Date a girl who reads

Date a girl who reads

Rabu, 14 April 2021

[Ulasan] Buku Anak yang Wajib Dibacakan oleh Para Ibu

 


 

Keterangan Buku:

Judul: Kanguru Kecil

Penulis dan ilustrator:  Guido vab Genechten

Penerbit: Clavis Indonesia

ISBN:  978-602-51784-6-7

Soft cover

Rating: 4/5

Blurb:

Dunia ini besar…jauh, jauh lebih besar dari kantong ibu kanguru. Terapi, kanguru kecil lebih suka tinggal bersama ibunya, dimana dia melassa aman, hangat, dan mudah. Ibu kanguru mencoba untuk menunjukkan kanguru kecil semua yang ditawarkan kehidupan. Pada awalnya, sangat sulit, namun kemudian….

Sebuah buku cerita bergambar indah tentang melepaskan dengan cara yang Penuh kasih.

 

Review:

Setiap ibu yang membaca buku ini pasti akan terharu. Mata saya berkaca-kaca dan tenggorokan saya tercekat ketika saya menyelesaikan halaman akhir. Dan, ketika membacakan buku ini pada Idea, saya seperti dilimpahkan banyak kasih sayang, jadi saya membawa anak saya di pangkuan dan mendekapnya hangat.

 

Sebentar lagi, Idea akan disapih, kurang dua bulan lagi. Membayangkan bayi mungil saya kini akan menjadi bocah dua tahun yang sudah mampu mengambil air minumnya sendiri membuat saya terbawa perasaan. Bagaimana jika nanti saya tak lagi menjadi pusat semestanya? Seperti halnya ibu kanguru yang pasti berat melepas kanguru kecil pada dunia luas yang menawarkan banyak keindahan pula tantangan.

 

Jauh di lubuk hati ibu Kanguru pembaca akan tahu, pastilah berat melepas anaknya, walau kantongnyapun berat menahan bobot si kecil yang kian berat dan melelahkannya. Lagi pula di dalam kantong ibunya, kanguru kecil mendapatkan segalanya; perasaan nyaman dan lembutnya kasih sayang, kehangatan, ketenangan, rasa aman, hal-hal familiar bagi si kanguru kecil.

 

Itulah kenapa, walau dunia luas menawarkan berbagai hal menarik bagi kanguru kecil, berkali-kali pula kanguru kecil akan kembali pulang pada kantong ibunya.

 

Sebuah cerita memikat yang sarat makna kasih sayang.

 

Ilustrasinya mengagumkan, menggambarkan habitat asli alami keluarga kanguru. Ada kesan hangat dalam pilihan warnanya begitu juga sentuhan lembut yang akan sampai ke hati pembaca. Singkatnya ilustrasinya indah.

 

Tak banyak buku yang menawarkan paket lengkap seperti ini; keindahan ide cerita, rangkaian kalimat memikat, ilustrasi yang lembut dan hangat serta pesan yang sangat mendalam. Setiap Ibu dan anak akan merasa terhubung dengan cerita ini. Guido van Genechten telah membuktikan bahwa dia adalah penulis dan ilustrator yang luar biasa.

 

Saya percaya cerita ini akan tetap melekat di hati para ibu dan anak yang pada saatnya nanti akan saling melepaskan, demi kemandirian si anak, demi tanggung jawab orang tua untuk mengantarkan anak pada kehidupan yang sesungguhnya.

 

Setiap Ibu harus membacakan kisah ini untuk anak-anaknya.


[Ulasan] Kekuatan Super itu Berasal dari Dirimu!

 

SUPERFINN

Keterangan Buku:

Judul: Superfinn

Penulis:  Bianca Antonissen

Ilustrasi: Julie Mellan

Penerbit: Clavis Indonesia

ISBN: 978-602-52129-5-6

Soft cover

4/5

Blurb:

SuperFinn bisa melakukan apa saja; melompati parit, mengendarai sepeda lepas tangan, membuat pencakar langit (dan menghancurkannya). Dia dapat melakukan semuanya, selama dia memakai jubah supernya. Tanpa jubahnya, dia Hanya Finn biasa. Betulkah itu?

Sebuah kisah yang menginspirasi mengenai kepercayaan diri.

Untuk pahlawan berusia 4 tahun ke atas.

 

Review:

Kali ini kita berkenalan dengan bocah super bernama Finn. Dia berambut dan bermata cokelat, memiliki sahabat bernama SuperMara, dan yang pasti sehelai jubah hebat!

 

Dengan jubahnya, SuperFinn bisa melakukan hal-hal keren; melompati parit, mengendarai sepeda lepas tangan, bahkan membuat pencakar langit!

Lalu, bagaimana ya jika Finn tanpa jubahnya, apakah dia masih menjadi sang Super?

 

Saya suka sekali dengan cerita ini, Finn adalah anak yang aktif dari kebanyakan anak seusianya di jaman sekarang, yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget. Finn bermain di alam, berinteraksi dengan saudara dan teman-temannya, serta melakukan kegiatan fisik yang bermanfaat.

 

Dari cerita Finn, kita jadi tahu bahwa berkegiatan di luar ruangan sangat menyenangkan.

 

Selain itu, tentu saja ada pelajaran baik yang diberikan penulis yang menginspirasi pembacanya. Apa ya kira-kira?

 

Yups, tentang kepercayaan diri.

Apakah kekuatan kita tergantung benda yang kita miliki atau berasal dari dalam diri.

 

Ilustrasinya keren, banyak ruang untuk orang tua mengeksplorasi cerita. Selain itu, gambarnya berwarna cerah tapi tetap memiliki sisi lembut, yang memanjakan mata pembaca. Apalagi bukunya yang berukuran besar dengan lembaran kertas tebal serta jilidan yang kuat menjadikan anak dan orang tua pasti akan menikmati pengalaman membaca bersama dengan nyaman dan aman.

 

Buku ini diperuntukkan bagi pahlawan kecil pemberani yang percaya diri, baik yang berjubah atau tanpa jubah.

 

Buat mommies di luar sana yang ingin menumbuhkan anak-anak pemberani dan percaya diri, yuk bacain putra dan putrinya buku bagus ini.


[Ulasan] Karena Nakal Bisa Jadi Bagian dari Belajar

 

Saya Nakal


Keterangan Buku:

Judul: Saya Nakal

Penulis:  Ilona Lammertink 

Ilustrasi: Els Vermeltfoort

Penerbit: Clavis Indonesia

Tema: Imajinasi

Jumlah Halaman: 32 Halaman

Rating: 4/5

Blurb:

Karli adalah seorang anak perempuan yang ceria dan penuh semangat. Terkadang dia melakukan berbagai hal yang tidak diizinkan. Mengambil permen dari lemari nenek, mencabut wortel dari tanah tanpa izin, dan ‘membantu’ tukang cat mewarnai dinding gudang. Dan setiap kali melakukannya, Karli mengatakan itu bukan perbuatannya, terapi perbuatan “Karli yang nakal”.

Review:

Jatuh cinta pada pandangan pertama pada tokoh Karli. Lihat saja tampangnya di cover! Campuran ekspresi lucu dan berpikiran jauh.

Apa sih yang ada dalam pikiran Karli?

Yuk baca dan cari tahu, hihi.

Karli ini bocah perempuan yang imajinatif, quirky, tapi loveable. Ada
Aaajaaaaa ide jail tapi cemerlang yang mampir di kepalanya. Niat Karli sih tidak nakal, tapi apa yang diperbuatnya menurut orang lain adalah kenakalan, dan dengan polos Karli akan menjawab, bukan dia yang melakukannya. Tapi Karli yang nakal!

Siapa sih Karli yang nakal ini?
Apa selain “nakal” Karli ini juga suka “berbohong” ?

Buku ini untuk anak 4+ tapi sebagai orang dewasa, saya sungguh menikmatinya. Jadi maafkan Mama yang bersifat egois nak, karena Mama seolah membaca untuk diri sendiri. Sangat terhibur dan dapat pelajaran baru dari cerita Karli ini, tentang teman imajinasi yang dapat mengembangkan hati nurani.

Suka sekali dengan ide yang disampaikan ilustratornya, bagaimana Karli yang nakal digambarkan sebagai bayangan dengan ekspresi yang jailnya juara! Gambar-gambarnya seru dan rasa lugunya anak-anak terasa sungguh-sungguh sampai ke pembaca yang di saya pribadi dampaknya adalah kembali memutar kenakalan jaman anak-anak dalam kenangan.

Buku ini bagus buat anak-anak dan menyenangkan untuk orang dewasa yang ingin bernostalgia. Tampilan buku yang besar dengan kertas tebal, membuat buku ini bisa dinikmati bersama-sama. Sangat cocok untuk kegiatan membaca anak dan orang tua.

Hebatnya si penulis, yaitu bisa menutup kisah ini secara bijaksana, melalui kesadaran Karli sendiri.

Di masa kecil kita harus mengakui bahwa “Saya Nakal” agar kelak ketika dewasa, kita bisa belajar dari kenakalan di masa anak-anak.

Sebuah buku penting yang baik untuk dimiliki.

 


Selasa, 15 September 2020

Sebuah Surat untuk Idea: Belajar, Beradaptasi, Bersahabat, dan Bertumbuh Bersama Buku-Buku GPU

 

Walau bukan buku anak-anak, tapi Idea paling suka dibacakan buku ini.

Dear Idea,

            Selamat Hari Buku Sedunial, sayang!

            Semoga buku-buku yang kita baca, membawa manfaat dan kebaikan di dalam kehidupan kita. Seperti doa yang Mama sematkan pada namamu, Pramaqra Idea Medhavi Sudiroh. Seorang pecinta baca yang memiliki gagasan besar, putranya pak Iswanto Sudiroh. Jangan heran, kenapa sejak dalam kandungan Idea sudah Mama bacakan serial Harry Potter di sepanjang kehamilan dan The Little Prince, jadi buku yang paling sering Mama bacakan, berulang-ulang. Mama ingin sekali bisa Idea memetik manfaat dari membaca yang sudah Mama rasakan. Membaca menyembuhkan Mama, membaca membuat Mama cinta menulis, Membaca membuat Mama memiliki sahabat paling sejati. Dengan membaca, Mama dapat banyak belajar, mampu beradaptasi, menciptakan persahabatan, dan tumbuh mewujudkan apa yang sebelumnya hanyalah mimpi.

Harapan Mama, di masa depan Idea akan membaca tulisan yang Mama tujukan untuk Idea, yang secara khusus Mama tuliskan, enam belas hari sebelum Idea berulang tahun yang ke-dua, yang bertepatan dengan Hari Ibu Internasional nanti. Surat ini akan menceritakan tentang gadis kecil bertahun-tahun lalu, yang saat ini Idea panggil dengan sebutan Mama, yang seandainya dulu tak bertemu dengan buku, entah apa Idea akan pernah bertemu dengannya. Ketahuilah nak, menulis adalah salah satu cara mengabadikan sebuah kisah, akan tetapi, siapa saja tak bisa menulis dengan baik apabila tak pernah membaca buku-buku terbaik. Beruntung, Mama bertumbuh dekat dengan buku, dan di hari-hari terburuk Mama di masa lalu, bukulah sumber penghiburan Mamamu.

Sedikit Mama ceritakan tentang hari-hari saat ini. Kita semua terjebak dalam Pandemi Covid-19 yang memaksa kita beradaptasi dengan cara yang tak kita inginkan seandainya kita memiliki pilihan lain. Kita kesulitan bertemu dengan orang-orang yang kita cintai, bahkan Lebaran tahun ini, lagi-lagi harapan untuk bertemu Ni’, Aci, dan Ji serta keluarga lainnya terasa seperti mimpi. Memang teknologi memberi solusi tapi temu dan jumpa, pelukan hangat, kecupan akrab, obrolan tanpa jeda serta gelak tawa bahagia, sulit untuk dilakukan lewat perantara tak peduli secanggih apapun dia.

Kita dipaksa berdamai dengan keadaan yang awalnya tak nyaman. Selalu begitu hingga nantinya kita terbiasa, segala sesuatu pasti berubah, kita beradaptasi atau dikalahkan keadaan. Hidup yang kita hadapi ini adalah serangkaian hal yang seakan  mudah menguap, serba tidak pasti, sangat kompleks dan juga ambigu. Kita perlu mempersiapkan diri, belajar banyak hal. Mama selalu percaya belajar dari buku masih dan selalu menjadi cara terbaik.

Dengan buku kita bisa melintasi ruang dan waktu. Berjumpa dengan banyak orang, beraneka karakternya. Belajar dari pengalamannya. Mencicipi kehidupannya. Buku seperti kehidupan portable mini. Seperti pensieve. Seperti mimpi yang bisa dimasuki. Mama sungguh jatuh cinta pada buku-buku dan berterima kasih atas banyaknya pelajaran dan pengalaman yang Mama dapatkan dari lembar-lembarnya.

Sungguh berbahagia, masa kecil yang dihabiskan dengan buku. Mama terlalu hiperaktif; berlarian, melompat, berbicara tanpa henti. Membuat Aci dan Ni kepayahan, belum lagi Ji, om Enggenk, dan Om Pujjar masih kecil-kecil dan memiliki masalah hiperaktif yang sama. Untunglah Aci membawakan buku-buku. Dengan buku Mama akan diam tanpa diminta. Terpesona dengan seri Pustaka Kecil. Aneka cerita Disney. Buku-buku Beatrix Potter tersayang, tentu saja Mama takkan lupa dengan Seri Favorite Mama, Seri Kumbang Enid Blyton. Sopan santun lebih banyak Mama dapatkan dari Enid Blyton dibanding nasehat yang diteriakan orang-orang dewasa di sekitar Mama di masa kecil.

Idea anak yang beruntung, sejak Mama mendapat kabar gembira yang ditandai dua garis merah di suatu pagi. Mama mulai mengumpulkan buku-buku tersebut untuk Idea. Bukti betapa Mama berharap Idea juga akan mengalamai pengalaman membaca yang menginspirasi seperti yang pernah Mama rasakan di masa lalu.

Beralih ke masa remaja, serangan masa remaja seperti hantaman bludger. Dan buku seperti pasangan beater si kembar Weasley yang tangguh. Mama takkan melupakan hari-hari buruk tersebut. Masa SMP sungguh kurang menyenangkan bagi Mama yang berjiwa bebas, imajinatif, dan easy going terjebak dalam kelas yang diisi oleh siswa-siswi terpilih dengan kecerdasan di atas rata-rata itu membuka lebih banyak persaingan alih-alih kolaborasi. Walau jelas mereka teman-teman yang baik dan Mama menyayangi mereka, tapi Mama tak memiliki motivasi belajar yang baik selama di sana. Ibarat topi seleksi salah meneriakan nama asrama, Mama terlalu Gryffindor untuk ditempatkan di Ravenclaw. Itu titik dimana Mama merasa paling payah sedunia. Walau telah mencoba belajar dengan giat tapi hasilnya belum cukup. Belajar tak lagi menjadi kegiatan yang menyenangkan. Padahal sebelumnya Mama sangat menikmatinya. Sekolah lebih terasa seperti Azkaban.



Tegang sepanjang hari selama belajar di kelas membuat keadaan memburuk. Ditambah ketika insiden jatuh di lapangan olahraga malah berakibat fatal. Syaraf leher Mama terjepit yang membuat kepercayaan diri jatuh ke titik terendah. Berasa seperti robot yang kesulitan menggerakan kepala hingga ke bagian pinggang. Di Jam istirahat di sekolah, Mama menghabiskan waktu untuk terapi ke Rumah Sakit. Episode hidup yang terlalu sulit dan sakit hingga pernah berpikir seandainya mungkin, ingin sekali  disambar cahaya hijau Avada Kedavra. Kesepian karena teman-teman sekolah terasa kian jauh, tapi Hogwarts terbuka lebar untuk Mama. Persahabatan dari The Golden Trio mengobati Mama. Sungguh benar adanya, bahwa bersama buku kita tak pernah sendirian. Terinspirasi betapa menariknya kehidupan sekolah di Hogwarts tak sulit memutuskan bahwa kelak Mama akan mengikuti jejak Minerva Mc Gonagall menjadi seorang guru. Harry Potter menemani Mama dari beradaptasi hingga meraih mimpi.

Jangan khawatir sayang, Tiga seri Harry Potter ilustrasi telah menjadi milik Idea dan empat seri lainnya untuk melengkapi, serta Harry Potter dan Si Anak Terkutuk. Jangan lupakan Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita, Hewan-Hewan Fantastis dan Dimana Mereka Ditemukan, tak ketinggalan,  pidato inspiratif JK Rowling dalam The Very Good Lives. Bahkan sejak di kandungan Mama telah membacakannya untuk Idea. Idea harus tahu, untuk memperingati hari-hari menyedihkan Mama, setiap tahun Mama akan reread Harry Potter untuk mengabadikan kenangan.

Terlalu banyak pelajaran baik yang Mama dapatkan di dalam buku-buku ini. Jika sebelumnya Mama mendapat pelajaran sebagai remaja yang dalam fase transisi, setelah menjadi Ibu Mama memandang buku seri Harry Potter ini seakan buku parenting. Ternyata, adaptasi tersulit dan terhebat  adalah beradaptasi menjadi seorang Ibu. Dimulai dari Mama belajar dari kisah menyedihkan Merope Gaunt agar jangan sampai jatuh ke pelukan cinta yang obsesif. Beruntung Mama bertemu Bapakmu dengan tampang seperti Sirius Black (sebelum masuk ke Azkaban, tentunya) tapi memiliki karakter seperti Remus Lupin (ketika tidak dalam periode bulan purnama) Mama mendapat banyak pelajaran jadi ibu dari cinta Lily untuk Harry, serta cinta Molly bahkan Narcissa. Cinta ibulah yang mampu menyelamatkan anak-anaknya.  Semoga Mama bisa menjadi ibu terbaik seperti mereka untuk Idea. Belajar tentang cinta dari buku, sungguh sangatlah indah, apalagi bertumbuh menjadi seorang ibu. Betapa buku-buku itu sangat membantu. 

Sulit sekali membayangkan akan seperti apa hidup Mama jika tidak membaca buku-buku tersebut. Barangkali akan jauh dari menyenangkan. Buku-buku tersebut memberi banyak pelajaran.  Sekarang Mama, masih dan terus membaca buku-buku terbaik yang bisa Mama dapatkan agar kelak ketika waktunya, Idea akan menemukan mereka di rak buku kita. Akan ada waktunya kita mendiskusikan buku-buku itu atau bahkan berdebat karenanya. Tak sabar rasanya menunggu waktu itu tiba.



Nak, ada banyak buku baru yang belum terbaca, semoga kita memiliki waktu dan kesempatan untuk membacanya semua agar kita bisa belajar, mampu beradaptasi, bersahabat dan bertumbuh. Nak, mari kita berucap walau sedikit terlambat, "selamat Ulang Tahun Gramedia Pustaka Utama yang ke-47 terima kasih untuk Gramedia Pustaka Utama untuk buku-buku hebatnya, yang memberi banyak pelajaran untuk kehidupan kita. Sukses dan tetaplah menjadi yang utama di hati para pembaca pecintanya GPU yang terhebat!💗" .

Semoga Idea dimasa depannya kelak akan memetik pelajaran yang banyak seperti yang Mama dapatkan selama ini dari buku-buku terbaik Gramedia Pustaka Utama. 

 

Salam literasi,

 

Mama dan rekan membaca Idea

 

*)Surat ini terinspirasi dari postingan di Instagram, foto Idea tentang Hari Buku Sedunia setahun lalu.

 

Senin, 02 September 2019

[Review] Harry Potter dan Si Anak Terkutuk: Terkutuklah Dia yang Ingin Mengubah Masa Lalu



Data Buku:

Judul: Harry Potter dan Si Anak Terkutuk
Penulis: J.K Rowling, John Tiffany, & Jack Thorne
Alih Bahasa: Rosi L. Simamora
Editor: Nadira Yasmine
Gramedia Pustaka Utama
🌟4/5
📆 1-3 September 2019 


Wara

Menjadi Harry Potter memang sulit dan sekarang pun tidak lebih mudah ketika ia menjadi pegawai Kementerian Sihir yang kelelahan, suami, dan ayah tiga anak usia sekolah.

Sementara Harry berjuang menghadapi masa lalu yang mengikutinya, putra bungsunya, Albus, harus berjuang menghadapi beban warisan keluarga yang tak pernah ia inginkan. Ketika masa lalu dan masa sekarang melebur, ayah dan anak pun mengetahui fakta yang tidak menyenangkan: terkadang kegelapan datang dari tempat-tempat yang tak terduga.

Berdasarkan cerita asli baru karya J.K. Rowling, John Tiffany, dan Jack Thorne, naskah untuk Harry Potter dan si Anak Terkutuk aslinya dirilis sebagai “edisi latihan khusus” bersama pementasan perdana di West End London pada musim panas 2016.

Drama ini mendapat ulasan positif dari para penonton dan kritikus teater, sementara naskahnya segera menjadi bestseller global. Naskah definitif dan final ini berisi dialog drama, juga materi tambahan.


Resensi:




Beruntung, saya terlambat membaca buku ini dan adalah saat yang tepat ketika membaca buku ini ketika saya baru saja menyandang status sebagai orangtua agar saya lebih memahami sudut pandang Harry, bocah lelaki, yang bersamanya saya sebagai pembaca seakan tumbuh dan melewati masa remaja. "Albus Severus, kau dinamakan seperti dua kepala sekolah Hogwarts. Salah satunya adalah Slytherin dan dia adalah orang paling berani yang pernah kutemui." Saya ingin membuka ulasan ini dengan apa yang Harry katakan untuk menenangkan kekhawatiran putranya jikalau ia terseleksi ke Slytherin alih-alih Gryffindor. Sedari awal seakan dengan tanpa sengaja dititupi, nampaknya, kisah ini adalah imajinasi terliar para pembaca yang ingin penulis puaskan. 

Senin, 26 Agustus 2019

Yuk, Berperan dalam Membudayakan Literasi!

Sumber: Suara Merdeka

Sepertinya, saya adalah manusia yang beruntung yang menjalani masa kanak-kanak hingga menjelang remaja di kota kecil bernama Sumbawa Besar di akhir tahun 90-an hingga awal 2000-an. Segala yang saya butuhkan untuk mempersiapkan masa depan, saya peroleh dengan cara menyenangkan dan penuh kasih sayang.

Literasi Kewargaan: lomba pidato Tenaga Medis Cilik yang saya ikuti semasa kanak-kanak
Lebih dari dua puluh tahun lalu, dari keluarga dan masyarakat di sekitar tempat tinggal saya telah ‘mempersiapkan’ saya untuk menguasai empat keterampilan abad 21;  keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, komunikasi, berkolaborasi dan kreatif untuk menciptakan inovasi, tanpa terasa seperti sebuah upaya yang diharuskan, tanpa disadari, malah lebih menyerupai sebuah perayaan yang kini saya  kenang sebagai pengalaman menyenangkan.
Saya masih ingat reuni para sepupu di rumah Ni’ (nenek) di setiap liburan kenaikan kelas. Kami berkumpul untuk menghabiskan masa liburan bersama, karena beberapa sepupu saya tinggal di beberapa kota berbeda. Selalu menyenangkan memiliki waktu yang sepanjang hari yang dihabiskan untuk bermain Monopoli, ABC 5 Dasar, Ular Tangga, Cerdas Cermat isi buku RPUL-RPAL, Benteng hingga Gobak Sodor, lalu di malam hari kami akan bertukar cerita dan pengalaman di sekolah juga mendengar sejarah keluarga, cerita kenangan-kenangan terbaik keluarga sambil membuka album foto dan memutar kenangan, serta dongeng sebelum tidur yang dituturkan Ni’atau cerita-cerita pendek yang dibacakan om atau tante dari majalah Bobo. Di akhir masa liburan, kami akan saling bertukar buku, ada buku-buku pelajaran yang saling diwariskan, ada majalah yang telah terbaca yang tak dibawa pulang kembali, ada komik Jepang, juga novel petualangan. Beranjak remaja, dengan adik dan para sepupu inilah kami mulai menghabiskan waktu di warnet, hingga era smart phone dan media sosial saat ini bisa mempererat silaturrahim. Satu hal terbaik, internet adalah salah satu media belajar favorite kami. 

  Literasi Digital: Adik saya Pujia Muksita memanfaatkan video Youtube untuk membaca nyaring (read a loud)

Senin, 19 Agustus 2019

[Cerpen] Gadis Kesayangan Sang Pecinta Buku



Suatu senja di kota Sumbawa Besar, seorang gadis pulang kepada kenangan masa kecilnya. Gadis itu bernama Gadis. Dulu, di sinilah dia menghabiskan masa kanak-kanaknya yang penuh dengan cerita manis. Namun, ketika dia masuk melalui gerbang kayu lapuk itu, yang dia tahu bahwa hatinya remuk. Ketika pintu diketuk takkan lagi ada yang menyahut. Ketika dia mengucap salam, takkan ada lagi ayahnya yang dengan segera datang menyambut. Pulang, hanya untuk mengenang hal-hal indah yang telah hilang.
***
                "Jika kamu melangkah pergi artinya kamu tak boleh kembali … " Ancaman dari ayahnya tak mengurungkan niatnya untuk mengejar cita-cita. Selepas SMA dia hanya ingin menuruti mimpinya. Mimpi sangatlah egois. Mimpinyalah yang membuat dirinya berubah menjadi anak sadis yang meninggalkan cerita miris, karena kesalahannyalah Ayahnya meninggal dengan tragis.
                Menurut Gadis, kesepian dan kekecewaan membuat ayahnya kehilangan harapan hidupnya. Ketika istrinya meninggal, dia masih memiliki anak gadisnya. Ketika anak gadisnya pergi, yang dia ketahui bahwa dia tak cukup berharga untuk membuat orang-orang yang dicintainya tetap tinggal bersamanya.
                Anak perempuannya memang berkemauan keras. Kebahagiaan baginya tak cukup hanya dengan apa yang mampu pria itu bawa pulang ke rumah. Pria itu penuh cinta, hanya saja dia tak memiliki cukup rupiah untuk membeli berbagai keindahan dunia. Sepotong roti dan secangkir kopi pahit setiap pagi membuat putrinya muak. Gadis itu menginginkan roti dengan keju atau secangkir cokelat panas. Anak perempuannya bosan untuk kado buku di setiap akhir pekan. Kadang sesekali dia ingin hadiah bandul berbentuk hati  yang akan membuatnya terlihat menawan. Bagaimanapun, dia anak perempuan.
***