facebooknya.
12/3, 3:57am
Hey Brigitta, how’re you doing?
I talked to Arika yesterday and she told me that you’ve broken off contact with her. I am very sad about that. I would feel very sorry if my visit in Sumbawa would destroy the old friendship between you and Arika. Until now I was not aware that my visit had such an impact on you. I am sorry about any grief I may have caused. But I think all experiences are worthwhile. A crisis is always an opportunity to learn and grow and become wiser than before.
I know that you have a good heart. So if you acted unjustly towards Arika it must have been from desperation and not from malice. So I beg you let’s talk about this things and find reconciliation!
best wishes
Devon

Agit ingin percaya jika apa yang terjadi antara Arika dan Devon adalah reaksi kimia karena cinta. Walau cinta menurut Arika tak mungkin begitu adanya. Terjadi begitu, cepat, singkat dan sangat panas. Agit hanya menyangsikan, bahwa cinta bisa begitu membutakan, bisa membuat banyak kesalahan terjadi dengan mudahnya. Agit ingin tahu apakah cinta bisa seperti itu. Agit memang pernah jatuh cinta dan tak hanya sekali. Namun, reaksi cinta dalam diri Agit seperti mesin diesel, terlalu lama ‘panasnya’. Agit harus bersahabat dulu, bersama untuk beberapa waktu dan baru memutuskan apakah hatinya sudah diperbolehkan untuk berlabuh. Dalam cinta, Agit masih membiarkan polos dan sifar naifnya berlaku. Suatu hari nanti, Agit ingin tahu apakah cinta bisa terjadi seinstan dan segampang itu, agar Agit bisa memahami. Mengapa Arika mampu menukarnya dengan rasa benci.
Part 4
Denpasar, September-Oktober 2013
Retta merasakannya, kekosongan di dalam dirinya seperti lubang yang menganga, yang siap menelannya mentah-mentah. Dia berpikir bahwa hidup seharusnya tak mungkin bisa terasa begitu hampa.
Lelah, ketika dia berpikir dia sudah berusaha namun hasilnya sia-sia. Terlalu banyak tenaga yang menghilang begitu saja, tapi hasil tak didapatkannya. Menyesal, kenapa begitu banyak waktu yang dia buang dengan percuma di masa kuliah. Setidaknya sekarang lebih baik, berusaha menjalani usia dewasa, dua puluh tujuh tahun! Betapa dia merindukan menjadi gadis remaja, dia ingin tertawa karena ketika remaja dia begitu ingin menjadi anak-anak. Sementara ketika anak-anak dia begitu tak sabar untuk tumbuh dewasa. Keinginan dan kenyataan memang kadang tak sejalan.
Di saat seperti ini, seharusnya dia memiliki teman bicara, seseorang yang mengubah kecemasannya menjadi tawa. Secara energi, Retta bertenaga besi. Namun dia tahu, seseorang di sana bisa membuatnya menemukan kekuatan untuk menjadi lebih berani, Agit lah orangnya.
“Kamu selalu tahu, di mana bisa menemukanku ketika kamu butuh.” Ya, Retta tahu itu. Kata-kata yang selalu diucapkan Agit dulu, kini terdengar seperti mantera menenangkan di telinga Retta. Namun itu memiliki efek yang hanya bertahan beberapa nano detik, sesudahnya tiba-tiba saja rasa malu menjalari sekujur tubuhnya. Sungkan dan segan membuat Retta tak nyaman.
Seingat Retta, Agit selalu bisa memaafkan. Lagipula, dia tak melakukan kesalahan apapun, kecuali ... pengabaian. Bukankah pengabaian lebih buruk dari kebencian? Semoga saja semuanya belum berubah, semoga Agit masih seperti sedia kala.
***
Seteluk, September-Oktober 2013
Agit belajar mencurahkan seluruh cinta miliknya kepada apa dan siapapun yang menerimanya; pekerjaan dan juga hobinya. Itu hidupnya sekarang, belakangan makhluk hidup begitu mengecewakannya, tapi itu bukan hewan atau tumbuhan. Seandainya dia memiliki rumah pribadi, dia ingin memelihara kelinci atau hamster. Seandainya dia memiliki lahan, dia ingin memiliki taman bunga matahari.
Agit terlalu keras pada dirinya sendiri, dia membuat jadwal yang tak masuk akal. Bangun jam dua pagi, mengetik novel atau cerpennya hingga matahari menyapa, berangkat kerja hingga jam dua, jika tak ada kegiatan di sekolah dia akan menari Zumba di sore harinya. Malam hanya dinikmatinya hanya beberapa jam setelah matahari terbenam. Rutinitasnya benar-benar payah, dia seolah tak lagi tertarik dengan kehidupan bermasyarakat, interaksi sosialnya hanya di dunia maya, itupun cuma bentuk ocehan. Dia kembali menjadi si sinting yang menjadikan tembok facebook sebagai teman bicaranya.
“Aku harus kerja keras, ada dua adik laki-lakiku yang masih harus terus sekolah dan kuliah!” Itu jawaban Agit ketika keluarganya mempertanyakan alasan kenapa dia tak pulang di akhir pekan atau saat liburan. Dan tak ada yang berani menanyakan tentang kehidupan asmaranya, Agit berusaha untuk mematikan keinginannya memiliki relasi romantis. Agit perlu pertolongan, tapi dia begitu keras kepala.
Memang ada saat Agit ingin sejenak mengambil jeda tapi setiap kali Agit mencoba, ketakutan menyerangnya. Agit tak ingin lagi merawat rasa malas, menurutnya malas adalah umpan untuk kegagalan. Agit kadang menjadi tidak realistis, dia berharap bisa mencurangi si energi dan bernegosiasi dengan waktu. Agit lupa dia manusia biasa dan Agit bisa terbaring lemah dan menjadi tak berdaya.
Tak ada siapa-siapa, dan satu-satunya tempat yang bisa dia beritahu adalah kolom mungil yang menggodanya dengan pertanyaan; What’s on your mind? Rasa frustasi akhirnya membuat dia menulis kalimat yang ... setidaknya mampu mengembalikan miliknya yang hilang.
I really need my best friend right now. I've been acting like I'm okay, but I'm not :’(
***
Denpasar, Oktober 2013
Retta sudah tak tahan, rekan kerjanya sungguh menyebalkan! Resign lagi? Tak mungkin, dia butuh membiayai kehidupannya. Sekarang dia tengah training dan dia juga menjadi pendukung dalam event sebesar APEC karena perusahaannya sedang menjadi sponsor pendukung, memang pengaruhnya nyaris tak ada di sana tapi setidaknya dia harus menunjukkan loyalitasnya dan tak mungkin untuk kabur begitu saja. Menjadi wakil area Lombok Barat, Retta tak betah, teman timnya tak sejalan dengannya. Apalagi nanti untuk kerja lapangan, berkantor di mobil dan sepanjang jalan, memberi pelayanan hingga ke pelosok terdalam nantinya. Dengan rekan kerja seperti dua temannya. Retta harus makan hati.Tidak, terima kasih.

Beruntung Retta bertemu dengan wakil dari Sumbawa Barat yang tengah mengalami masalah, satu orang dari tim-nya akan resign sesudah event ini karena baru saja mendapat pekerjaan baru di sebuah Bank. Chauvinisme mau tak mau muncul dipermukaan. Solidaritas kedaerahan membuat wakil dari Sumbawa Barat merasa harus memperjuangkan nasib Retta. Kak Han dan kak Deni yang baru dikenal Retta itu mengajaknya bergabung di tim-nya. Retta tak keberatan, karena mungkin inilah jalannya untuk kembali bertemu Agit. Agit tinggal di Seteluk, Sumbawa Barat. Namun, Retta ragu, mungkinkah Agit tak menolaknya? Hingga status update terbaru Agit yang menguatkannya dan membulatkan tekadnya. Retta harus ada di sana segera, karena sekarang Agit butuh sahabatnya.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar