Date a girl who reads

Date a girl who reads

Selasa, 26 Juni 2012

Para Orang Tua Harus Membantu First Lady dan Disney untuk Memerangi Obesitas Pada Anak-anak


Sehat Versus Sampah! itu cuma soal pilihan

Pernah menonton film the Game Plan Produksi Disney? mungkin beberapa adegan dalam film ini memberi kita sedikit pelajaran.

Salah satu adegan
 di Film The Game Plan
Joe Kingman : “Tonight's Tuesday. We're going to carbo-load…Twenty-twenty-sixty ratio.”
Peyton Kelly : ”What?...“Hey, do you have any Jell-O? I want some Jell-O.”
Joe Kingman : “Like I said, please don't touch. …Fingerprints. I don't like fingerprints….Stand right here, don't do anything…I'm not giving you 28 grams of empty carbohydrates….We do not do simple sugar in this house.”
Peyton Kelly : “ But I'm a kid and kids love sugar. I mean, the simpler the better.”
Joe Kingman : “Well, my dad never let me have sugar.”
Peyton Kelly : “ Oh, is that why you never smile?”
Joe Kingman : “Mmm….Listen, you better eat your food…before it gets cold.
Peyton Kelly : “But it's as big as a mountain.”
Joe Kingman : “Listen, if you're going to make the pros, you have to get your appetite up. Let's go. Eat.”


            Sebuah obrolan di dapur saat sang ayah, Joe Kingman yang baru jadi “ayah” mendadak harus mempersiapkan makan malam keluarga. Sedikit lucu menurutku, mana kala Joe yang “cerewet” tentang kebersihan (bahkan dari sidik jari) harus kerepotan menghadapi si kecil Peyton yang seperti anak-anak pada umumnya tak bisa diam di tempat, apalagi saat Peyton mendadak meminta Jell-O, sesuatu yang tak mungkin ada di lemari es sang petarung lapangan Football.


Aku suka apa yang dikatakan Peyton tentang anak-anak yang suka gula (dan ngakak di bagian ketika Joe bercerita tentang ayahnya yang tak pernah membolehkannya makan gula yang menjadi senjata Peyton untuk menyerang Joe tentang alasan di balik penyebab Joe tak pernah tersenyum haha). Yeah, pada akhirnya Peyton harus tunduk dengan menu ala Joe, menu kaya karbohidrat dengan porsi segede gunung.

Di lain kesempatan, saat Peyton terlibat obrolan dengan Stella manajer ayahnya, Peyton bersih keras menolak “bersikap baik” pada sponsor ayahnya yang adalah restaurant junk food bernama Fanny’s, tahu apa yang dikatakan Peyton? My mom says that Fanny's…makes kids fat and gives them gas. (Mamaku bilang kalo Fanny’s bikin anak-anak gendut dan sering kentut). Tapi seperti yang kita ketahui bersama bahwa, Peraturan no.1: Orang dewasa tidak pernah salah; Peraturan No.2 : Jika orang dewasa salah, lihat kembali peraturan no 1! Dan Peyton harus patuh mana kala Auntie Stella bilang: Well, your daddy's agent says Fanny's makes him fat with cash.” (Well, agen Papamu bilang kalo Fanny’s bikin kantung duit Papamu gemuk!”

Dua adegan dalam Film tersebut memberi sedikit pelajaran tentang dalam mengatur pola makanan seorang anak itu ternyata tidaklah mudah. Di suatu sisi sang ayah meminta anak untuk memakan makanan bergizi, dan di sisi lain orang lain dengan alasan egois seolah mengatakan bahwa junk food itu bukanlah masalah selama itu menguntungkan, dalam hal ini karena product tersebut merupakan salah satu sumber pendapatan ayahnya.

First Lady dan Disney 
berjuang melawan obesitas pada anak
Bagaimana anak-anak tidak bingung? Sebagian orang dewasa menunjukkan jalan dan sebagian lagi malah menyesatkan mereka. Mungkin itu yang perlu aku katakan tentang apa yang terjadi pada saat ini mengenai Fenomena Obesitas yang terjadi pada anak-anak. Melalui salah satu video yang kulihat di VOA edisi 10 Juni 2012 tentang First Lady yang baik hati dan Disney yang aku cintai berada di sana untuk menyelamatkan anak-anak yang bersiko terkena obesitas di Amerika Serikat (Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 17% anak-anak di negara itu dikategorikan obesitas). Sebuah program dari Ibu Negara Amerika, Michelle Obama, untuk melawan obesitas di kalangan anak-anak Amerika yang mendapat dukungan dari perusahaan yang akrab dengan anak-anak, yakni Walt Disney Company yang berjanji untuk tidak menerima iklan dari produk yang dapat merusak kesehatan anak-anak seperti permen, cereal bergula dan makanan ringan yang terlalu asin.

Obesitas menjadi masalah di negara-negara berkembang dan negara-negara Maju (aku turut prihatin dengan anak-anak kelaparan di negara-negara Dunia ketiga ―kita akan membahas masalah ini di lain waktu). Obesitas pada saat ini seolah menjadi epidemi yang cukup mengerikan, walau kabar baiknya, menurut Satuan Tugas Obesitas Internasional, di beberapa bagian Afrika, ada lebih banyak anak yang mengalami obesitas ketimbang malnutrisi, yang berarti bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Walaupun tak bisa dikatakan kasus obesitas terlihat “lebih baik” dibanding kasus Malnutrisi.

Kasus obesitas yang terjadi belakangan ini tentu saja memiliki penyebab, salah satu penyebab utamanya adalah berubahnya pola makan. Secara pribadi aku memuji langkah yang diambil oleh First Lady dan Disney dalam menggalakan “penolakan penayangan iklan junk food dan makanan nirnutrisi” karena iklan junk-food atau makanan nirnutrisi yang gencar, memberikan kontribusi efek negatif bagi pertumbuhan jumlah penderita obesitas pada anak-anak. Hanya saja pertanyaannya; APAKAH BIJAK JIKA KITA HANYA MENYALAHKAN IKLANNYA SAJA? DIMANA PERAN KELUARGA DAN ORANG TUA????

Kadang Junk Food 
jadi solusi praktis bagi orang tua
Di negara-negara maju dan berkembang, sebagian orang tua adalah pekerja yang kemungkinan memiliki waktu lebih sedikit untuk anak-anaknya, sehingga kadang para orang tua cenderung terbantu dengan kehadiran Restarant Junk food dan aneka penganan instant, saat mereka terlampau lelah sepulang bekerja dan mungkin ide meraih gagang telepon dan memencet nomor restaurant cepat saji bisa jadi sebagai penyelesaian masalah praktis.

Bahkan anak-anak harus tahu
 ukuran normal tubuhnya
 Hanya saja mereka mungkin tak jauh berpikir bahwa dikemudian hari kemudahan praktis semacam ini akan menjadi tragis manakala, komplikasi dari obesitas seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan serangan jantung menghantui, bisa jadi dimasa depan generasi kita banyak yang tidak bisa mencapai usia dewasa.

Keberhasilan Diet Dara-Bea 
yang menuai kecaman
Obesitas? kita punya solusi, DIET! Diet? Aku pernah membaca kasus dari seorang sosialita asal Manhattan, Dara-Lyinn Weiss yang dikecam setelah berita tentang keberhasilannya menguruskan Bea, putrinya yang diusia tujuh tahun telah memiliki berat 42 kg sementara tinggi badannya hanya 132 cm. Weiss sebenarnya tak terlalu bertekad membuat anaknya kurus tapi setelah anaknya ketakutan dan menangis sepulang sekolah gara-gara olokan, Weiss seperti tak punya pilihan lain, sementara Para ahli gizi tidak merekomendasikan diet ketat untuk anak, karena hal itu dapat berdampak buruk pada pertumbuhan dan kesehatan anak. Sebaliknya, menurut Klinik Mayo ”Salah satu strategi terbaik untuk memerangi kelebihan berat badan pada anak Anda adalah memperbaiki pola makan dan jumlah olahraga seluruh keluarga.” Sejujurnya aku khawatir pada kondisi si kecil Bea, semoga dimasa depan dia takkan menjadi penderita anorexia. Dara Lyinn Weiss harusnya mempertimbangkan alasan kesehatan bukan hanya gara-gara alasan konyol penampilan.

Menurut pendapatku sepertinya para orangtua harus mencontoh saran dari National Institutes of Health dan Klinik Mayo untuk memerangi ancaman obesitas pada anak, sebagai berikut:
1. Beli dan sajikan lebih banyak buah dan sayuran daripada makanan yang siap olah.
Pola makan keluarga 
menentukan kesehatan anak-anak
2. Batasi minuman ringan, minuman yang manis-manis, dan camilan manis yang kaya lemak. Sebaliknya, berikan air atau susu rendah lemak dan camilan yang sehat.
3. Memasaklah dengan metode rendah lemak, seperti memanggang dan mengukus, ketimbang menggoreng.
4. Sajikan makanan dalam porsi yang lebih kecil.
5. Jangan gunakan makanan sebagai upah atau suap.
6. Jangan sampai anak tidak sarapan, karena dapat membuat mereka makan berlebihan setelah itu.
7. Makanlah di meja makan. Makan di depan TV atau layar komputer membuat orang tidak menyadari seberapa banyak yang dikonsumsi dan apakah ia sudah kenyang.
8. Anjurkan gerak badan, seperti bersepeda, main bola, dan lompat tali.
9. Batasi waktu untuk menonton televisi, menggunakan komputer, dan bermain video game.
10. Rencanakan kegiatan keluarga yang aktif di luar rumah, seperti pergi ke kebun binatang, berenang, atau bermain di taman.
11. Suruhlah anak-anak melakukan pekerjaan fisik.
12. Berilah contoh dalam pola makan yang sehat dan olahraga.

Para Princess bahkan
 nggak cantik lagi kalo kena obesitas
Dan banyak berterima kasih buat Michelle Obama yang peduli dan Disney yang sedari dulu telah mengajari tentang keindahan mimpi-mimpi. Obesitas akan bisa kita hadapi yang jelas harus ada peran serta dari orang tua dan anak-anak yang mau diajak kerja sama…well sedikit berpendapat buat para orang tua yang punya anak perempuan mungkin kita bisa memperlihatkan gambar para Princess Disney yang tak lagi cantik bila gemuk tapi jangan ajari mereka jadi penderita anorexia dan sepertinya para orang tua harus kursus masak makanan bergizi, dan jangan lupakan apa yang dibilang Peyton Kelly, anak-anak suka gula :D

With Love
OOO Citra OOO




Sumber:

Gambar :


8 komentar:

  1. Aku setuju sama 12 saran dari Kak Cicit. Tapi nomor 9 aku blm ngerti hehehe.

    Gak cuma pola makan yang bisa bikin anak kelebihan berat badan tapi juga genetik deh. Seperti keluargaku Nenekku agak gemuk,Mamaku agak gemuk jadinya kakakku kayak mereka. Sedangkan almarhum Papa enggak gemuk tapi tinggi gede -____- Sedangkan aku sih cederung ke Papa.

    Emang si pipi aku chubby,tapi biar begitu aku gak pernah kepikiran diet karena guruku (ahli gizi dan apoteker) melarang aku untuk ngurangin makan kalo alasannya mau ngempesin pipi.

    Dari pada anak-anak diet, kalo menurut aku mending kasih pengertian kalo makan berlebihan itu gak bagus. Dan jelasin penyakit penyakit yang ditimbulkan kalau mereka obesitas seperti hipertensi, jantung, kolesterol tinggi yahaa bayak lah pokoknya.

    Oiya Kak Cit, yang diatas suruh komen sesuai postingan dong, ini bukan facebook gak ada tombol like :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehehehe itu bukan saranku itu saranari National Institutes of Health dan Klinik Mayo Cippa sayang, masa ga ngerti yang no 9, pura-pura nih pasti hehehehe :P

      Hapus
  2. Nice share :D infonya banyak bngt.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasiii juliarta...btw salam knal :)

      Hapus
  3. susah yee kalo udah punya mind set soal nasi."elu belum bisa dibilang udah makan kalo belum makan nasi". secara, di kehidupan nyata, beras paling mudah didapat dan paling mudah diolah. tapi perlu diingat, nasi adalah karbohidrat terburuk. coba deh, rasa biskuit gandum utuh juga gak jelek2 amat kok. ato mw coba menu serba tempe tahu. that's better :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ajaib nih komen, mang kakanyah paling okay kalo komen walaupun komennya jarang2 yang ok kyk gini :)

      Hapus