Seteluk 23 Desember 2013
Kalau
bisa dua-duanya, ngapain harus milih salah satu. Itu prinsip yang dipegang
Retta dalam kehidupan cintanya. Walau Retta memiliki ‘dua’ namun malang bagi
Retta, bahkan cadangan ataupun pacar beneran
tak ada di sisinya saat ini. Mengapa hidup begitu sulit? Kenapa tidak semudah
... menemukan sepatu kaca dan bahagia selamanya! Kenapa harus ... meninggalkan
pacar brondongmu demi mengikuti training yang
karena kamu butuh kerja dan tak lagi dibiayai oleh orang tua, dan di sana kamu
terlibat cinta lokasi dengan rekan kerja, oh Dicki dan Bali! Retta sungguh
rindu untuk kembali. Dan Mataram, betapa
Retta begitu rindu pada brondongnya yang ... tapi kata Agit, brondong nggak punya masa depan!
Hahahaha rasanya pengen ngetawain
Agit, bukankah lelaki terakhir dalam hidupnya lebih muda dua tahun darinya? Okay fine, Arden memang lebih muda lima
tahun, tapi mereka sama-sama brondong! Aaaarght! Setidaknya Didan-nya si Agit
punya pekerjaan sementara dengan berat hati Retta harus mengakui bahwa Arden,
masih berstatus mahasiswa yang bisa dengan mudah diprediksi akan di DO
dikemudian hari. Itulah kenapa, mau tak mau Retta menerima cinta Dicky.
Lagipula, siapa sih yang mau kehilangan fans?
Retta dan Agit sama saja, kadang cinta bukan alasan utama, kadang mereka lebih
ketakutan hidup tanpa pengagum mereka.
Pernah
pada suatu malam Retta dan Agit membahas, kenapa mereka harus terjebak hubungan
asmara dengan brondong tanpa masa depan.
“Kenapa
ya, kita pacarin brondong mulu?” Retta bertanya-tanya.
“Karena
... cowok seumuran kita sudah memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia.”
Mudah bagi Agit untuk menjawab tapi sulit untuk dicerna hatinya.
“Bahagia?”
Retta
terdiam sejenak saat Agit memperlihatkan layar handphone-nya yang menunjukkan beranda facebook-nya.
Pertama;
status memuakkan khas pasangan baru nikah. ‘Ternyata
nikah itu enaknya cuma lima persen yang sembilan puluh lima persennya enaaaaak
banget.’ Kedua; status mereka dengan pengalaman ngidam mereka.
‘pengaruh ngidam, aroma ketek suami lebih wangi dari
aromatheraphy’iiiiiiiiiiiiiiiiiihhhh ... ketiga ‘foto porno’
balita memenuhi beranda. Padahal itu bahaya, anak-anak mereka bisa jadi korban
iseng penjahat dunia maya.
Sebut
Retta dan Agit sirik, tapi ... bayangkanlah jadi mereka. Usia kepengen (banget)
menikah tapi mereka masih mempertanyakan apa lelaki-lelaki yang bersama mereka
inikah jodohnya?
Agit
misalnya ... siapa sih pacar terakhirnya, yang jelas? Semuanya serba ... kalau
bukan HTS atau TTM, yeah ... palingan juga terlibat hubungan ‘KJDA—Kita Jalani
Dulu Aja’ untuk yang rada serius? Cuma obsesi cinta monyetnya yang sekarang
sedang keliling dunia, dan si Agit hanya bisa memandang foto-foto tuh cowok di
instagramnya. Uh kasihan Agit. Lagipula, waktu Agit cuma dua puluh empat jam
dan itu habis buat kerja. Secara geografis? Walau Agit selalu berdalih wajahnya
terlalu metropolitan untuk tinggal di kecamatan, dia sejujurnya mengakui bahwa
sekecamatan itu tak satupun cowok naksir padanya dan kalau naksir pastilah
cowok itu khilaf. Karena ... cowok-cowok itu adalah muridnya di sekolah dan
yang lainnya adalah bapak-bapak yang sudah menikah, payah ya?
Dan
Retta, masih dipusingkan cinta segitiga tanpa sudutnya. Retta harus puas pacaran jarak jauh dengan kedua lelaki yang
sebetulnya hanya mampir di teras hatinya ... karena sebenarnya Retta nggak tahu
siapa yang sungguh-sungguh dicintainya. Hal terpayah dari hidup Retta adalah,
Retta gampang jatuh cinta dan suka menjalani dramanya tapi soal komitmennya,
percayalah Retta bukan orang yang bisa berkomitmen.
Dan
pada akhirnya, di malam-malam sebelum tidur kedua gadis itu akan menyongsong
mimpinya dengan backsound Marry Me
dari Train dan berkhayal bahwa seorang pria tampan sejati akhirnya melamar
mereka dan senyuman manis akhirnya tersungging di bibir ibu dan mama mereka
ketika mengenakkan kebaya dan mendampingi di pelaminan.