Date a girl who reads

Date a girl who reads

Rabu, 14 Maret 2012

Happy White Day, Ge!


Pagi ini sebuat timpukan dari gumpalan kertas kuterima lagi, sudah sebulan ini dan aku cukup bersabar dibully oleh makhluk menyebalkan penghuni bangku di pojokan kelas, makhluk tengil dengan senyum jail, makhluk yang anehnya membuatku jatuh cinta dan itulah awal dari segala kebodohan yang kulakukan.

Seharusnya …kalaupun aku menyukainya lebih baik aku menyimpannya di hati saja dan bukan malah mengungkapkannya di Valentine lalu, memberinya cokelat praline buatanku sendiri juga menyertainya dengan kartu Valentine cantik yang kutorehkan kalimat-kalimat cinta lewat tulisan tanganku yang indah.
 Riyas namanya, cowok paling berkuasa di sekolah, karena…yeah dia pemilik tahta tertinggi startifikasi sosial sekolah, dan aku siapa? Cuma gadis biasa, polos dungu yang jatuh cinta pada raja sekolah, dan kini aku hanya bisa menanggung malu karena dia mengetahui perasaanku! Betapa bodohnya aku dan betapa sialnya kehidupanku, lagipula pertanyaan besarnya, haruskah hatiku memilih Riyas untuk kucintai?? benar-benar pilihan yang salah total!!!
          “Jelek!” dengan seenaknya dia memanggilku, aku mengabaikannya, karena …yeah aku mengabaikannya sebulan belakangan ini, karena…aku menutupi malu atas kebodohanku! Cukup jelas agar aku tak perlu lagi mengulanginya.
          “Elo bad hair day apa sedang PMS?” dengan jailnya dia malah menanyaiku, sambil menarik kuncir kudaku! Aku benci ketika seseorang menyentuh rambutku, okay, aku mengalami bad hair day, itulah kenapa aku menguncirnya, dan yeah perhatikan jerawat di mukaku, yeah aku sedang PMS, dan pagi aku bangun dalam keadaan yang tidak menyenangkan, orang tuaku perang lagi saat sarapan pagi, aku berharap mereka segera berpisah, aku lelah dengan semua sandiwara juga drama mereka, setelah itu, saat aku menginjakkkan kaki di sekolah, kupikir keadaannya akan berubah ternyata sama saja, satpam sekolah malah menghukumku karena terlambat, hey! Padahal gurunya aja belum muncul batang hidungnya.
          “Geghe!” Riyas memanggilku lagi dan aku malas untuk meladeninya, yang jailnya makin bertambah parah! Aku tau dia melakukan segalanya hanya untuk membuatku marah dan membencinya, dia tak menyukaiku itulah sebabnya setelah pengakuan tolol di Valentine lalu, dia habis-habisan mengerjaiku hanya untuk membuatku ilfeel, bodohnya aku, Riyas tak punya hati, tak bisa mencintai, kecuali mencintai kodok mati dan serangga-serangga dalam lab Biologi.
          “Elo kenapa sih?” keliatannya Riyas mulai bĂȘte, aku masih bertahan untuk tak menganggapnya ada.
          “Ghe…” dia memanggilku.
          Aku diam dan sok menyibukkan diri dengan PR Matematika, yang sengaja kucek ulang padahal kutau jawabannya sudah benar.
          “Ghe…”
          Aku mencorat coret kertas cakaran, pura-pura menghitung ulang
          “Elo kenapa sih? Muka elo jelek tau, cemburut mulu!” dia bicara dalam nada tinggi dan membentak, aku tersentak, dan menatapnya, sepertinya dia juga tak menyangka bahwa teriakan itu berasal dari bibirnya, kurasa dia sendiri terkejut atas apa yang dilakukannya. “Hmm…sorry” ucapnya cepat, dia tersenyum untuk menyelamatkan keadaan, aku ingin membalas senyumannya tapi ragu, namun pada akhirnya aku tersenyum juga
          “Yeah Geghe…” dia tertawa geli, sial aku masuk dalam jebakannya, dia malah tertawa mengejek dan menarik hidungku dan gelak tawanya membuatku merasa marah, apalagi banyak mata di ruangan kelas mulai menatapku dalam tatapan yang seolah mencela, aku tau saat itu wajah kuterasa panas, dan pastinya berwarna merah padam.
          “Geghe, elo kenapa sih?” dia bertanya lagi masih dengan nada mengejek kekanak-kanakkan , senyum jail menghiasi wajahnya, kerlingan matanya entah mengapa membuatku tersinggung luar biasa, pagi aku seperti merasakan ledakan emosional maha dahsyat!
          “Dementor mengisap kebahagiaanku, puas?” tak menyangka apa yang kulakukan, aku malah menjawab dengan marah dan tanganku melempar wajahnya dengan kotak pensil yang terbuat dari kayu, terkejut atas apa yang kulakukan, tak mengerti dengan keadaan yang terjadi begitu cepat, aku hanya mendengar ringisan kecil, dan Riyas keluar kelas cepat-cepat, sempat ingin menyusulnya tapi aku mengurungkan niat saat guru matematikaku masuk kelas.
***
          Angka-angka di papan tulis seperti membentuk senyuman mengejek Riyas, konsentrasiku diganti rasa bersalah dan kekhawatiran. Aku tak ingin Riyas mengalami patah tulang hidung atau yang lebih parah…
          “Gevindra, kerjakan soal nomor selanjutnya!” bu Atiqah membuyarkan lamunanku, dan aku terpaksa menuju papan tulis untuk menjawab soal dan mencoba mengenyah Riyas dari otak.
          Sepanjang pelajaran Matematika Riyas tak kembali juga, begitu juga dengan pelajaran Sejarah, entah dia ada di mana saat bel istirahat berdering aku mencarinya di kantin, berharap menemukannya, aku hanya ingin minta maaf, aku tak ingin dihantui rasa bersalah, sayangnya, aku tak menemukan dia dimanapun juga, oh Tuhan!
***
          Bel tanda istirahat usai dan pelajaran berikutnya segera dimulai membuatku gelisah, Riyas belum kembali juga, teman-teman di kelas yang kutanyai hanya menjawabku bisu atau hanya mengangkat bahu, aku tak suka bagaimana mereka memperlakukanku, sebulanan ini gara-gara Riyas semua menganggapku musuh!
          Aku tak tahan lagi, di saat pelajaran terakhir usai, dan kelas benar-benar kosong aku menumpahkan segalanya, kekesalanku, marahku, ketakutanku, menjadi lelehan air mata yang mengalir di pipi, biasanya aku kuat menahan emosi tersedihku, tapi kenapa hari ini aku tak sanggup lagi, Riyas memang menyebalkan!  Tapi mendengarnya meringis karena kesakitan saat kotak pensil yang sedang kugenggam ini menghantam wajahnya mau tak mau membuatku mengkhawatirkan keadaannya.
          Tak peduli, kali ini aku hanya ingin menumpahkan sedih hati yang kumiliki. Aku membenamkan kepalaku untuk membiarkanku menumpahkan pedih.
          Di tengah tangisku aku mendengar langkah kaki mendekatiku.
          “Jelek!” suara yang kukenal membuatku mengangkat kepala dan menatap wajahnya, jailnya masih sama, hanya ada tambahan plester berwarna putih di bagian hidungnya!
          Aku ingin tertawa saat tau dia baik-baik saja.
          “Puas elo hancurin aset gue yang berharga?” dia nyengir jahil, aku mengamati wajahnya, bahkan dengan tambahan plester konyol di hidung dia tetap Riyas yang selama ini kusuka, lama aku menatap wajahnya, terbius indah senyum dan rupanya, tapi tiba-tiba sesuatu menghantam wajahku, tepat di hidungku, sedikit pusing saat benda keras itu mengagetkanku, mataku perih hingga air mata tiba-tiba membahasahi pipi lagi, aku tidak cengeng hanya saja benda itu menghantamku dengan cukup keras, benda persegi dan panjang itu jatuh di mejaku, aku menatap benda itu, sebatang cokelat bar favorite-ku.
          “Satu sama Ge! Elo udah rasain kan sakitnya?” dia malah berlalu dan tertawa-tawa, tapi di dekat pintu dia berhenti, menatapku dan  dia bicara lagi.
          “Cokelat bagus untuk mengobati orang yang kebahagiannya habis dihisap Dementor” dia tertawa kecil “gue bela-belain bolos buat nyariin cokelat favorite elo, happy white day Ge, itu balasan buat cokelat Valentine elo kemaren” nada suaranya lebih halus sekarang “kalo-kalo elo mau gue antar pulang, gue tunggu elo di parkiran…sorry karena gue udah bikin elo jadi korban bully seisi kelas selama sebulan ini…dan elo sukses jadi cewek tangguh! Dan hari ini gue cuma  pengen bilang gue sayang sama elo!” setelah itu Riyas benar-benar berlalu, dan aku dengan cepat membereskan buku lalu menyusulnya dengan buru-buru.
:::HAPPY WHITE DAY:::
Gambar :Ranze & Makabe (Throbbing Tonight, Koi Ikeno)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar