Date a girl who reads

Date a girl who reads

Sabtu, 17 Januari 2015

[Review] The Notebook: Jika Cintamu Belum Kelar, Kejar!



Judul Buku                              : The Notebook (Buku Harian)
Jenis Buku                               : Fiksi
Penulis                                    : Nicholas Sparks
Alih Bahasa                             : Kathleen S.W
Desain dan Ilustrasi Cover      : Eduard Iwan Mangopang
Penerbit                                   : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                                   : Keempat, Juni 2014
Tebal                                       : 256 halaman
ISBN                                       : 978-602-03-0649-0
Blurb:
            Sekembalinya dari medan perang. Noah Calhoun senantiasa dihantui bayang-bayang gadis cantik yang dikenalnya empat tahun silam, dan amat dicintainya. Walau mereka tak pernah pernah bertemu lagi, Noah merasa puas hidup dengan kenangan masa lalunya… namun tanpa terduga gadis itu kembali ke kotanya, untuk menemuinya sekali lagi.
            Allie Nelson, kini sudah bertunangan dengan pria lain, namun ia tak menyadari bahwa cintanya pada Noah tak pernah pudar ditelan waktu. Tapi dunia mereka begitu berbeda. Menghadapi pernikahannya yang tinggal beberapa minggu lagi, Allie dipaksa untuk mempertanyakannya, apa sebenarnya harapan-harapan dan impiannya untuk masa depan, dan dengan siapakah ia ingin menjalani masa depan itu.
***

            Dari film romantis yang membuat saya jatuh cinta pada sosok Noah Calhoun, eh Ryan Gosling, eh? Kan…bingung! Atau sebenarnya saya justru jatuh cinta pada sosok yang hidup di dunia nyata dan membangun cerita ini alias si Nicholas Sparks? waduh, susah menentukannya! Baiklah, Sparks sepertinya ahli dalam meramu romantisme sebelum dituangkan ke dalam tulisan! Ini karya Sparks ketiga yang saya baca (pertama A Walk to Remember dan yang kedua Safe Haven) tapi karya Sparks yang pertama kali saya tonton.
            Sedari awal kisah ini memiliki tempat di hati saya, sejujurnya kisah ini juga memberi inspirasi pada tulisan saya (Adegan di bianglala di awal film adalah yang melahirkan novel Paquita dan Pangeran Bianglala saya) Selain itu bolehkah saya mengajukan pertanyaan? Hey Sparks tahukah kamu para lelaki di dalam novelmu bisa ditemui dimana? Saya pikir, saya ingin bertemu dengannya saling jatuh cinta dan memiliki kisah yang indah.
            Kembali ke Allie dan Noah serta kisah cinta mereka. Sebenarnya jika ingin jujur cerita ini terlalu berkeju, huhuhu too cheesy! Tapi, tentu saja saya menikmati. Pembaca perempuan mana yang tak meleleh dengan kisah cinta sepasang kekasih yang dipertemukan setelah empat belas tahun berjeda? bukankah kisah ini menimbulkan harapan di hati pembaca untuk percaya, bahwa mungkin saja kamu kembali pada cinta pertamamu (mungkin itu harapan pribadi saya -_-) atau pembaca yang lebih bijaksana akan menangkap ini sebagai pesan, bahwa waktu akan mematangkan cinta.
            Baiklah, nampaknya akan lebih baik jika saya melihat dari sudut pandang perempuan. Jadi izinkan saya berpura-pura sebagai Allie. Okay saya memiliki Lon yang nyaris sempurna, dengan masa depan menyilaukan, tampan dan dari keluarga terpandang. Tetapi Lon dan segala kualitasnya sebagai menantu idaman orang tua saya buyar ketika di koran saya melihat lokasi tempat saya bercinta untuk pertama kali telah dipugar kembali dan yang lebih mengejutkan di depan tempat tersebut berdiri lelaki yang adalah impian saya-sejak-dulu-dan-selamanya-dalam-versi-lebih-dewasa-dan-tampan. Pernikahan di depan mata bahkan tak lagi tampak sebagai rencana bagus, karena saya memilih untuk mendatangi tempat dan lelaki itu!
            Dan kenapa ketika saya bertemu lelaki itu saya harus merasakan kembali apa yang dulu pernah saya rasakan dan sekarang perasaan itu malah seperti api yang kemudian disirami bensin. (Dari tak pernah padam menjadi makin berkobar!) Lalu kenapa Noah harus memberikan saya kemejanya? (adek makin gak bisa move on kakak!) Kenapa kita harus naik perahu (secara pribadi saya suka ide melewatkan hal romantis di perahu) menuju danau untuk melihat angsa-angsa? lalu kenapa harus hujan segala dan bikin kita khilaf dan berujung pada….dilema antara harus memilih kembali ke masa lalu atau meneruskan rencana masa depan.
            Walau saya tahu banyak yang telah mengetahui kisah ini. Tapi, saya harus berhati-hati untuk tak terlalu banyak membocorkannya. Ditulis dengan dua sudut pandang dengan dua setting berbeda (nyontek ini dari Sparks ah!) yang menceritakan Duke dan Noah. Mulanya, si opa Duke membacakan kisah Noah untuk oma Hannah, rekannya di panti wreda. Kenapa opa Duke mau melakukannya, ya? dan kenapa oma Hannah begitu sensitif? apakah opa Duke mengenal mereka yang dia bacakan kisahnya?
            Oh Sparks, terima kasih telah membangkitkan sisi romantis saya sebagai perempuan. Namun, ada sebagian dari otak sadar saya yang berpikir bahwa kamu menciptakan karakter yang terlalu ideal untuk ditemui di dunia nyata. Sosok Noah yang lembut bahkan terlalu kuat untuk dihancurkan oleh peperangan. Di kepala saya yang walau sebagai pembaca saya tak berhak untuk menentukan karakter si tokoh tapi saya menginginkan jika Noah sedikit lebih garang, versi filmnya sudah menampilkan itu dan itu sangat seksi! Saya suka ide Sparks yang mempertemukan lelaki pecinta puisi dengan perempuan pelukis serta ide bahwa lelaki sejati yang rela mewujudkan mimpi bagi perempuan yang dia cintai.
            Kisah ini indah dengan kalimat memukau walau kadang untuk beberapa hal saya terlalu takut membayangkannya karena terlalu indah. Seperti pada paragraf ini: Bahwa kehidupan ini sebetulnya hanyalah kumpulan dari kejadian-kejadian kecil, masing-masing dijalani setahap demi setahap (sampai di sini saya masih setuju dengan Sparks) Bahwa setiap hari seharusnya dilalui dengan menemukan keindahannya  dalam bunga-bunga, puisi, dan berbicara pada binatang-binatang. Bahwa suatu hari yang dilewati dengan bermimpi, menikmati tenggelamnya matahari serta angin semilir yang menyejukkan sama sekali tidak sia-sia. Tapi, di atas itu semua, aku belajar bahwa yang penting dalam kehidupan ini adalah duduk-duduk di dekat sungai tua, dengan tanganku di atas lututnya, dan sekali waktu, pada hari-hari yang baik jatuh cinta. Buat saya pribadi yang menyukai keindahan bunga Edelweiss dan bunga bank ( kedua bunga ini langka, kan?) sulit mengerti puisi dan punya pengalaman traumatis dengan binatang peliharaan (dari beo saya yang dijual hingga Peru, si anjing yang pergi tanpa pernah pulang, hingga Chiko  si kucing tetangga yang lebh sering ngeselin dari bersikap manis) Pengalaman menikmati sunset di sepanjang pantai sambil bernegosiasi bagaimana mengakhiri kisah cinta tanpa masa depan, dan sebagai warga yang tinggal di dekat sungai dengan resiko banjir saya sulit menempatkan posisi si perempuan berjiwa romantis pada bagian ini. (Halaman 215-216)
                Selebihnya saya cuma ingin mengatakan kisah ini indah dan wahai wanita bacalah jika ingin merasakan pengalaman melelehkan perasaan dan kembali membangkitkan perasaan cinta dalam diri anda. Jika Allie boleh memiliki Noah, seandainya saja bisa minta, bolehlah Lon-nya buat saya aja? hehehe.

2 komentar: