Date a girl who reads

Date a girl who reads

Minggu, 01 Januari 2012

[Feat: Sekar Mayang] An Ordinary Love Story Part 3




            Sebagian dari diriku ingin percaya sebagian menolak untuk percaya, tak ada Joe dalam mimpiku, mimpiku masih sama seperti dulu, mimpi yang kurekam berulang-ulang, mimpi tentang kebersamaanku yang penuh tawa-canda bersama Dave, mimpi yang kurencanakan, bagian dari khayalan, tapi akan kukatakan bahwa Joe ada di sana, aku tahu aku membohoginya, tapi sejujurnya setelah kepergian Dave aku terlalu lama menyiksa diri dan aku takkan membiarkan seseorang pergi lagi, Dave jauh lebih berarti tapi aku tak ingin sendiri, mungkin aku terdengar serakah, tak ingin melupakan Dave tapi tak ingin membiarkan Joe pergi, biarlah aku egois untuk kali ini, bolehkan aku menganggap, bahwa ini adalah keajaiban yang kubuat sendiri, mungkin aku akan mencoba memanipulasi mimpi agar setelahnya aku bisa memanipulasi kenyataan
          Mungkin itu menjadi keahlianku saat ini. Ya, aku akui, setelah 5 tahun ini aku semakin dan semakin mahir saja memanipulasi kenyataan. Aku selalu berusaha membawa Dave di setiap helaan napasku, padahal ada Joe yang selalu menggenggam jemariku. Aku ingin berhenti saja dari kehidupan ini. Maksudku, aku berharap aku adalah orang lain yang tak perlu merasakan hidup yang tengah aku alami saat ini. Sekali lagi, aku terdengar egois, kan?!
          Ada suara klakson mobil di depan rumah. Aku mengintip dari jendela ruang tamu, kulihat Joe turun dari mobil itu. Wait, sejak kapan Joe bisa menyetir mobil? Dia tak pernah bercerita padaku. Aku buka pintu depan dan dia sudah berada di hadapanku.
          “Kamu?”
          “Ya Belle, ini aku, kenapa?”
          “Itu mobil siapa?”
          “Hehe… itu mobil om-ku. Aku sengaja meminjamnya untuk seminggu ini, aku…ingin mengajakmu untuk berlibur di luar kota.
          “What?”
          “Ayolah, segera kemasi pakaianmu, aku sudah minta ijin pada mama-papamu kemarin, mereka mengijinkan kita pergi” senyum manisnya melebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.
          Aku masih berdiri termenung mendengar semua penjelasan Joe. I tell you something. Di dalam sini, di hatiku, rasanya campur aduk. Antara senang, bingung, ragu, sedih, dan sebuah keinginan untuk jingkrak-jingkrak di atas trampolin. Well, yang terakhir mungkin kedengaran gila, but it's true.
          “Okay, aku akan berkemas, kamu tunggu aku di sini”

I ***
          Antara percaya dan tak percaya, tapi mobil benar-benar berhenti di depan villa kayu mungil yang cantik, benar! Ini villa yang selalu aku kagumi, villa di atas bukit yang bisa terlihat dari jalan raya bawah sana. Tempat yang sangat ingin aku kunjungi tapi tak pernah sempat kukunjungi bersama Dave dulu. Bagaimana bisa Joe tau keinginanku, aku hanya sempat mengatakan hal ini pada Dave, beberapa saat sebelum Dave pergi, oh please Belle, haruskah aku mengingat Dave di saat Joe melakukan banyak hal hanya untuk membuatku benar-benar mengakui bahwa dalam kenyataan hanya ada dia, Joe! bukan lagi hantu yang kupelihara dalam otakku. Kadang aku harus minta maaf berkali-kali dalam hati.
          “Kamu suka?” tanya Joe dengan mata berbinar, dia tau aku menyukainya!
          “Thanks Joe” Aku benar-benar menahan diri untuk tidak tersenyum lebar, tapi entah mengapa binar indah matanya seolah mempersilahkanku untuk tertawa lepas.
          “Senang membuatmu bahagia” katanya diantara tawa renyah yang kusuka,  dia terdengar puas dengan apa yang dia lakukan untukku, dan Joe keluar dari mobil lalu secepat kilat dia membukakan pintu mobil untukku, dan dengan cepat aku melompat keluar, aku hanya ingin menikmati liburanku, dan tak ingin memikirkan apa tabungan yang dibobol Joe untuk semua hal ini pantas kudapatkan.
          Joe membukanku pintu masuk untukku.
          “Silahkan nona muda, anggap saja rumah sendiri”
          Aku tersipu dibuatnya.
***
         
           “Aku suka pemandangan di sini, udaranya, wangi alamnya, belai lembut anginnnya, dan…” aku tak yakin ingin melanjutkannya,tapi  gampang di tebak seharusnya aku menyebutkan nama Joe. Entah mengapa hari ini dia terlihat berbeda dari yang kukenal, ataukah aku hanya tak mau mengakui pesona alaminya karena terus-menerus menenggelamkan diri dalam khayalan pribadiku.
          Kami tengah menikmati sore di balkon yang menghadap ke arah matahari terbenam.
          “dan apa?” tanya Joe? Alis kirinya meninggi, aku suka ekspresi skeptisnya yang, harus kuakui…sexy!
          Aku tak menjawab, hanya terdiam, anggap saja aku terhipnotis binar indah matanya, atau memang sebaiknya aku harus bersikap seperti sekarang ini, mengikuti apa yang seharusnya terjadi; waktu terhenti, matahari menjingga di timur, dan di dalam kepalaku terdengar lagu cinta, loving you-nya Paolo Nutini, aku tahu yang harus kulakukan, hanya memejamkan mataku, dan merasakan sentuhan lembut hangat dan manis di bibirku, aroma mint itu melenakanku, dan aku membiarkan diriku terbawa suasana, menikmati ciumannya.
          “Semalam aku membaca mimpimu…”bisik Joe lembut, hangat nafasnya menggelitik daun telingaku.
          “Dan yeah…kamu ada di sana, di ujung pelangi bersamaku” balasku dalam bisikan pelan, di balik punggung aku menyilangkan jariku, berharap kebohongan tidak akan menjadi boomerang nantinya.
          “I love You Belle”
          “Love You Too Joe”
          Seandainya saja aku tau rasanya begini indah, tak sepantasnya aku membenamkan diri dalam kepedihan selama ini…

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar