Date a girl who reads

Date a girl who reads

Dara Getting Married







Aku pernah menikah, bukan hanya sekali,tapi berkali-kali, di halaman belakang rumah dengan sepupu cowok yang akan bersungut-sungut karena di paksa tersenyum dan menggandeng tanganku. Ada banyak gelembung balon yang ditiupkan oleh bibir-bibir mungil penuh tawa yang memperlihatkan gigi bolong karena baru tanggal atau karena kebanyakan makan permen, aku memakai gaun ulang tahun, aku merasa seperti putri dengan gaun indah berhias renda dan bunga-bunga, rambutku dihiasi mahkota bunga, teman-temanku akan bertepuk tangan dan menyenandungkan” deng. . . deng . . . .deng. . .  deng” dengan irama yang tidak merdu dan jauh dari kompak, lalu confetti akan dihamburkan ke udara, kami akan bersenang-senang dengan berdansa diiringi lagu dari kaset pita.
Rasanya lucu dan menyenangkan. Aku paling menyukai bagian, saat aneka cookies, coklat, juga Chiki disajikan dalam piring kertas yang diambil diam-diam oleh kakakku Jelly si Jelita dari dapur dan kami minum sirup Orange yang sangat manis, di bagian ini sepupuku yang cemberut ketika menggandeng tanganku akan mengambil lebih banyak makanan dan minuman, itu bayaran untuk pengorbanannya sebagai pengantin laki-laki yang merana karena dia berada bawah paksaan segerombol gadis kecil yang tergila-gila dengan upacara perkawinan.
Kurasa impian para gadis kecil adalah menjadi pengantin yang cantik ketika mereka dewasa nanti, begitu juga aku, menurutku  pesta pernikahan adalah hal yang paling romantis yang bisa terjadi di dunia ini, ada banyak cinta dan perasaan yang menyenangkan di sana. Dulu aku selalu bermimpi tentang pesta pernikahanku yang sangat indah, aku ingin menikah di atas balon udara, seperti di drama-drama romantis, aku ingin menikahi pria yang tepat, pria yang benar-benar jatuh cinta padaku dan aku juga jatuh cinta padanya dengan sepenuh hatiku.
Dia pria yang pernah kutemukan beberapa tahun yang lalu, pria yang punya senyum manis khas dengan belahan dagu yang terlihat, dan mata yang berbinar indah, pria itu…ahahahahaha, bolehkah aku menertawakan kebodohanku? Pria itu, atau lebih baik aku menyebutnya, cowok itu, aku mengenalnya ketika aku baru saja memasuki masa puber, dia benar-benar cowok impianku, karena dia memiliki wajah yang nyaris mirip dengan tokoh komik favoritku,bukan hanya itu, tapi dia juga mau mencontekkanku PR-nya setiap pagi sebelum kelas di mulai, kadang dia juga menuliskan catatan jika aku tidak masuk kelas karena satpam mengusirku pulang gara-gara aku telat, dia juga akan menemaniku di jam istirahat di ruang seni untuk berlatih menari, dia bahkan mau mendengaranku mengoceh tentang berbagai hal yang menurutku bukan hal yang ingin di dengarkan cowok, dia orang yang tepat, menurutku, tapi kurasa aku bukan orang yang tepat untuknya, karena yeah. . . dia jatuh cinta setengah mati pada Jelly si Jelita, kakakku yang memang cantik jelita, wajahnya memang secantik namanya, Jelita, huh Si JErawat LIma juTA itu, aku menangis seharian hari itu, hari ketika si cowok yang bernama. . . .arrrrrgggghhhhht aku marah ketika mengingatnya, dia menghancurkan hatiku, dia mendekatiku hanya untuk mengetahui segala sesuatu tentang kakakku, dia hanya memanfaatkan aku, tapi hal terbaiknya adalah dia tidak pernah tau bahwa dia pernah memakai tuxedo dan berdansa di bawah sinar bulan denganku dalam khayalan romantisku.
Tok. . . tok. . . tok . . . segera setelah itu kepala berhias tiara muncul dari balik pintu, “hey aku yang akan menikah, bukan kamu!!!” Ingin ku teriak dan merebut tiara itu dari kepalanya lalu kujambak sedikit rambutnya, tapi setengah jam lagi aku akan menikah dan sudah seharusnya aku bersikap dewasa, dengan cengar-cengir Poppy akhirnya mencabut tiara itu dari kepalanya dan memasangkannya di rambutku yang sudah di tata, dengan hati-hati.
“Gue nggak nyangka kamu secantik ini” Poppy berkata dengan tulus, seharusnya pujian itu takkan pernah terdengar dari mulut seorang Poppy, mungkin kali ini pengecualian, karena ini hari istimewaku.”Gue happy buat elo!” air matanya berlinang, ya Tuhan haruskah dia terharu seperti ini?
“Pops” aku memutar bola mataku “jangan bilang elo terharu! Ya ampun ini konyol! Aku akan menikah, ayo berpesta! Elo tau kan ini impian gue!M-E-N-I-K-A-H!!!okay?jangan nyebelin deh!katanya elo happy tapi kok nangis?” Aku mencabut tissue dengan segera dan hati-hati melap daerah matanya yang dihiasi eye liner yang agak meleleh sekarang. Poppy lalu memelukku dan berbisik “Hope you happily ever after” dan dia mencium pipiku, aku merajuk dan pura-pura melap pipiku gara-gara ciumannya.
“Tersenyumlah hai dara, ceriakan dunia!” Poppy mulai menggodaku dengan menyanyikan lagu Jeng Dara-nya Club 80’s. Aku tau maksudnya, itu membuatku mengingat si Kiky, tetangga sebelah, yang naksir berat padaku, dan yeah kita pernah mencoba pacaran, cuma sampai dua bulan, ternyata dia cuma cocoknya jadi tetangga doank.
“Udah deh! Jangan ingatin gue ma Kiky, konyol tau, kan nggak seru kalo gue cuma pindah ke rumah sebelah dan jadi menantunya tante sebelah, huh! Nggak kebayang, kalo tengkar si Kiky nyaris tanpa pengorbanan buat bujuk gue balik pulang ke rumahnya, tinggal lompat tembok doank.” Aku memutar diri di depan cermin sekali lagi,
“Dan yang pasti Papanya akan nyanyiin kamu tiap pagi, dara manisku kau selalu di dalam impianku, dara manisku kau menjadi pujaanku selalu . . . hahahahahaha”
“Pops, yang ada malah mamanya bakal jealous berat, taulah papanya si Kiky suka centil, belum lagi mamanya suka cemburuan nggak jelas, huh, bakal jadi keluarga bencana deh kita!” aku mengikik, rasanya bakal lucu dan berwarna seandainya aku bagian dari mereka, kutatap jendela kamarku dan kulihat jendela kamar sebelah, dulu aku dan Kiky sering lempar-lemparan pesan cinta lewat jendela, hehehe jaman masih SMA dulu.
“Ciiiiiyyyyeeeeeee yang bakal jadi nyonya Dudidudidamdamdudidam,hehehehehe” Poppy menggodaku lagi.
“Elo mah udah kayak papanya si Kiky yang hobi nyanyi, nggak nyangka ya gue akhirnya kawin sama si Dudy, elo masih ingat kan ketika gue pulang marah-marah gara-gara sekolahan kita kalah cerdas cermat, itu kan gara-gara si Dudi yang merebut angka terakhir, gue cuma telat sebentar doank dari dia nggak lebih dari satu nano detik buat mencet bel, di SMP ketemu lagi dan kita bener-bener berbanding terbalik si Dudi jadi juara umum sekolah, nah gue rakyat jelatanya sekolah, untungnya SMA kita beda, kalo nggak sumpah bosen banget gue, taunya sekarang, huh, gue ketemu dia lagi, Dudi bakal jadi pria yang beruntung karena ngedapetin gue, nah gue yang nggak beruntung karena nggak ngedapetin dia!” Aneh karena kata-kata itu keluar dari mulut seorang calon pengantin, kapan sih aku bakal dewasa?
“Tapi paling nggak kan akhirnya cita-cita elo tercapai, jadi ibu dokter, ahahaha, nggak bisa jadi dokter beneran, jadi istri dokterpun jadi.”
“Huh! Payah! Trus si Dudi jadi bapak guru TK dong?” aku merenggut.
“Dara, gue bangga sama elo!”Kali ini Poppy terdengar serius.
“Ini tugas Pops, dan dalam hidup kita mesti ngorbanin sesuatu kan?” aku memberinya senyum singkat, suasananya berubah sekarang tak lagi ceria, yang sebenarnya adalah dari tadi aku hanya memaksa diriku untuk terlihat ceria, seperti aku yang biasanya, aku yang seharusnya.
“Ini buat si Bell, ini buat Dudi, ini buat kebaikan banyak orang” aku menangis, ketika aku menghampiri tempat tidur bayi, terlihat bayi malang cantik di sana, tertidur dalam damai, umurnya belum genap seminggu, dia bahkan belum punya nama, jadi aku memanggilnya dengan Tinker Bell, seperti tokoh kartun favorit mamanya, dia putri kakakku Jelita, Jelly meninggal saat melahirkannya, dan malangnya si kecil Bell bahkan tak punya papa, papanya menghilang saat mengetahui kehadirannya di muka bumi, dia pria pengecut yang membuat kakakku menderita, dia pria pengecut yang mencorengkan aib ke muka papaku, kakakku yang sangat menyukai pernikahan bahkan tak pernah merayakan pernikahannya sendiri, kesalahannya hanyalah dia jatuh cinta pada pria yang salah.
Aku tau ini salah karena mengabaikan perasaanku, menikahi Dudi hanya untuk menyelamatkan Bell dari rasa sakit yang pernah kuderita ketika aku masih sangat muda, rasa sakit karena aku hidup tanpa ibu, mama kami meninggal ketika aku berumur lima tahun, untunglah aku memiliki Jelly, tapi kini Jelly telah pergi, Jelly bisa jadi ibu buatku dan aku harus bisa jadi ibu buat putrinya dan untuk Dudi, aku hanya mencoba menyelamatkan namanya, dia diisukan sebagai pria yang bukan pria, dia hanya ingin membuktikan diri bahwa dengan menikahiku dia bisa membuktikan pada semua orang bahwa dia bukanlah seorang gay seperti yang dibisikkan orang-orang dibalik pungungnya. Tapi sebenarnya itu benar, dia memang gay, jadi yang dia perlukan dariku hanya status, dan aku juga memerlukan dia untuk menjadikan keluarga ini terlihat sempurna, tak perlu ada yang tau apa yang sebenarnya, aku yakin kami bisa memperlihatkan sebuah keluarga sempurna yang terlihat dari luar, masalah perasaan biar kupendam saja, lagipula, sebuah kalimat ekstrem menghiburku ‘cowok kalo nggak brengsek ya homo’. Aku terlalu sering berhubungan dengan pria brengsek, jadi izinkan aku menikahi pria homo ini.


bersambung http://theuncensoredconfessionofsillydramaqu.blogspot.com/2011/08/dara-getting-married-2-win.html

4 komentar:

  1. wah ceritanya bagus mbak, tapi kok endingnya begitu ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus