(Massimo)
Aku sedang memainkan lagu patah hati yang
kubenci, jari-jariku terasa perih saat menyentuh tuts-tuts piano yang memainkan
nada lirih yang membuatku frustasi. Memoriku memutar lagi tiap detail saat
Violetta masih di sisi, bersamaku, terkhir kali.
“I
love you” aku suka bagaimana suara manjanya mengungkapkan kata yang membuatku
merasa berharga. Tapi apa yang kulakukan, aku melemparkan sebuah kebodohan,
sebuah pertanyaan.
“Tak
menyerah untuk terus bersamaku?”
“Takkan
pernah” dia menjawab dengan keyakinan sempurna, aku bisa membaca dari sorot
teduh matanya.













