Date a girl who reads

Date a girl who reads
Tampilkan postingan dengan label Chicklit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chicklit. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Agustus 2019

[Cerpen] Gadis Kesayangan Sang Pecinta Buku



Suatu senja di kota Sumbawa Besar, seorang gadis pulang kepada kenangan masa kecilnya. Gadis itu bernama Gadis. Dulu, di sinilah dia menghabiskan masa kanak-kanaknya yang penuh dengan cerita manis. Namun, ketika dia masuk melalui gerbang kayu lapuk itu, yang dia tahu bahwa hatinya remuk. Ketika pintu diketuk takkan lagi ada yang menyahut. Ketika dia mengucap salam, takkan ada lagi ayahnya yang dengan segera datang menyambut. Pulang, hanya untuk mengenang hal-hal indah yang telah hilang.
***
                "Jika kamu melangkah pergi artinya kamu tak boleh kembali … " Ancaman dari ayahnya tak mengurungkan niatnya untuk mengejar cita-cita. Selepas SMA dia hanya ingin menuruti mimpinya. Mimpi sangatlah egois. Mimpinyalah yang membuat dirinya berubah menjadi anak sadis yang meninggalkan cerita miris, karena kesalahannyalah Ayahnya meninggal dengan tragis.
                Menurut Gadis, kesepian dan kekecewaan membuat ayahnya kehilangan harapan hidupnya. Ketika istrinya meninggal, dia masih memiliki anak gadisnya. Ketika anak gadisnya pergi, yang dia ketahui bahwa dia tak cukup berharga untuk membuat orang-orang yang dicintainya tetap tinggal bersamanya.
                Anak perempuannya memang berkemauan keras. Kebahagiaan baginya tak cukup hanya dengan apa yang mampu pria itu bawa pulang ke rumah. Pria itu penuh cinta, hanya saja dia tak memiliki cukup rupiah untuk membeli berbagai keindahan dunia. Sepotong roti dan secangkir kopi pahit setiap pagi membuat putrinya muak. Gadis itu menginginkan roti dengan keju atau secangkir cokelat panas. Anak perempuannya bosan untuk kado buku di setiap akhir pekan. Kadang sesekali dia ingin hadiah bandul berbentuk hati  yang akan membuatnya terlihat menawan. Bagaimanapun, dia anak perempuan.
***

Jumat, 03 Juli 2015

Ketika Tuhan Mengabulkan Doaku





                "Apa yang kamu minta dalam doamu?"
                "Agar aku bahagia selalu?"
                "Misalkan, bahagia hanya mau datang padaku jika aku tanpamu."
                "Maukah kamu meninggalkanku?"
                Penggalan-penggalan kalimat tegas dari bibir Banu, masih teringat jelas. Seakan telingaku masih mampu mendengarnya. Kedua mataku seolah masih bisa melihat wajahnya, bahkan untuk detail terhalusnya. Dalam ingatanku yang seringnya kuragukan, ternyata peristiwa yang menancapkan luka terdalam sulit dihapuskan. Perempuan memang bisa melupakan kuncinya, tak pernah ingat dimana meletakkan kacamatanya, bisa juga terlalu lelah untuk memasukkan hal-hal kecil penting ke dalam kepalanya. Tapi, jika itu menyangkut perasaan, ingatan itu seakan abadi untuk selamanya.
***

Kamis, 02 Juli 2015

[Cerpen] Untuk Kamu Yang Kucintai Sepenuh Hati, Izinkan Aku Mengkhianatimu Sekali Ini



Kita saling mencintai sudah begitu lama, dan kali ini kita membuat kesepakatan untuk saling membodohi hati. Ini berat tapi tak bisa ditawar lagi, selalu ada yang dikorbankan untuk apa yang kita inginkan. Lebih-lebih, untuk rencana kita di masa depan nanti.
            "Kita kadang saling berselisih, tapi berjanjilah takkan mengubahnya menjadi benci." Aku memohon padamu yang tak mau menatap wajahku. Kamu hanya menatap ke kejauhan, dengan tatapan tajam yang kamu takutkan akan membuatku terluka.
            "Kita harus berpisah, tapi tentu saja kamu tahu bahwa cintaku untukmu di atas segalanya." Aku meyakinkannya.
            "Lalu bagaimana dengan rencana menua bersama?" Kamu bertanya dalam nada marah yang tertahan.
            Aku terdiam memikirkan rencana yang kita susun bersama. Membangun pondok kayu di tengah hutan buatan milik kita. Pohon-pohonnya adalah anak kita yang kita beri nama yang kita suka dan dipadu nama belakangmu tentunya. Kita akan menjadikan tempat itu sebagai dunia milik kita. Setiap hari aku akan mengajakmu merayakan pagi dengan sarapan lezat yang sangat kamu sukai. Kamu akan membuat berbagai hal dengan keterampilan tanganmu mengubah kayu menjadi aneka bentuk yang berguna; kursi, meja, rak, lemari buku, segalanya.
            Di siang hari kita akan bersitirahat di tempat tidur gantung bikinanmu, di halaman belakang kita―sambil membaca juga mendengar musik yang kita suka, sesekali kita akan berdansa. Aku berjanji akan menyenangkan perutmu dengan makanan bikinanku. Aku berjanji akan mencintaimu lebih dan lebih dari waktu ke waktu. Aku berjanji akan merasakan sedih bersamamu, merasakan bosanmu dan bergembira ketika itu maumu.
            Di malam hari, kita akan bicara banyak tentang apa yang kita pikirkan tentang apa yang kita rasakan. Kita akan menikmati masa tua kita bersama. Jika aku meninggal, berjanjilah tetap setia, seperti aku setia padamu. Ingatlah aku yang selalu mencintaimu.
            "Tapi, sebelum saat itu. Marilah kita menyepakati untuk saling mengkhianati." Ada keraguan dalam kata-kataku, lidahku tak mampu mengucapkan kalimat sederhana itu dengan mudah.
            Kamu tak menjawab dan akupun tak mau mendengarnya. Jadi, kuputuskan untuk meninggalkanmu yang terluka. Kakiku nyaris tak mampu menopang tubuhku, tapi aku mencoba terus melangkah, dan kamu yang kutinggalkan tak berusaha berlari untu menyusulku. Tak apa jika kamu marah, kita sama-sama tahu sulit bagi kita untuk saling menyakiti seperti ini.
            Satu-satu hal yang kutahu, kamu memotret punggungku untuk mengabadikan kepergianku. Suara kameramu seperti salam perpisahan yang sangat menyakitkan.

Rabu, 01 Juli 2015

[Cerpen] Pertemuan dengan Gadis yang Ada Dalam Pikiran




Aku pernah bertemu dengan seorang gadis. Gadis yang setelah beberapa minggu setelah kami berpisah mengirimiku pesan. Gadis yang mengaku bahwa dia jatuh cinta padaku dengan sangat mendalam. Isi pesannya membuatku kebingungan, dia menyampaikan perasaannya dengan cara yang muram dan dia merasa perasaan itu membuatnya tertekan. Tak seperti perempuan kebanyakan dia bahkan, tak menginginkan sebuah hubungan atau bahkan kesempatan kencan. Jadi, pesannya tak pernah kukirimkan balasan.

            Aku ingin melupakan gadis itu― gadis yang ditangannya selalu menggenggam buku. Tapi apa dayaku, ada hal dari dirinya yang menarik tapi juga mengganggu, nama gadis itu ... Bolehkah hanya jadi rahasiaku?

            Kupikir aku sedikit menyukai gadis itu karena, sepertinya dia dilengkapi dengan pengertian langka yang bisa dimiliki oleh seorang gadis. Selang beberapa waktu setelah pertemuan singkat kami yang hanya kurang dari seminggu. Sekarang, aku bahkan sudah berada di benua berbeda. Di sebuah negara yang memiliki kota kecil tempat kelahiran kelompok musisi yang menjadi legenda. All You Need is Love adalah salah satu lagunya. Nah, mungkin gadis itu tahu aku akan pergi jauh jadi otak realistis miliknya mengajukan pertanyaan, "Apa yang bisa kuharapkan dari lelaki yang baru kukenal yang akan meninggalkanku beribu-ribu kilometer jauhnya?"

Jumat, 13 Februari 2015

Valentine Milik Krisna dan Nena


"Tidakkah kamu merasa konyol untuk memenuhi janji kepada gadis enam belas tahun, dengan bersedia menjadi valentine-nya?" Lelaki dua puluh delapan tahun dengan sorot mata serius dan bertubuh tegap yang tak terlihat seperti orang dengan pengidap Lolita Complex Syndrome itu, seakan ingin menghantamkan tinju pada lelaki yang berdiri di hadapannya. Dia ingin mematahkan hidungnya dan merobek bibirnya yang memasang senyum mengejek. Lebih dari segalanya dia ingin membungkam mulutnya agar pertanyaan yang diajukannya berhenti mengema di dalam kepalanya. Pertanyaan itu membuatnya seperti merasakan bisikan yang ditakutkan oleh para penderita schizoprenia.
      Alis lelaki di depannya meninggi, ekspresinya seolah berkata bahwa dia sudah tak sabar untuk menunggu jawaban yang dituntutnya. Akal sehatnya berusaha memenangkan diri dengan menunjukkan apa gambaran  yang akan terjadi bila dia melukai lelaki itu. Iya akan ada perasaan puas yang melegakan tapi dia tahu dia akan dikalahkan bukan hanya oleh dirinya yang gagal mengontrol diri, tapi dia tahu sekali bahwa dalam perkelahian ini dialah yang akan terluka. Kulitnya tergores bahkan terkoyak dan juga dialiri darah yang membuat lukanya terasa kian pedih. Sementara lelaki yang hanyalah bayangannya akan menjadi sang pemenang yang bukannya semakin lemah tapi dia akan memperbanyak dirinya― sebanyak kepingan pecahan cermin yang dihantam tangannya.
      Untuk sesaat Krisna merasa dirinya gila. Dia menghela nafas tapi dengan segera dia menyesalinya, itu tak lebih dari bahasa tubuh mereka yang menyerah. Krisna ragu pada dirinya, apakah dia sedemikian putus asanya untuk bisa mencicipi sedikit cinta di hari yang kata mereka adalah hari kasih sayang. Hari yang dihiasi cokelat, bunga, boneka beruang dan aura merah muda di udara. Dia mengenyahkan keraguannya dengan segera, seakan hanya dengan berkata dalam hati semua akan baik-baik saja maka segalanya akan sedemikian adanya. Ini lucu dan dungu, ada sosok mengejek dari dalam dirinya yang kita terbahak, saat Krisna selesai mengancing kemejanya, meraih sekotak cokelat praline khusus yang dipesannya, dan melangkah menuju gadis centil yang kini tersenyum manis dalam kepalanya.

Selasa, 30 Desember 2014

Cerpen: Menggapaimu.


Setelah hujan, pasti ada pelangi. Tapi, kini tak lagi. Di dalam cinta dan mimpi segala sesuatu pasti bisa terjadi. Sayangnya tak seperti yang kuinginkan. Ananta pergi dan tak kembali. Sedih, tapi lelah untuk terus menangisi. Perih sampai tak yakin apa masih bisa terobati. Kata mereka ada pedih yang harus kita alami, tapi jika aku boleh meminta, jangan berikan aku kehilangan sedalam ini.
Aku menunggunya, selalu. Walau dia tak pernah memintaku. Di saat terakhir yang kuingat dia hanya menatapku dengan tatapannya yang sendu. Dan dia pergi, tanpa mengucapkan selamat tinggal, karena mungkin dalam hatinya tahu, ucapan itu hanya akan terasa menyakitkan karena mematikan harapan untuk bisa berjumpa lagi. Tap, dia juga tak mengatakan sampai jumpa lagi, mungkin dia hanya tak ingin membuatku tersakiti apabila seandainya kita tak bisa benar-benar berjumpa lagi. Tapi dalam hati, aku yakin dia pasti kembali, pasti, yah suatu hari nanti.
                Hingga semalam di dalam mimpi dia berkata sesuatu yang nyaris tak bisa kupercaya... dia berjanji untuk pulang, di saat langit berwarna kelabu. Dia memang pulang, kembali padaku tapi bukan seperti dia yang dulu, dia kembali menjadi debu. Oh Tuhan aku masih ingat hari itu.
“Mama mau kamu menyimpan sedikit diri Ananta.”
Guci itu diletakkan di tanganku. Awalnya nampak ragu ketika guci itu berpindah tangan. Bagiku, itu tak ada pengaruhnya. Aku tetap merasakan kesakitan ketika menerimanya. Sakit itu di sini, di dalam hatiku. Ketika yang berdiri di depanku - alih-alih Ananta- adalah Ananda, saudara kembarnya.
 “Ananta, seharusnya pulang awal Desember ini. Tapi, maaf dalam keadaan seperti ini.”
 Ananda menghela nafas, agak panjang dari biasanya.
“Maaf, aku baru bisa mengatakannya padamu." Suaranya terdengar serak. "Kecelakaan pesawat telah merenggut nyawa Ananta."  
Akhirnya dia  berkata sesuatu tentang Ananta. Aku memandang Ananta seperti dalam adegan lambat film hitam putih. Ananda merogoh sakunya. “Harusnya Ananta memberikkanmu ini.” Kotak mungil beludru merah berisi cincin berlian.
Saat itu aku seperti melihat diriku tersenyum dalam tangisku, di dalam hatipun aku merasakan. Setidaknya dia pulang, setidaknya di sana dia tak pernah berhenti mencintaiku, tapi ternyata waktu berlalu dan aku tak lagi bisa menerimanya dengan semudah itu.

Kamis, 20 November 2014

Cerpen: November to Remember



Aku ingin selamanya berada di tengah hutan.
Berbaring di atas dedaunan kering keemasan.
Diiringi suara alam dan angin yang membelai pepohonan.
Aku ingin menjadi bagian dari hutan.
Berkawan dengan keliaran dan menikmati ketakutan akan peradaban.
***
“Merasa bersalahlah pada pepohonan yang telah mati sia-sia, karena kau menggunakan berlembar-lembar tisu secara percuma untuk menangisi pria sialan yang mencampakkanmu!” Lusi seolah mendengar suara dramatis Desi, berkacak pinggang, dan menyorot dengan matanya yang besar dan galak. Tapi, pada akhirnya Desi akan berada bersamanya dan memeluknya. Membuatnya merasa tenang. Lusi tak ingin menangis lagi. Jadi, dia melepas tisu kusut di genggamannya dan menghapus air mata yang tersisa dengan punggung tangannya. Sekarang, Desi mencampakannya setelah Lusi menukar persahabatan mereka dengan lelaki yang tidak mencintainya.
“Apa yang kau tangisi, Lusi?” Dia bertanya pada diri sendiri. “Kau mendapatkan apa yang kau inginkan, seharusnya tidak ada penyesalan.” Gadis itu mengenakan kacamata Jackie Onnasis-nya dan memasuki mobil sesudahnya, sebuah perjalanan dengan sea plane dan dia tiba di ‘surga’. Sejujurnya, jauh di dalam hatinya dia begitu merindukan perjalanan sebelumnya, setahun yang lalu saat semuanya masih baik-baik saja. Mereka bertiga menumpang di atas perahu nelayan sederhana, sekitar satu jam di tengah lautan bertukar kata dan tawa. Tapi, satu hal yang disadari Lusi yang tak ingin dibenarkan oleh kepalanya – Desi dan Emile saling bertukar tatapan yang bemakna lebih dari jutaan kata. Lusi ingin menyangkal ingin melupakan.
“Hutan atau lautan?”Tanya Lusi pada mereka.
Dan, mereka  menjawab hutan secara bersamaan dalam nada yang terdengar harmonis yang entah kenapa memiliki kekuatan magis. Mereka bertatapan, lalu bertukar senyuman, ada aura romantis yang manis.
“Sebuah tenda di tengah hutan. Ketika hampir menutup mata, telingaku yang nyaris tersentuh tanah akan mendengar langkah-langkah rusa, kerik jangkrik, nyanyian malam pepohonan.” Dengan mata berbinar Lusi bercerita tentang keinginannya.
“Bukankah diving dan snorkeling lebih menyenangkan?” Lusi tak mencoba mempengaruhi  Desi, tapi ia berusaha membuat Emile tergoda tak hanya dengan kata-kata tapi juga  dengan  kerlingan mata dan bahasa tubuhnya yang seksi. Okay dia bertahan tapi takkan lama, lelaki... Lusi percaya mereka gampang ditipu daya. Adam tergoda Hawa.”Bagaimana dengan bikini dan cahaya matahari?”
Ada tawa renyah dalam durasi yang tak lama, demi kesopanan yang pantas.
“Yang aku herankan...” Desi seolah sedang berpikir “bagaimana bisa seekor domba bertanduk begitu ingin berenang sementara dua ekor ikan ingin menjadi umpan para binatang buas?”
Lusi menganggap itu lucu sekali, menggunakan zodiak sebagai perumpamaan...dia tak percaya pada  kata zodiak, karena dia  lebih yakin bahwa sifat-sifat kebinatangan itu tak selalu melekat pada si pemilik bintang yang menanunginya.
“Hmmm....sulit dijawab sepertinya, walau tak sedilematis. Kira-kira seekor kucing akan memilih ikan goreng atau tikus?” tanya Lusi kemudian.
“Aku memilih Whiskas,” jawab Emile―sang kucing.
Lusi bersungut dan otaknya memutar rangkaian kata ‘Seharusnya dia membidik makhluk indah di depannya bukannya  pemandangan di kejauhan— biru dan kehijauan yang terekam dalam memori kameranya’. Desi mulai membuatnya benci karena dia mulai menggoreskan pena ke kertas, entah apa yang dia tuliskan.  Lusi mulai berjalan ke sisi Emile mengambil topi di kepala pria itu, memakaikan pada kepalanya sendiri  dan bersandar di sisi Emile. Dengan ekor matanya Lusi melihat, Emile dan Desi  saling bertukar pandangan. Lusi menyangkalnya dengan mencoba terlelap.

Senin, 10 November 2014

Cerber: Saudara Sejiwa (Tamat)



Seteluk 23 Desember 2013
Kalau bisa dua-duanya, ngapain harus milih salah satu. Itu prinsip yang dipegang Retta dalam kehidupan cintanya. Walau Retta memiliki ‘dua’ namun malang bagi Retta, bahkan cadangan ataupun pacar beneran tak ada di sisinya saat ini. Mengapa hidup begitu sulit? Kenapa tidak semudah ... menemukan sepatu kaca dan bahagia selamanya! Kenapa harus ... meninggalkan pacar brondongmu demi mengikuti training yang karena kamu butuh kerja dan tak lagi dibiayai oleh orang tua, dan di sana kamu terlibat cinta lokasi dengan rekan kerja, oh Dicki dan Bali! Retta sungguh rindu untuk kembali.  Dan Mataram, betapa Retta begitu rindu pada brondongnya yang ... tapi kata Agit, brondong nggak punya masa depan! Hahahaha rasanya pengen ngetawain Agit, bukankah lelaki terakhir dalam hidupnya lebih muda dua tahun darinya? Okay fine, Arden memang lebih muda lima tahun, tapi mereka sama-sama brondong! Aaaarght! Setidaknya Didan-nya si Agit punya pekerjaan sementara dengan berat hati Retta harus mengakui bahwa Arden, masih berstatus mahasiswa yang bisa dengan mudah diprediksi akan di DO dikemudian hari. Itulah kenapa, mau tak mau Retta menerima cinta Dicky. Lagipula, siapa sih yang mau kehilangan fans? Retta dan Agit sama saja, kadang cinta bukan alasan utama, kadang mereka lebih ketakutan hidup tanpa pengagum mereka.
Pernah pada suatu malam Retta dan Agit membahas, kenapa mereka harus terjebak hubungan asmara dengan brondong tanpa masa depan.
“Kenapa ya, kita pacarin brondong mulu?” Retta bertanya-tanya.
“Karena ... cowok seumuran kita sudah memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia.” Mudah bagi Agit untuk menjawab tapi sulit untuk dicerna hatinya.
“Bahagia?”
Retta terdiam sejenak saat Agit memperlihatkan layar handphone-nya yang menunjukkan beranda facebook-nya.
Pertama; status memuakkan khas pasangan baru nikah. ‘Ternyata nikah itu enaknya cuma lima persen yang sembilan puluh lima persennya enaaaaak banget.’ Kedua; status mereka dengan pengalaman ngidam mereka. ‘pengaruh ngidam, aroma ketek suami lebih wangi dari aromatheraphy’iiiiiiiiiiiiiiiiiihhhh ... ketiga ‘foto porno’ balita memenuhi beranda. Padahal itu bahaya, anak-anak mereka bisa jadi korban iseng penjahat dunia maya.
Sebut Retta dan Agit sirik, tapi ... bayangkanlah jadi mereka. Usia kepengen (banget) menikah tapi mereka masih mempertanyakan apa lelaki-lelaki yang bersama mereka inikah jodohnya?
Agit misalnya ... siapa sih pacar terakhirnya, yang jelas? Semuanya serba ... kalau bukan HTS atau TTM, yeah ... palingan juga terlibat hubungan ‘KJDA—Kita Jalani Dulu Aja’ untuk yang rada serius? Cuma obsesi cinta monyetnya yang sekarang sedang keliling dunia, dan si Agit hanya bisa memandang foto-foto tuh cowok di instagramnya. Uh kasihan Agit. Lagipula, waktu Agit cuma dua puluh empat jam dan itu habis buat kerja. Secara geografis? Walau Agit selalu berdalih wajahnya terlalu metropolitan untuk tinggal di kecamatan, dia sejujurnya mengakui bahwa sekecamatan itu tak satupun cowok naksir padanya dan kalau naksir pastilah cowok itu khilaf. Karena ... cowok-cowok itu adalah muridnya di sekolah dan yang lainnya adalah bapak-bapak yang sudah menikah, payah ya?
Dan Retta, masih dipusingkan cinta segitiga tanpa sudutnya. Retta harus puas  pacaran jarak jauh dengan kedua lelaki yang sebetulnya hanya mampir di teras hatinya ... karena sebenarnya Retta nggak tahu siapa yang sungguh-sungguh dicintainya. Hal terpayah dari hidup Retta adalah, Retta gampang jatuh cinta dan suka menjalani dramanya tapi soal komitmennya, percayalah Retta bukan orang yang bisa berkomitmen.
Dan pada akhirnya, di malam-malam sebelum tidur kedua gadis itu akan menyongsong mimpinya dengan backsound Marry Me dari Train dan berkhayal bahwa seorang pria tampan sejati akhirnya melamar mereka dan senyuman manis akhirnya tersungging di bibir ibu dan mama mereka ketika mengenakkan kebaya dan mendampingi di pelaminan.

Cerber: Saudara Sejiwa (4)




Mataram, akhir 2012- pertengahan 2013

Retta tak mengerti, mengapa rasa bersalah seolah menjadi penghuni tetap di setiap sudut hatinya. Dia juga sedang berada di Sumbawa Besar kala itu, dia pulang dan ketika Agit memintanya untuk bisa bertemu, mereka setidaknya bisa melepas kangen. Sayang, dia bahkan mengacuhkannya. Dan, sekarang pesan singkat Agit seolah memukulnya tepat di hati.
Seandainya waktu itu, aku hang outx sama km aja. Aku ga perlu ikutan ke P. Moyo ma Marsha& tmn2x. Ga perlu jd tengkar gini sama mb’Arika :’(

Cuma itu yang Retta dapatkan dari Agit, selebihnya Retta melihat sendiri bagaimana nama Agit ditulis dengan huruf kapital di Facebook Arika dengan kata-kata yang pastinya takkan ditulis oleh orang yang bermoral dan berotak normal. Arika bisa menjadi sangat jahat jika dia mau. Seberapapun kebaikan orang lain takkan lagi bisa diingatnya. Retta tahu beberapa kali Arika minggat ke rumah Agit dulu, pernah juga Arika seminggu penuh ‘mengamankan diri’ dari amukan keluarganya di kosan Agit. Retta tahu siapa Agit dan Arika dan dengan jelas bisa menentukan mana yang antagonis dan protagonis.
Selain itu Retta tahu betapa Marsha dan Agit tak pernah sejalan. Sebenarnya menghabiskan waktu bersama Marsha adalah cobaan besar bagi Agit— mereka bersaudara tapi satu-satunya yang membakar gairah diantara mereka berdua adalah persaingan, sibling rivalry diantara mereka sangatlah kuat. Sementara mau tak mau harus Retta harus mengakui bahwa hubungan antara dirinya dan Agit persis seperti pepatah dalam bahasa Sumbawa ‘Mana si tau sebarang kayu. Lamen toq senyaman ate. Ba nan si sanak parana.’ Yang berarti ‘Walau siapapun itu, orang sembarangan sekalipun. Kalau mampu membahagiakan dirimu. Sesungguhnya dialah saudaramu.’ Retta tak memiliki saudara perempuan dan Retta tahu dimana menemukan Agit ketika Retta membutuhkannya. Namun, dimana dia sekarang ketika Agit begitu membutuhkannya?
Retta ingin berada di sana, tapi apa daya Retta harus menyelesaikan sendiri masalahnya. Retta ingin seperti Agit menyimpan beban untuk ditanggungnya sendiri, bukankah memang lebih baik untuk berpura-pura bahagia daripada harus menceritakan pada dunia betapa kamu menderita. Retta tak bisa apa-apa sekarang ini, ada yang harus Retta selesaikan, ini menyangkut hidupnya dan masa depannya. Retta tak ingin menceritakan, karena menurutnya apa yang dihadapinya terlalu kelam untuk menjadi kenyataan.
Kehidupannya di tahun ini tak terlalu buruk, masih ada beberapa hal yang disyukurinya, dia akan mendapat pekerjaan baru. Dan juga Singapore-Malaysia menunggunya, dia akan menjadi duta budaya, dia akan menari di sana ikut serta dalam program pemerintah memperkenalkan kekayaan tanah kelahirannya dalam visit Lombok-Sumbawa. Ketika mendapat kabar bahagia itu, Retta merasa sangat beruntung tapi tak lama berubah menjadi nelangsa karena yang dia tahu ada hal yang lebih menyedihkan dibanding tak memiliki siapapun di saat kamu terpuruk, yaitu; ketika kamu begitu bahagia tapi tak ada sahabat perempuanmu yang akan ikut berbahagia bersamamu.

Cerber: Saudara Sejiwa (3)


Sumbawa Besar, Akhir Oktober 2012
Agit sebenarnya ingin membenci, tapi menurut Agit membenci adalah emosi yang tak boleh dimiliki, karena itu menyakitkan sekali. Dan, nantinya hatilah yang paling merasakan pedih. Agit sungguh tak mengerti kenapa bisa begini.
Memutuskan ikatan persahabatan hanya karena seorang pria? Agit jarang menggunakan kata pria, lidahnya lebih sering mengucapkan kata cowok untuk menyebut gender tersebut. Namanya Devon dan sekarang Agit berharap tidak pernah bertemu dengannya. Devon itu berusia dua puluh sembilan tahun, tiga tahun lebih tua darinya, itulah kenapa dia menyebutnya pria, itu bukan karena jumlah umurnya yang menjadikan dia layak disebut pria, tapi sikapnya. Devon adalah pria pertama yang membuat Agit nyaman berdiskusi dengannya, dan juga orang pertama yang membuat Agit merasa dipandang sebagai seorang perempuan bukannya cewek.
Eits sepertinya kita harus meluruskan sebelum kesalahpahaman menjadi sebuah persoalan besar. Karena hubungan Agit dan Devon benar-benar menjadi masalah yang besar. Agit tidak memiliki perasaan ... semacam suka atau sayang atau sejenisnya kepada Devon. Agit hanya merasa Devon adalah orang yang tepat untuk diajak berdiskusi, walau harus Agit akui mereka memiliki kendala, bahasa Inggris Agit tidak terlalu bagus, belum lagi indera pendengarnya sering kali berfungsi tidak maksimal, dan logat Swiss-Jerman Devon terlalu kental. Sekedar informasi Devon adalah seseorang yang Agit dan Marsha kenal dari situs CouchSurfing, dan mereka memberi Devon tumpangan di rumah orang tua mereka.
Bertemu seseorang yang menunjukkan wajah antusias ketika mendengarnya bicara dan mereka memiliki hobi yang sama serta adanya ‘unsur pemanfaatan’ Agit yang menjadikan Devon sebagai narasumber di kelasnya yang sungguh seperti sebuah kesempatan langka yang menjadi kenyataan. Di kelas XII Agit sedang membahas materi Sistem Pemerintahan di Dunia dan kebetulan negara si Devon ini satu-satunya negara yang bersistem referendum. Terdengar sederhana, kan? Tapi tidak bagi Arika. Arika, Agit, Marsha, Devon dan beberapa teman lainnya menghabiskan waktu bersama selama liburan, hingga di penghujung liburan, sepulangnya mereka dari Pulau Moyo, masalah itu seolah berguling menjadi bola salju yang membesar, membesar dan menghantam!

Cerber: Saudara Sejiwa (2)


Seteluk, Maret 2009- Pertengahan 2012
Mulai pertengahan Maret 2009, Agit seolah tak lagi memiliki kehidupan nyata. Ralat. Kehidupan nyatanya hanya sebatas sembilan puluh menit di sore hari pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Itu jadwal mengajarnya, di sebuah SMA baru yang masih menumpang di gedung SMP dan hanya memiliki tiga kelas, dan setiap kelas berjumlah tak lebih dari dua puluh anak. Secara pendidikan dia seharusnya mengajar Pendidikan Kewarganegaraan tapi pada prakteknya dia mengajar Sosiologi, hanya karena dia anak bawang dan pendatang, belum lagi karena kepentingan mereka yang berstatus guru profesional dan bersertifikasi jadilah dengan tidak rela tapi pura-pura memasang sikap ‘Okay nggak masalah’ karena ... siapa coba yang nggak mengalah kalau mereka sudah mengeluarkan mantera pamungkas “Kan, mbak Agit belum menikah, belum ada tanggungan, ya bantulah saya, ya cuma ini caranya supaya tunjangan sertifikasi saya dibayar.” Ya, semua orang butuh uang tapi Agit butuh belajar tentang kehidupan, dan itu adalah pelajaran kecil yang didapatkannya.
Agit hanya hidup secara nyata untuk siswa-siswanya, selain itu dia akan menyembunyikan wajahnya di balik buku, handphone, atau netbook-nya. Bukannya Agit anti sosial atau semacamnya, dia hanya merindukan mereka yang ada di kejauhan, karena orang-orang yang berada di sekitarnya, menganggapnya seperti makhluk hologram.
Kos-kosan pertama Agit di kampung itu hanya sebuah kamar kecil yang dulunya adalah garasi yang beralih fungsi menjadi toko dan perubahan terakhir resmi menjadi kamarnya. Bagian kecil dari rumah yang dijaga oleh seorang janda yang dipanggil Aya —yang berarti bibi dalam bahasa halus Sumbawa bagi mereka yang berdarah biru. Aya ini memiliki seorang putri yang hanya dua tahun lebih tua dari Agit, namanya Tanti dan seperti ibunya, perkawinan usia mudanya juga kandas. Pemilik rumah tersebut adalah Gyan, anak berumur tiga belas tahun, yatim piatu malang yang bahkan juga kehilangan ibu angkatnya. Ibu angkatnya yang dipanggil mami adalah pemilik asli rumah bergaya semi oriental itu. Tapi, mami meninggal saat umur Gyan sebelas tahun tinggallah Gyan diasuh oleh sepupu mami itu. Mami memiliki seorang putri tunggal yang sekarang tinggal di Maumere bersama suaminya yang berkebangsaan Jepang. Karena itulah mami akhirnya mengangkat Gyan sebagai anak. Mami adalah pribumi asli, tapi mami yang eksentrik itu tergila-gila pada berbagai hal yang berbau oriental, dari foto-foto yang menampakkan wajahnya di tembok rumahnya bisa disimpulkan bahwa beliau mengidentifikasi dirinya seperti wanita keturunan Cina atau Jepang, obsesi yang akhirnya diwujudkan oleh Memey putrinya.
Agit berusaha beradaptasi di rumah itu, tapi keadaan tak memungkinkan. Tidak ada kesamaan antara dirinya dengan penghuni lain di tempat itu, termasuk dengan Ninda yang dulu satu SMA dengannya yang juga menyewa kamar di sana atau dengan Oni, cowok pemalu yang langsung menutup pintu tiap kali bertemu muka dengan Agit. Jadi, untuk mengatasi kesepiannya Agit mengubah jadwal hidupnya. Dia akan terjaga sepanjang malam dan mulai tidur setelah sholat Subuh, jam dua belas siang barulah dia bersiap-siap ke sekolah, mengajar sepenuh hati jika dia ada kelas dan menjadi Zombie sesudahnya karena kehidupan sekolah seakan tak mengundangnya untuk bersosialisasi dengan jajaran rekan kerja lainnya.

Cerber: Saudara Sejiwa (1)



Seteluk, Desember 2013.

Dua kepompong itu tidak ingin menghadapi hari. Mereka meringkuk malas dan berharap hari baru tidak datang dan mereka bisa terus bermimpi. Salah satu dari kepompong itu bergerak-gerak gelisah, lalu tak lama menampakan wajah mengantuk yang muncul begitu saja dari balik kain pantai berwarna merah muda. Tak lama tangannya terlihat meraih-raih sesuatu— tanpa membuka mata, dan tepat! Tangan itu meraih handphone yang masih tersambung dengan charger tercolok. Kebiasaan buruk!
Sekarang wajah itu mulai berekspresi, mengerjap-ngerjapkan mata dan menguap. Terlalu dini untuk ekspresi bosan, tapi dia tak peduli. Dia mencabut charger handphone-nya dan meletakkan si not so smartphone-nya di telinga lalu berbicara.
“Bangun sayang sudah setengah tujuh,” suara manja dan serak khas pagi hari.
Secara tiba-tiba, kepompong lainnya ikut terjaga, dia menyingkap kain pantai biru mudanya dan seakan lompat dari tempat tidur begitu saja, tubuhnya sangat ringan, gerakannya bahkan terlihat sepeti gerakkan burung pipit yang terbang.
“Kamu pacar apa alarm?” sindir gadis yang terlihat begitu mungil untuk usia dua puluh enam jelang dua puluh tujuh tahun. Dia mengenakan pakaian dalam pelangsing berwarna beige.
Si kempompong pertama melemparkan bantal.
“Ouch!” terlalu malas untuk membalas, si kempompong kedua memilih duduk di depan meja kecil lipat tempat netbook-nya berada, dengan malas-malasan dan setengah mengantuk dia memulai memilih-milih lagu untuk dimasukkan ke dalam playlist-nya. Tak lama mulai terdengar musik, dia mulai menggoyang-goyangkan badannya mengikuti irama. Berjalan mondar-mandir dan setengah teler di lantai yang  tertutup serakan kertas, buku, dan majalah.
Penghuni kamar itu adalah dua orang gadis, tapi percayalah ... kamar itu lebih tepat di sebut kamar remaja cowok yang membawa pacar ‘dewasa’ mereka untuk menginap— luar biasa berantakan tapi dipenuhi perlengkapan perempuan. Lantai mereka dipenuhi debu yang mereka klaim sebagai sel-sel kulit mati, tapi lebih tepat karena sudah nyaris dua pekan sapu plastik mereka menjadi pengangguran, jangan tanyakan tentang kain pel dan cairan pembersihnya. Mereka sepakat takkan membersihkan apapun, sampai tahun 2014 nanti. Desember ini mereka hanya ingin, hidup dalam rasa malas dan pasti nantinya akan diikuti oleh rasa bosan permanen.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Yang Hilang Yang Dikenang


Gambar: Di sini 

“Sepuluh tahun ke depan....”
                “Kita masih bersama dan selalu bahagia,”
                Terdengar luar biasa.
                “Kita akan memiliki pondok mungil dari kayu di kaki bukit. Memiliki taman bunga Matahari ...“
                “Jangan lupa kebun sayur dan buah!”
                “Berperahu setiap sore, menikmati matahari terbenam.”
                “Berdansa di bawah sinar bulan,”
                “Menghitung bintang-bintang,”
                “Memulai petualangan!”
                “Kemana?”

Kamis, 05 September 2013

[FS] Perjalanan Panjang untuk Secangkir Kopi



Hanya perlu 0,013 detik bagiku untuk memutuskan bahwa gadis yang seolah muncul begitu saja di depanku ini sangat menarik. Di detik berikutnya kusadari bahwa caligynephobia[1]-ku belum sembuh benar. Ketakutanku muncul bersamaan dengan wajahnya yang cantik. Terakhir kali aku berhubungan dengan wanita cantik bukanlah pengalaman yang baik. Pertunanganku berakhir, cintaku dikembalikan tapi tidak cincinku. Hal terburuknya namaku dijadikan nama anjing hadiah dari kekasih barunya. Sungguh pengalaman yang traumatik.
            “Hey, boleh aku menumpang?”
            Gadis itu bertelanjang kaki, roknya tertiup angin dan ada senyuman di wajahnya. Apa aku bisa menolak?
            “Siapa namamu?” setidaknya aku bertanya.
            “Apa film kesukaanmu?” dia balik bertanya, dan itu tidak sopan menjawab dengan pertanyaan.
            “Star Wars.”
            “Call me Princess Leia!” dan tanpa menunggu kata-kataku dia duduk diboncenganku. Untuk membuatnya nyaman, ransel kubiarkan ransel berpindah dari punggung ke dadaku. Aku bisa membayangkan kulitnya yang cerah dan halus yang tadinya tersingkap saat angin meniup roknya. Aku bisa membayangkan kedua tangannya mungil menembus jaket kulitku. Aku bisa membayangkan kepalanya yang lelah akan disandarkan ke punggungku. Ini menit kedelapan dan kuputuskan bahwa ini cinta pada pandangan pertama, semoga dibenarkan.
            Seandainya gadis ini tahu yang aku alami. Aku lelah dan marah karena kebodohan dan kecerobohanku. Dua hari yang lalu aku memutuskan menyewa trail, mengabaikan backpack-ku menukarnya dengan ransel berukuran sedang. Kupikir hanya dua atau tiga hari dan cuma melewati dua selat dan sebuah pulau. Apa yang kuinginkan? Hanya secangkir kopi! Idiot, Starbucks menawarkan aneka kopi dan Nescafe dari Nestle bahkan berasal di negeriku. Aku menginginkan kopi yang didapatkan dengan petualangan melewati gunung dengan pemandangan indah hutan dan jurang yang curam, dinikmati dengan cara tradisional dalam kebersamaan dan kesederhanaan. Kudengar hal itu bisa kudapatkan di suatu tempat bernama Tepal. Siapa yang memberitahuku? Lonely Planet? Nope! Lonely Planet said there's nothing to do in Sumbawa! What a big mistake and i said it's not the place, it’s the people!       Terburu-buru aku melupakan hal yang sangat aku perlu, tidak ada handphone tidak ada GPS tidak ada layanan internet, setidaknya aku masih punya kamera dan dua buku dari Anna Seghers dan Franz Josef Wetz.

Senin, 01 Juli 2013

[Review Novel] Always be in Your Heart

Add caption



Judul                : Always be in Your Heart (Pulang ke Hatimu)
Penulis             : Shabrina Ws
Penyunting       : HP Melati
Proofreader     : Yunni Yuliana M
Penerbit           : Qanita


Kadang untuk membuktikan cinta sejati, diperlukan sebuah  perubahan besar, dimana; jarak, waktu, dan keadaan menjadi pengujinya.
Marsela:
Aku selalu menantimu dari matahari di timur, matahari di barat hingga terbit lagi. Aku telah melewati musim yang berganti berulang kali. Tapi kau tak pernah hadir di sini. Kini sepuluh tahun kulewati, aku tak yakin lagi, bahkan pada hatiku sendiri.
Juanito:
Siapakah kita, ketika pada akhirnya sejarah telah berbicara. Bahkan sungai bisa saja berubah muara. Sekuat apapun aku bertahan, sepuluh tahun telah mengubah banyak hal. Dan nyatanya, keadaan memang tak lagi sama.

***

Aku bersyukur membaca novel ini. Shabrina Ws dengan sangat baik membuat kita kembali mengingat salah satu peristiwa sejarah yang sangat penting bagi dua negara Indonesia dan Timor Timur. Sejujurnya aku suka latar belakang ide dan cara bercerita di novel ini juga cara penulis bercerita. Prolog dibuka dengan sudut pandang Lon dan diakhiri dengan Epilog oleh Royo, perlu diketahui baik Lon atau Royo adalah seekor anjing yang menyaksikan bagaimana sejarah mengubah sebuah kisah cinta yang nyaris saja indah.

Jumat, 01 Maret 2013

My New Novel: Edelweiss




It’s a pure Fiction. it's a novel. It's inspired by a lot of things.
It isn't speaking to some deeper truth

***


            Salah satu hal yang membuatku merasa bersalah belakangan ini adalah aku tak sempat menulis untuk blogku, dan mengingat apa yang terjadi di tahun kemarin, ya ampun aku sangat produktif menulis di tahun 2012, dan di tahun ini aku hanya mengawalinya dengan sebuah artikel dan (dengan nekat dan Oh thanks God) sebuah novel (aku selalu berharap punya waktu tak terbatas atau energi yang tak ada habisnya, dengan begitu aku bisa melakukan segalanya dengan mudah) tapi tetap saja aku menulis lebih banyak tahun kemarin.
            Tak perlu membandingkan tahun lalu dan tahun ini, dan sebenarnya ini juga bukan alasan yang tepat, aku terlalu sakit dan terlalu sibuk, tapi sekarang semua baik-baik saja. Kali ini aku ingin bercerita tentang novel yang baru saja aku tulis; Edelweiss (sebenarnya aku menulis ini bulan lalu dan baru sempat membahasnya di blog)
            Biasanya aku memposting novelku langsung di blog tapi maaf untuk Edelweiss aku tak bisa karena aku mempersiapkannya untuk .....tebaklah! Tapi yeah baiklah akan kuceritakan sedikit tentang Edelweiss, tapi seperti kukatakan di awal bahwa It’s a pure Fiction. it's a novel. It's inspired by a lot of things.  It isn't speaking to some deeper truth. Jikalau ada diantara kalian yang merasa sebagai si tokoh (ini berlaku untuk teman-temanku, jika kamu merasa bahwa si tokoh adalah kamu, tapi kamu harus tahu aku hanya mencomot sebagian dari diri kamu, well aku pernah berjanji membuat tokoh seperti kamu dan yeah kini aku menepati dan… untuk tokoh Edelweiss aku seperti menumpahkan gadis-gadis penghuni pondok Edelweiss dan mencampurkannya menjadi seorang gadis, FYI: Edelweiss adalah nama kos-kosanku di Mataram, dan kota Mataram jadi setting untuk novel ini, ya ampun aku merindukan Mataram dan kehidupanku di sana)Oooopss baiklah inilah sedikit ringkasan ceritanya;

Rabu, 03 Oktober 2012

The Triangle



Juni, 2011
Kejora
          Pelajarannya adalah; jangan pernah mengambil keputusan besar saat kamu sedang jatuh cinta! Itulah nasehat yang seharusnya kuteriakkan pada diriku sendiri.
Sekarang aku menatapnya, pria yang tadinya kupikir benar-benar kucintai, tapi mungkin dia tak lebih dari sekedar obsesi. Kesalahan terbesarku adalah, yeah…kupikir aku jatuh cinta, dan dengan cinta segalanya akan berubah menjadi indah.
“Kejora…” Alfan memanggil namaku pelan, selalu begitu, lidahnya tak pernah terbiasa memanggilku dengan sebutan lainnya, sewaktu-waktu kadang aku ingin dipanggil dengan kata sayang.
Aku menatapnya dengan malas, aku ingin merobek kertas seharga lima ribu Dollar, hadiah ulang tahunnya untuknya, paket wisata mewah ke pulau Moyo, kami memerlukan liburan, kami sudah bekerja terlalu keras selama ini, okay diralat…dia yang bekerja terlalu keras, dan aku hanya terlalu lama menjadi pengangguran terselubung di sini, di sebuah kecamatan kecil di suatu tempat yang lebih nyaman kusebut antah berantah, di sini dokter gigi tak terlalu laku, kalah pamor dibanding tukang gigi.

Kamis, 28 Juni 2012

Mbak, Izinkan Aku Membalas Budi


Feat : Sekar Mayang

Sore itu adik iparku, Putri, berkunjung ke rumah. Sudah lama kami tak berjumpa. Sejak pertengkaran terakhir antara suamiku dengannya - yah, sekitar dua tahun yang lalu - baru kali ini dia berani menampakkan wajah. Aku tak ingin memperkeruh suasana, kuterima dia dengan tangan terbuka.

“Apa kabar mbak?” tanyanya.

Dia tersenyum lalu merangkulku, pipinya ditempelkan ke pipiku dengan kikuk. Kami memang tak terlalu akrab.

“Baik,” jawabku. “Kamu, apa kabar, Put?” tanyaku sambil membantunya duduk di kursi kayu  di ruang makan.

Dia tak menjawab, hanya menatap sekeliling ruangan, sudah lama dia tak pulang, aku membiarkan dia bernostalgia terhadap tempat yang pernah dia sebut rumah.

“Bagaimana kabarmu, Put?”

Obrolan Jam Satu Pagi



Hidup menjebakku, dan kali ini entah keberapa kali. Tapi jebakan awal yang paling kuketahui adalah aku terlahir dari…bolehkah kukatakan bahwa wajahku terlalu metropolitan untuk tinggal di kecamatan? sebenarnya aku terlahir dari keluarga dengan ekonomi tak memadai, tapi bisakah dibayangkan, bahwa…wajahku anugerah yang Tuhan berikan, dengan wajah rupawan, hidupku cukup dimudahkan, tapi kadang juga bisa menjebakku ke dalam kesulitan. Seperti belakangan ini.

“Oh ya?” gadis di depanku menunjukkan ekspresi skeptis, alis kirinya lebih tinggi, dan sekarang dengan cepat dia menyesap kopinya. Kupikir kegiatan menyesap kopi akan menutupi sebagian ekspresinya. Gadis didepanku memang memiliki alasan untuk tak percaya di depanku.

“Jadi?” dia mengangguk “boleh ganti topik yang tidak sensitif?”sebelumnya kami berbicara tentang aktivitas seksualnya, namanya Amara. The girl next door. Kurang dari sebulan aku pindah kos baru, dan tebak siapa penghuni kamar sampingku, cewek lajang yang kupikir jalang. Apakah penilaianku salah? Saat ini pukul satu dini hari dan kami masih saling berhadap-dan hadapan hanya dibatasi tembok sebatas paha dewasa yang memisahkan kamarku dengan kamarnya.

Salahkah penilaianku karena gadis itu hanya menggunakan camisole Fuschia dan boxer pelangi? Salahkah penilaianku bahkan setelah semua penghuni kos yang semuanya berumah tangga pada tidur semua dan dia tidak keberatan ngobrol denganku, dan tak menolak tawaran rokokku?

Sabtu, 09 Juni 2012

Friend Or Foe (Chapter Three)




Beberapa pelayan yang disewa Robert keluar dengan segera ketika pintu dapur dimasuki dengan langkah buru-buru oleh Nala dan Marion. Nala membelakangi Marion yang ragu-ragu untuk menyentuh pundaknya yang bergetar. Kemarahan, kesedihan, dan rasa gusar yang tak tertahankan membuat Nala merasa lemah tak berdaya. Dari cermin Marion melihat wajah sahabatnya dalam ekspresi yang sulit dilukiskan. Sementara Nala yang mengetahui kehadiran Marion, pada mulanya lebih suka mengabaikan, tapi dia tahu itu tak berguna. Sekian lama Nala menyimpannya, dan mungkin inilah waktunya untuk dia menumpahkan segalanya – seperti dia menumpahkan sisa Wine yang dia tumpahkan ke wastafel dengan gelasnya begitu saja.