Date a girl who reads

Date a girl who reads

Sabtu, 09 Juni 2012

Friend Or Foe (Chapter Three)




Beberapa pelayan yang disewa Robert keluar dengan segera ketika pintu dapur dimasuki dengan langkah buru-buru oleh Nala dan Marion. Nala membelakangi Marion yang ragu-ragu untuk menyentuh pundaknya yang bergetar. Kemarahan, kesedihan, dan rasa gusar yang tak tertahankan membuat Nala merasa lemah tak berdaya. Dari cermin Marion melihat wajah sahabatnya dalam ekspresi yang sulit dilukiskan. Sementara Nala yang mengetahui kehadiran Marion, pada mulanya lebih suka mengabaikan, tapi dia tahu itu tak berguna. Sekian lama Nala menyimpannya, dan mungkin inilah waktunya untuk dia menumpahkan segalanya – seperti dia menumpahkan sisa Wine yang dia tumpahkan ke wastafel dengan gelasnya begitu saja.


“Siapa yang bisa kupercaya sekarang?” Nala menghela nafasnya yang berat, seberat ketidaknyamanan yang ia rasakan selama ini. “Jebakan dan pengkhianatan! Apa lagi yang bisa dijelaskan?” Nala ingin bicara dalam nada kasar tapi kemarahannya tertahankan karena tiba-tiba dia diselimuti kelelahan.
I’m so sorry…,” Marion menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Kupikir masih belum terlambat untuk memperbaiki segalanya.”

“Akan lebih baik membiarkan segalanya berantakan daripada memaksa menyatukan banyak retakan yang berujung menyakitkan,” sahut Nala yang masih membelakangi Marion.

Nala tiba-tiba memikirkan banyak hal. Waktu yang sudah begitu lama berlalu, seharusnya dia tak pernah tahu. Segala sesuatu yang tak diketahuinya tidak akan menyakitinya. Pengkhianatan terasa menyakitkan dan menghancurkan kepercayaannya terhadap sebuah hubungan yang bernama persahabatan. Nala merasakan sentuhan tangan Marion di kulitnya, rasanya seperti terbakar. Kini Nala tak ingin lagi menyangkal.

“Kau pikir mengapa aku pergi? Mengapa aku terlihat seperti membenci diri sendiri? Yeah, I hate myself and I wanna die.” Nala seperti sedang memperolok dirinya. “Tanyakan dirimu sendiri!” Kali ini Nala menatap lurus ke cermin, hingga mata hijaunya berpandangan dengan mata hazel Marion. “Because the reason is you!” ada nada menghakimi. “Mungkin aku orang paling egois di dunia, but…. Oh, God! Aku memandangmu sebagai kembaran jiwaku, saudara secara emosional.” Sedikit berat, saat Nala ingin menyampaikan kata-kata selanjutnya. “Kau menyembunyikannya, tak ingin fakta itu diketahui oleh diriku. Tapi sesuatu yang kau lakukan dengan Dalton di balik punggungku – sejujurnya – tak ingin kumaafkan. Tapi bahkan untuk orang sepertiku, bijaksana kurasa perlu.”

Nala berbalik, hingga keduanya saling bertatapan. Tapi tak lama Marion memilih untuk menatap ujung sepatu Christian Loubotinnya. “Walau menyakitkan…,” sambung Nala lagi, “kau ada di sana saat aku terpuruk. Kau menyelamatkan aku nyaris di sepanjang hidupku. Kupikir menutupi kecintaanmu terhadap kekasihku.” Nala memilih menatap langit-langit sekarang, dia tak ingin menumpahkan air matanya yang menggenang. “Aku berusaha mencari alasan agar aku bisa membencimu.” Suara Nala lebih serak sekarang. “Tapi aku tak bisa.” Nala menggelengkan kepalanya perlahan. “Menyalahkan perselingkuhanmu dan Dalton membuat segalanya terasa nyata. Sehingga baik buatku untuk pura-pura membuat alasan lain untuk mempertegas kepergianku. Kau tahu itu menyakitiku, tapi di sini bukan hanya aku yang tersakiti.” Nala tak lagi kuasa menahan air matanya. “Tapi kita semua.”

Marion menatap Nala yang ingin menghapus air matanya. Tapi di saat yang sama, Marion bahkan tak sanggup menghapus air matanya sendiri.

“Kadang aku bertanya. Apa, mengapa, dan bagaimana.” Nala bicara lagi. 

“Tahukah kau apa yang kita dapatkan?” Ia seolah bertanya pada Marion.

“Hanya alasan!” Nala menjawab pertanyaannya sendiri. “Sementara kita tahu yang paling kita butuhkan adalah pemahaman, hingga aku mendapat satu keputusan untuk melupakan kebenaran. Kuubah kenyataan menjadi khayalan. Dan yang kupilih adalah pergi dan tak lagi percaya hati.”

Nala menatap Marion, tapi Marion masih tak mampu untuk membalas tatapan sahabatnya. “Kau tahu, kerusakan dalam hidupku takkan menyakiti siapapun. Tapi noda dalam hidupmu yang sempurna, itu bisa mengubah segalanya. Bisakah kita berhenti sekarang dan biarkan segalanya berjalan seperti alurnya?” tanya Nala pada sahabatnya.

“Demi kesalahan yang telah terlewatkan, I beg you a mercy.” Marion sungguh-sungguh, tangisan meleleh di wajahnya. “Inilah yang bisa kulakukan untuk memperbaiki segalanya. Kumohon kembalilah pada Dalton.”

“Seharusnya segalanya tidak perlu terjadi. Dan tidak ada yang perlu untuk diperbaiki.” Nala sudah mulai dengan nada bicara seperti biasanya, terdengat seperti orang yang tidak peduli segalanya. Bahkan jika ada Anaconda di sampingnya, ia hanya perlu menyingkir tanpa perlu berteriak histeris seperti kebanyakan wanita.

“Aku dan Dalton,” ujar Marion. “Mungkin kau harus tahu sekarang. Dalton hanya obsesiku. Pada akhirnya, aku kembali pada seseorang yang mencintaiku. Dan Dalton, seharusnya ia bisa bersama seseorang yang tak pernah hilang dari hatinya. Aku tak bisa sepertimu, Nala. Kau tak harus belajar keras, kau tak harus berusaha menjadi teladan, dan kau bebas menentukan pilihan. Kadang aku iri. Tapi pada akhirnya aku tahu, aku tidak boleh begini. Kau sahabatku, yang terbaik yang pernah ada dalam hidupku.” Marion menatap Nala, untuk meyakinkannya.”Kembalilah seperti dulu.”

“Katakan padaku bagaimana cara menghidupkan rasa yang telah mati?” tanya Nala pelan. Ia berharap Marion tak punya jawaban untuknya.

“Bisakah kita memulainya dari nol?” Marion bertanya. “Anggaplah ini kali pertama kau dan Dalton bertemu. See?! Tidakkah kau berpikir aku dan Robert tak melewati saat seperti ini? Jika tidak, mungkin ini bukanlah pesta pre-wedding kami. Mungkin ini tak lebih dari reuni SMA kita saja.”

Nala tertawa, sejenis tawa lelah terpaksa. “Sayang sekali, honey….” Ia menyapukan jemarinya di rambut merah Marion yang membandel. “Hidup kita bukan seperti komedi romantis tontonanmu. Realistislah!”

I need you to rethink about that. Aku akan kembali ke dalam, banyak tamu yang harus kutemui.” Marion menghela nafas panjang, lalu berkata ”Talk to him, please.” Marion memohon. “I’m begging you.” Dan Marion pun meninggalkan Nala yang kini membelakanginya.

Nope! Aku lebih suka membenamkan diri di lautan dari pada bertemu dengannya.” Nala bicara dengan marah pada dirinya sendiri.

Marion menghampiri Robert dan Dalton yang masih berdiri di samping bar. Sekilas ia melihat memar semu yang berada di pelipis Dalton. Lalu beralih melihat Robert dan langsung menghujani tunangannya itu dengan pandangan menyalahkan. Marion tidak meminta Robert bertindak sampai sejauh itu. Namun sepertinya Robert tetap tidak ingin disalahkan. Robert tidak ingin harga dirinya turun hanya gara-gara tatapan Marion yang terlihat menghakiminya.

“Robert. Bisa kupinjam Dalton sejenak?” Marion masih memberikan tatapan tajamnya pada Robert, seolah memaksa Robert untuk meminta maaf padanya di kesempatan pertama.

Robert tidak menjawab pertanyaan Marion. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Ia langsung menjauh dari Marion dan Dalton untuk menemui tamu undangan yang lain.

“Kau bisa bicara dengannya sekarang, Dalton,” ujar Marion setelah memastikan Robert cukup jauh untuk bisa mendengar percakapan dirinya dan Dalton.

“Nala yang ingin berbicara denganku, atau kau yang memaksanya untuk bicara denganku?” tanya Dalton dengan nada menghakimi.

Is that matter now?” Marion balik menyerang ucapan Dalton.

“Oke. Aku akan bicara dengannya.”

Dalton beranjak dari samping bar menuju dapur. Dari jauh ia melihat Nala sedang menatap microwave. Gadis itu tidak tahu Dalton sedang berjalan ke arahnya.

“Nalton!” setengah teriakan Dalton mengagetkan Nala.

Nala sangat mengenal suara itu. Dan lebih parahnya lagi, Nala merindukan suara itu. Seketika itu juga, ia langsung berbalik untuk melihat si empunya suara.

“Begitu mereka menyebut kita di High Schoolhuh?!” Dalton masih berbicara denga nadanya sama, selalu menggoda. “Tidakkah kamu merindukan episode di saat masih bersama, saat masih saling jatuh cinta?”

Nala memasang pertahanan, tapi dia kebingungan tak tahu harus bagaimana. Jadi wajah angkuhnya adalah tameng terbaik yang dia punya. “Ada yang tak ingin melupakan masa lalu rupanya,” sindir Nala. “By the way…, senang melihatmu belum terpanggang di neraka.”

“Kau merindukanku. Itu, kan, artinya?” Dalton membalas dengan nada jahil seperti biasanya.

“Itu hal terakhir yang ingin kurasakan.”

“Dan aku orang pertama yang ingin mempercayainya.” Dalton tertawa renyah, ada beberapa orang di ruang tengah yang sempat menengok sebentar ke arah mereka. “Bisa kita bicara?”

“Kau pikir apa yang sedang kita lakukan?” tanya Nala. Sesaat kemudian, ia merasa tangan Dalton menyentuh lengannya. Masing-masing dari mereka merasakan sensasi yang mereka rindukan. “Hei! Sopan sekali kau! Menyentuh tanpa izin dikategorikan sebagai bentuk pelecehan seksual.”

“Kau terdengar seperti Robert. Membosankan.”

Nala membuang muka. Mereka terlihat seperti sepasang remaja yang tengah bertengkar.

Come on!”

Dalton masih menatap Nala. Tatapannya memohon. Tapi Nala tak bisa menolak ketika Dalton membawanya menuju rooftop. Di sana, mereka duduk di tepi kolam, saling memandang.

“Apa yang kamu inginkan?” Nala bertanya cepat, dia ingin mengakhiri segalanya dengan mudah.

“Menikahlah denganku.” Dalton merogoh sakunya. Tanpa kotak beludru, benda mungil itu terlihat berkilauan di bawah cahaya bulan. Sayang Nala tak terkesan.

Please…,” Dalton memohon.

Nala ingin membuang muka. Tapi ketika mata Dalton bertemu pandang dengan matanya, tatapan mata pria itu seolah menghipnotisnya. Ia ingin berhenti terpesona, tapi tak bisa. Apalagi ketika ia teringat gambar permanen wajahnya di lengan kiri Dalton, ia hanya ingin tersenyum. Selanjutnya, Nala benar-benar tidak menolak ketika pada akhirnya bibir Dalton menyentuh bibirnya.

Dari kejauhan Robert dan Marion menatap mereka. Keduanya berharap malam ini kisah Dalton dan Nala akan seindah mereka. Walaupun sejujurnya, Robert masih menyimpan marah. tapi ketika dia melihat binar bahagia saat Marion menatap Nala dan Dalton, Robert memilih menyerah, dan memberikan ciuman hangat penuh cinta untuk kekasihnya.

— T H E  E N D —

Tidak ada komentar:

Posting Komentar