Date a girl who reads

Date a girl who reads

Sabtu, 17 Januari 2015

[Review] Kumpulan Cerpen Cinta Sejati Guy de Maupassant: Sembilan Wajah Cinta yang Berbeda



Judul Buku                              : Kumpulan Cerpen, Cinta Sejati
Jenis Buku                               : Fiksi
Penulis                                    : Guy de Maupassant
Alih Bahasa                             : Marcalais Fransisca
Penyunting                              : Andi Toha
Pemeriksa Aksara                    : Dian Pranasari
Pewajah isi                              : Eri Ambardi
Penerbit                                   : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I                                : April 2011
Tebal                                       : 170 halaman
ISBN                                       : 978-979-024-352-1

            Sembilan cerita dalam buku ini adalah karya-karya terbaik Guy de Maupassant, sastrawan Prancis yang dikenal sebagai maestro cerpen dan salah satu cerpen modern. Masa lalu keluarganya, konflik kejiwaannya, peperangan, peristiwa keseharian, dan kehidupan orang-orang biasa menjadi lumbung imajinasinya yang tak pernah susut baginya. Tidak kurang dari dari 300 cerpen, 6 novel, 3 catatan perjalanan, dan 1 kumpulan puisi yang telah ditulisnya semasa hidup.
            Beragam kisah terdapat dalam buku ini. Kisah cinta masa kanak yang abadi; kisah seorang wanita yang tidak menikah seumur hidupnya karena kutukan percintaan masa remaja; perlawanan unik seorang pelacur patriotic  terhadap tentara musuh; pernikahan gara-gara salah kamar; dan kisah-kisah sederhana dari kehidupan sehari-hari lainnya. Namun, di tangan Maupassant kisah-kisah tersebut begitu mengusik perhatian, memantik perenungan, serta membekas kesan mendalam.
            Betapa lemah manusia di hadapan takdir. maut, kenangan, cinta, dan mahadaya kehidupan itu sendiri.
***
            Saya tidak berencana memasukkan kumpulan cerpen ini ke dalam daftar bacaan saya. Tapi setelah menunaikan tantangan kategori buku berhalaman lebih dari 500 kata (The Known World) Buku yang difilmkan (The Notebook, demi mengulang kenangan karena niat awalnya saya malah ingin memasukan Paper Towns ke daftar ini, akan difilmkan dengan Cara Delevigne dan alis spektakulernya sebagai pemeran utama) Kategori buku yang diterbitkan tahun ini (karena awal tahun jadinya menggunakan tahun terbit 2014, tadinya nyaris kumcer Symbiosa Alina tapi teringat di kosan masih punya Daisuki Da Yo Fani-Chan karangan mbak Winda) akhirnya, setelah melompati kategori classic romance, inilah pilihan saya padahal tadi niatnya mau baca The Phantom of The Opera.

            Classic romance, adalah genre yang jarang saya miliki. Kebanyakan koleksi saya adalah Young Adult, Teenlit atau Chicklit (modal buat belajar nulis, soalnya saya menulis di genre ini) walau saya berharap bisa membaca Pride and Prejudice dan Jane Eyre (baru sempat nonton, saya selalu suka mendengar logat aristokrat dalam dialognya yang menawan) tapi harus saya katakan saya menikmati genre ini, beberapa seperti Anna Karenina, The Great Gatsby, Therese Raquin jelas membuat saya terpesona.
            Ketika mulai membaca, salah satu pertimbangan saya adalah pengarangnya. Nah, nama Guy de Maupassant pertama kali saya lihat di Bel Ami, oh jadi film ini diangkat dari karya sastrawan Prancis itu? saya suka filmnya, ceritanya, bukan, Rob Pattinson-nya (catet!) Jadilah ketika melihat buku ini ekspektasi saya langsung tinggi dan begitu membaca kesembilan cerpennya ternyata, saya tidak kecewa.
            Terdiri dari Sembilan cerpen. Dimulai dari cerpen yang diterjemahkan dengan judul, Cinta Sejati. Dibuka dengan obrolan diakhir jamuan makan malam, mereka membahas tentang topik cinta yang akhirnya dikisahkan oleh seorang dokter tua, kisah cinta wanita rakyat jelata tukang reparasi kursi dengan si ahli obat Monsieur Chouquet. Para tamu di meja akan jelas tak tertarik dengan 'dongeng' cinta perempuan miskin menyedihkan yang layak dikatakan bagai punguk merindukan bulan. Ya, kisah ini memang, miris dan tragis, tapi tentu saja kita tidak bisa menyangsikan betapa cinta sejati sangat manis, dan seperti kata Marquis, "tidak diragukan lagi, hanya wanita yang tahu caranya mencintai".
            Cerita kedua berjudul Seorang Janda, yang di sana menceritakan tentang nasib 'janda' dari bocah tiga belas tahun yang mati bunuh diri. Kisah ini pedih dan sentimental, tragis tapi nampaknya memang Maupassant tahu cara menyandingkan hal tragis dengan manis. Saya membaca cerita ini sebagai cerita terakhir dan berpikir bahwa ternyata bahkan bocah lelaki memiliki cinta yang begitu kuatnya, tapi cinta yang begitu besar mengakibatkan kekecewaan yang besar pula.
            Cerita ketiga berjudul Istri Istimewa, memadukan tak lagi tragis yang manis namun kekonyolan yang manis, tawa mengejek untuk keberuntungan yang memalukan. Di sinilah sebagai pembaca saya mulai mengambil kesimpulan Maupassant menyukai cara bercerita yang berbingkai, bercerita di dalam cerita. Dia akan menceritakan kisah dari 'mulut' tokoh ciptaannya. Di sini dia menganalogikan perkawinan semacam lotere; "Kau tak bisa memilih nomormu. Yang kebetulanlah yang terbaik."
            Cerita keempat berjudul Perhiasan Palsu, tentang kegemaran istri Monsieur Lantin dalam mengoleksi segala jenis perhiasan imitasi yang tak terduga tenyata akan membantu Lantin menjalani hidup selepas kematian istrinya. Cerita kelima berjudul, Kalung Berlian. Di sini saya mulai membaca bahwa Maupassant mengerti ketertarikan perempuan pada perhiasan. Kisah satir ini mengejek dengan cara yang pas walau yeah betapa sialnya jadi si tokoh yang harus merasakan penderitaan besar dan panjang hanya karena gengsi dalam pesta semalam.
            Cerita keenam berjudul Dendam Kesumat, ini favorite saya. Kisah kasih sayang ibu dan anak, bagaimana sang ibu 'membela' anaknya setelah kematiannya. Jangan remehkan apa yang seorang wanita bisa lakukan bahkan jika dia janda renta yang tak lagi memiliki kekuataan. Nampaknya hal itu juga yang masih jadi topik diangkat dalam kisah Babette, kisah wanita sakit jiwa yang anehnya disandingkan dengan perempuan penakluk pria semacam; Cleopatra, Diana,dan  Ninon de L' Enclose.
            Kisah kedelapan dan kesembilan mengambil tema yang sana, perempuan murahan dalam masa perang Prancis-Prusia. Mademoiselle Fifi dan Boule de Suif. Dua kisah ini membuat tercengang. Lagi-lagi Maupassant mengejutkan pembaca mengenai apa yang seorang perempuan sanggup lakukan, seperti yang Rachel lakukan pada Mademoiselle Fifi atau yang aslinya disebut sebagai Mayor Graf Von Farlsberg. Rachel sedikit beruntung karena sikap ksatria dan patriotiknya mengubah hidupnya. Sayang tak begitu bagi si Bola Lemak dala Boule de Suif, perempuan itu bahkan dengan kebaikannya dan prinsipnya bahkan menjadi bulan-bulanan sekelompok oportunis munafik borjuis.
            Membaca karya Maupassant adalah pengelaman menjelajah Prancis pada masa lalu yang menampilkan posisi perempuan dengan keterbatasan, keinginan, dan posisinya. Membaca dari karyanya sepertinya Maupassant sangat mengerti karakteristik perempuan. Dan caranya bercerita mengalir ringan tapi jelas meninggalkan kesan mendalam, dia akan berada di daftar penulis cerpen favorite saya setelah Anton Chekov.

7 komentar:

  1. Wah, beberapa waktu lalu saya juga baru membaca ini, Mbak. Cerpennya kuat. Penuh ironi, emosional banget. Saya suka banget Cinta Sejati, Perhiasan Palsu, & Mademoiselle Fifi ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal mbak Amaya, tadi sempat mampir di blognya. Bakal sering ngintipin blog mbak nih, review2nya menari :)

      Hapus
  2. aku belum bacaaaa
    wah reviewnya lengkap euyyy
    sastra emanf gak ada matinya ya
    Nice review

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mbak Yunita, trims udah sempatin mampir. Sepakat sastra memang ga ada matinya dan ayo dong segera dibaca dan dapat kesan yang ingin disampaikan Maupassant :)

      Hapus
  3. Saya lagi suka baca kumcer nih buat belajar nyerpen :)
    Tapi yang ini belum baca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan bagus banget mbak belajar dari cerpenis kelas dunia semacam ini. Aku juga mau belajar cerpen nih. Oh iya pernah baca di mana gitu cara bikin cerpen ala Hemingway, satu lagi tuh ahlinya kalimat efektif, tapi cerpenis kaya pesan moral favoriteku masih Chekov.

      Hapus
    2. Dan bagus banget mbak belajar dari cerpenis kelas dunia semacam ini. Aku juga mau belajar cerpen nih. Oh iya pernah baca di mana gitu cara bikin cerpen ala Hemingway, satu lagi tuh ahlinya kalimat efektif, tapi cerpenis kaya pesan moral favoriteku masih Chekov.

      Hapus