Beberapa pelayan yang disewa Robert
keluar dengan segera ketika pintu dapur dimasuki dengan langkah buru-buru oleh
Nala dan Marion. Nala membelakangi Marion yang ragu-ragu untuk menyentuh
pundaknya yang bergetar. Kemarahan, kesedihan, dan rasa gusar yang tak
tertahankan membuat Nala merasa lemah tak berdaya. Dari cermin Marion melihat
wajah sahabatnya dalam ekspresi yang sulit dilukiskan. Sementara Nala yang
mengetahui kehadiran Marion, pada mulanya lebih suka mengabaikan, tapi dia tahu
itu tak berguna. Sekian lama Nala menyimpannya, dan mungkin inilah waktunya
untuk dia menumpahkan segalanya – seperti dia menumpahkan sisa Wine yang
dia tumpahkan ke wastafel dengan gelasnya begitu saja.
Date a girl who reads
Tampilkan postingan dengan label Mini Seri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mini Seri. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 09 Juni 2012
Friend Or Foe (Chapter Two)
Biasanya Nala selalu mempunyai alasan
bagus untuk menikmasti pesta. Tapi tidak untuk kali ini. Dia berharap dia
takkan memasuki pintu apartemen Robert. Apartemen mewah itu sejujurnya
mengintimidasi harga diri Nala. Menunjukkan kesuksesan sahabatnya sebagai
pengacara muda hebat.
Tidak mengherankan, Robert adalah
seorang yang jenius di bidangnya. Dia punya otak brilian, sebuah keistimewaan
‘tak adil’ yang di dapat dari darah Yahudinya. Sementara Nala, ia masih tetap
si sugar daddy. Nala hidup dalam sokongan ayahnya yang berlimpah
materi. Putus dari Dalton, Nala pulang ke dalam kemewahan payahnya di LA.
Payah, karena segala benda yang digunakannya bukanlah miliknya. Payah, karena
ia harus menjilat ayahnya yang munafik dan tak tahu malu untuk sekedar mendapat
beberapa ribu dolar setiap minggunya. Ayahnya seorang pria mesum yang hobi
mengoleksi perempuan plastik murahan. Nala membencinya, namun memerlukan
uangnya. Tapi kini Nala kembali, kembali pada hidup yang pernah ditinggalnya
pergi. Kembali ke New York, tempat dia pernah menghindari diri dari kemunafikan
hidup saat idealisme tinggi remaja merajainya.
Friend Or Foe (Chapter One)
Dari balik kaca sebuah Coffee
Shop, terlihat dua orang perempuan berusia diakhir dua puluhan.
Mereka terlihat akrab, tapi terlihat begitu berbeda. Namun sebenarnya mereka
bersahabat erat. Marion dan Nala.
Marion tipikal wanita karier yang
serius. Tinggi kurus, berambut merah yang ditata dengan potongan layer
sederhana, berwajah oval dengan warna mata hazel. Keanggunan
Inggris terlihat jelas dalam dirinya, berkacamata kotak yang menampilkan aura
cerdas, dan binar optimis terpancar dari matanya. Berbanding terbalik dengan
Nala, bertampang unik yang didapat dari nenek moyang campuran, setengah
Kaukasia juga setengah Asia. Nala lebih mirip seperti gadis dengan senyum
malas-malasan dalam halaman utama majalah Fashion, terlihat indah
namun tak memiliki cita rasa, seolah kepribadiannya yang bermasalah terlihat
seperti buku yang terbuka.
Langganan:
Postingan (Atom)
