Date a girl who reads

Date a girl who reads
Tampilkan postingan dengan label FanFic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FanFic. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

FanFiction Gossip Girl: Poor Lonely Boy (No More)



Hei, Upper East Sider! Kamu tahu bahwa kamu mungkin tak lagi mencintaiku. Dan Humphrey, si Lonely Boy―cowok kesepian, adalah si Gossip Girl! Hei, itu aku! Siap membenciku? Siap menyalahkanku atas sebuah kebohongan rapi, serta begitu banyak gosip dan skandal yang kuhembuskan? Siap menjadikanku papan sasaran untuk segala alasan kehancuran hidup kalian? Tapi, bagaimanapun kalian harus berterima kasih atas ketenaran kalian dan juga bahan pembicaraan yang aku ciptakan!
                Pada akhirnya kalian akan menyesal dan yeah…, sedikit kecewa. Kalian mungkin mengharapkan sosok lain selain diriku. Dorotha, misalnya, atau Georgina? Mungkin juga little J, atau bahkan Eric van der Woodsen? Maaf merusak ekspektasi kalian tentang seorang gadis yang mungkin bersuara seksi nan manja yang mengirimkan banyak gosip dan skandal ke ponsel canggih kalian. Tapi, yeah, pada akhirnya kalian harus menerima bahwa akulah si blogger jenius di belakang permainan ini.
                Tahun-tahun itu berlalu secepat kilat dan aku bukan lagi si poor lonely boy yang mendaki tangga sosial karena mengencani si sosialita yang juga mantan saudari tiriku itu: Serena van der Woodsen. My Muse! My Inspiration! Dia alasanku meluncurkan situs gosip ini, selain juga karena kebencianku pada kehidupan munafik mewah berkilauan para borjuis Upper East Side. Drama yang layak untuk ditertawakan, saat remaja bertindak dewasa dan para orang tua bertindak kekanak-kanakan.
Manhattan seperti panggung sandiwara raksasa di mana kebohongan adalah cara terbaik untuk terbebas dari masalah, balas dendam adalah alat pembayaran paling pantas untuk setiap pengkhianatan, cinta yang berfungsi sama seperti puzzle yang bebas dipasangkan di sana-sini. Pesta untuk jiwa yang lelah demi bahagia yang dipuaskan dengan segelas Champagne dan kemampuan menipu diri sendiri.

***

                “Masih ingat bagaimana kisah ini berawal?” aku menanyakan diriku sendiri yang sedang menyesap kopi dan sekilas memandang keluar jendela, melihat sepotong pemandangan Brooklyn yang terlalu biasa untuk kuabaikan. Aku kembali menghadapi layarku, menatap kata demi kata yang kususun membentuk sebuah drama yang kusulap dari skandal dalam realita yang kualami dan kusaksikan dengan mata kepala. Ya. Aku mengambil bagian di dalamnya. Inside, sebuah novel yang kutuangkan bersama imajinasi dan juga keinginan pribadi.
                Di Grand Central, aku melihat gadis dengan rambut berkilau keemasan―seperti dewi yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Serena van der Woodsen kembali setelah kepergiannya yang misterius. Serena, gadis yang terlalu mabuk saat kutemui pertama kali, gadis yang membuatku mengerti bahwa cinta pada pandangan pertama itu ternyata ada. Tapi, siapa aku? Dan, setelah melihatnya kembali membuatku memunculkan ide untuk membuat postingan pertama di Gossip Girl tentang diriku, yang kubuat dengan julukan, Lonely Boy, bocah kesepian. Yeah, aku memperolok diriku.

Spotted: Lonely Boy. Can't believe the love of his life has returned. If only she knew who he was. But, everyone knows Serena. And, everyone is talking. Wonder what Blair Waldorf thinks. Sure, they're BFF's, but we always thought Blair's boyfriend Nate had a thing for Serena.

                Malang bagi Serena, yang – maaf – harus mendapat label ‘jalang’ sekembalinya dari boarding school yang mengusirnya. Sahabatnya, Blair Waldorf – the Girly Evil, tak menyambutnya dengan tangan terbuka. No wonder, Serena belakangan diketahui meniduri Nate, sahabat dan juga pacar jangka panjang Blair. Kecewa dengan pengkhianatan sahabat dan juga kehilangan sahabat untuk menghadapi drama keluarganya, Blair memutuskan untuk tak menerima Serena. Serena bukan lagi ratu di Constance Billard. Serena sama seperti…. Oh, Tuhan! Seandainya Serena kembali dan para sahabatnya menerimanya, tentu menghabiskan waktu denganku bukanlah pilihannya. Aku adalah pengisi kekosongannya. Aku merasa bodoh dan hebat di saat bersamaan, aaat Serena ternyata mengingatku. Yeah, aku ‘sengaja menabraknya’ agar aku memiiliki alasan untuk menemuinya ke New York Palace Hotel, lalu mengembalikan ponselnya yang saat itu jatuh tak jauh dari kakiku. Senyum merekah di wajah cantiknya dan kalimat singkat, “Oh, kau yang semalam? Maaf soal kejadian itu.” Tidak ada yang perlu dimaafkan soal kecelakaan kecil yang kusengaja.