Date a girl who reads

Date a girl who reads

Senin, 10 November 2014

Cerber: Saudara Sejiwa (Tamat)



Seteluk 23 Desember 2013
Kalau bisa dua-duanya, ngapain harus milih salah satu. Itu prinsip yang dipegang Retta dalam kehidupan cintanya. Walau Retta memiliki ‘dua’ namun malang bagi Retta, bahkan cadangan ataupun pacar beneran tak ada di sisinya saat ini. Mengapa hidup begitu sulit? Kenapa tidak semudah ... menemukan sepatu kaca dan bahagia selamanya! Kenapa harus ... meninggalkan pacar brondongmu demi mengikuti training yang karena kamu butuh kerja dan tak lagi dibiayai oleh orang tua, dan di sana kamu terlibat cinta lokasi dengan rekan kerja, oh Dicki dan Bali! Retta sungguh rindu untuk kembali.  Dan Mataram, betapa Retta begitu rindu pada brondongnya yang ... tapi kata Agit, brondong nggak punya masa depan! Hahahaha rasanya pengen ngetawain Agit, bukankah lelaki terakhir dalam hidupnya lebih muda dua tahun darinya? Okay fine, Arden memang lebih muda lima tahun, tapi mereka sama-sama brondong! Aaaarght! Setidaknya Didan-nya si Agit punya pekerjaan sementara dengan berat hati Retta harus mengakui bahwa Arden, masih berstatus mahasiswa yang bisa dengan mudah diprediksi akan di DO dikemudian hari. Itulah kenapa, mau tak mau Retta menerima cinta Dicky. Lagipula, siapa sih yang mau kehilangan fans? Retta dan Agit sama saja, kadang cinta bukan alasan utama, kadang mereka lebih ketakutan hidup tanpa pengagum mereka.
Pernah pada suatu malam Retta dan Agit membahas, kenapa mereka harus terjebak hubungan asmara dengan brondong tanpa masa depan.
“Kenapa ya, kita pacarin brondong mulu?” Retta bertanya-tanya.
“Karena ... cowok seumuran kita sudah memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia.” Mudah bagi Agit untuk menjawab tapi sulit untuk dicerna hatinya.
“Bahagia?”
Retta terdiam sejenak saat Agit memperlihatkan layar handphone-nya yang menunjukkan beranda facebook-nya.
Pertama; status memuakkan khas pasangan baru nikah. ‘Ternyata nikah itu enaknya cuma lima persen yang sembilan puluh lima persennya enaaaaak banget.’ Kedua; status mereka dengan pengalaman ngidam mereka. ‘pengaruh ngidam, aroma ketek suami lebih wangi dari aromatheraphy’iiiiiiiiiiiiiiiiiihhhh ... ketiga ‘foto porno’ balita memenuhi beranda. Padahal itu bahaya, anak-anak mereka bisa jadi korban iseng penjahat dunia maya.
Sebut Retta dan Agit sirik, tapi ... bayangkanlah jadi mereka. Usia kepengen (banget) menikah tapi mereka masih mempertanyakan apa lelaki-lelaki yang bersama mereka inikah jodohnya?
Agit misalnya ... siapa sih pacar terakhirnya, yang jelas? Semuanya serba ... kalau bukan HTS atau TTM, yeah ... palingan juga terlibat hubungan ‘KJDA—Kita Jalani Dulu Aja’ untuk yang rada serius? Cuma obsesi cinta monyetnya yang sekarang sedang keliling dunia, dan si Agit hanya bisa memandang foto-foto tuh cowok di instagramnya. Uh kasihan Agit. Lagipula, waktu Agit cuma dua puluh empat jam dan itu habis buat kerja. Secara geografis? Walau Agit selalu berdalih wajahnya terlalu metropolitan untuk tinggal di kecamatan, dia sejujurnya mengakui bahwa sekecamatan itu tak satupun cowok naksir padanya dan kalau naksir pastilah cowok itu khilaf. Karena ... cowok-cowok itu adalah muridnya di sekolah dan yang lainnya adalah bapak-bapak yang sudah menikah, payah ya?
Dan Retta, masih dipusingkan cinta segitiga tanpa sudutnya. Retta harus puas  pacaran jarak jauh dengan kedua lelaki yang sebetulnya hanya mampir di teras hatinya ... karena sebenarnya Retta nggak tahu siapa yang sungguh-sungguh dicintainya. Hal terpayah dari hidup Retta adalah, Retta gampang jatuh cinta dan suka menjalani dramanya tapi soal komitmennya, percayalah Retta bukan orang yang bisa berkomitmen.
Dan pada akhirnya, di malam-malam sebelum tidur kedua gadis itu akan menyongsong mimpinya dengan backsound Marry Me dari Train dan berkhayal bahwa seorang pria tampan sejati akhirnya melamar mereka dan senyuman manis akhirnya tersungging di bibir ibu dan mama mereka ketika mengenakkan kebaya dan mendampingi di pelaminan.

***
“Aku benci dikejar-kejar deadline,” sungut Agit, semula Retta pikir kalau itu tentang tugas dari sekolah, entah soal try out mungkin atau bisa jadi raport. Keduanya sedang menikmati senja di atas tempat tidur, bukan malas-malasan sih. Sebenarnya, Retta baru saja pulang kerja, dan mengendarai motor dua puluhan menit bikin punggungnya sakit. Sementara Agit bergelung di tempat tidur sambil mencoba memahami mengapa hidup Toru Watanabe dikelilingi para pasien sakit jiwa yang nantinya bakal bunuh diri. Haruki Murakami membuatnya kagum dan bingung di saat yang sama.
“Tahu dikejar deadline, masih aja baca novel,” komentar Retta malas.
Deadline kawin, bego!”
“Ooooh ... kawin, bukan nikah nih? Kan gampang,” nada menggoda Retta membuat Agit kesal.
“Yeah, nikah maksudnya!”
“Ada yang lebih capek, ngejar-ngejar jodoh hihihi.”
“Fiuh ... apa kita terlalu wonder woman yak, sampai belum waktunya dikirimin Tuhan, seseorang yang bisa bertanggung jawab terhadap diri kita?”
“Atau ...?”
“Jodoh  kita kehilangan peta, mengalami kerusakan GPS atau handphone-nya nggak punya Google Map?”
“Atau ...?”
“Apa kita sebegitu tangguhnya?”
“Atau ...?”
“Aaaaaah Retta!” Agit mengacak-acak rambutnya yang panjang. Dia kesal terhadap Retta tapi terlebih lagi dia kesal terhadap dirinya sendiri. Agit bertanya-tanya, kenapa gampang banget yak buat siswanya yang masih belasan untuk jatuh cinta, berhubungan terlalu jauh dan menikah. Sementara dia ... masa iya harus hamil duluan baru dinikahin? Dia mencoret ide itu dari otaknya.
“Jodoh! Kenapa harus semisterius itu? Huhuhuhu.” Sungutan Agit lumayan mengesalkan.
“Git, bisa nggak ...?”
“Nggak bisa!”
“Segitu pengennya ya?”
“Emangnya kamu nggak?”
“Tapi nggak gitu juga kali!”
“Retta ....” Agit mendesah dan sekarang wajahnya menunjukkan ekspresi putus asa.
Agit menyerahkan handphone-nya dan Retta paham alasannya. Foto adik perempuan Agit dan pacarnya sedang tersenyum lebar di pantai dengan latar belakang matahari tenggelam.
 “Adikku seakan sudah menetapkan standar calon menantu,” Agit terlihat bingung. “Produk impor Retta! Lha, yang lokal aja aku kesulitan!” Agit seakan kehilangan akal. Adik perempuan Agit, Marsha nyaris setahun ini menjalin cinta dengan cowok berkebangsaan Amerika. Kedatangan pacarnya, Mark yang terakhir sudah menunjukkan betapa seriusnya dia, Mark menjadi mualaf. Dan Agit tak habis pikir pengorbanan semacam apa yang pernah seorang cowok lakukan untuknya? Turun dari motor dan mengejar pashmina-nya yang terbang gara-gara dia masih amatir banget berhijab, apa bisa masuk hitungan? Belum pernah sekalipun dia memiliki suatu pengalaman romantis serius yang layak untuk dimasukkan ke dalam kenangan indah kisah cintanya.
Bagaimana mungkin Agit memiliki pengalaman romantis sementara kesalahan terbesar seorang Agit adalah, dia sendiri tidak pernah menetapkan sebuah komitmen jelas. Komitmen paling jelas yang dimilikinya, sudah terlalu lama dan jelas pada cowok yang salah. Saking lamanya kisah cinta itu apabila berbau pastilah seperti selai cokelat tengik. Tujuh tahun lalu dengan cowok posesif yang menelponnya nyaris setiap waktu dan yang terparah, cowok itu cuma menjadikan Agit sebagai objek obsesif horny-nya. Yah! Akhirnya ketahuan bahwa Agit setidaknya masih memegang teguh prinsip ketimurannya. Menurut Agit, ada tiga hal yang tak akan dipertaruhkannya dalam kisah cinta; Tuhan, keluarga juga keperawanan.
“Terus kita bisa apa?” Retta terdengar pasrah.
“Pikirin Ta, pikirin ...”
I have no idea,”
“Aaaah Retta!” Agit merajuk, Agit boleh berusia dua puluh enam tahun tapi di mata Retta Agit kadang bersikap seperti gadis kecil. Retta menyayangi Agit dan Agit-pun begitu. Mereka lebih dari sepasang saudara perempuan, Retta dan Agit hanya tak mau mengakuinya secara gamblang saja. Pengalaman empat tahun berpisah dan menemukan pelajaran berharga di jalan yang berbeda seakan menguatkan perasaan mereka sekarang. Mereka bukan hanya teman sekamar, mereka bukan hanya sahabat, mereka  adalah saudara sejiwa.
“Apa harus ikut biro jodoh online ya?” ide Retta bikin Agit tidak terima.
No way!”
“Kembali ke mantan lama?”
“Sama kayak ngorek-ngorek luka sampe berdarah,”
“Coba lihat sekitarmu,”
“Nggak ada,”
“Ya ampun kok jadi desperate gini, yak?”
“Setidaknya Didan masih nelpon,kan?” hibur Retta.
“Didan punya pacar ... tapi ... boleh melanggar janji, nggak?” Agit ragu-ragu.
“Tergantung,” jawab Retta singkat.
“Kadang aku memasang standar moral terlalu tinggi. Menurutku melanggar janji pada diri sendiri itu adalah pelanggaran moral yang berat.” Sangat Agit.
“Terus saja begitu dan kebahagiaan menjauh.”
Agit cemberut.
“Kamu boleh kok melanggar janji sesekali, terlebih jika itu hanya untuk dirimu sendiri. Janji apa sih Git?”
“Terima teman dari CouchSurfing.”
Retta tahu kenapa ini sulit bagi Agit, Agit bahkan belum pulih dari lukanya akibat dari apa yang Arika tuduhkan. Gara-gara cowok bule bernama Devon yang tak bisa mengambil sikap itu.
“Aku cuma pengen liburan Ta....” Rajukan manja Agit mengganggu perasaannya.
“Ada cowok, bukan bule, anak Jakarta. Dia mau ke Pulau Kenawa.” Agit bicara terpatah-patah. “Aku udah empat tahun di sini tapi belum pernah ke sana padahal jaraknya deket  banget, ke Tano lima belas menitan, nyebrang ke pulaunya nggak sampe dua puluh menit juga.” Agit terdiam sejenak, seolah apa yang ingin dikatakannya terdengar begitu sulit. “Kamu tahu kan, betapa aku ingin liburan ... Marsha dan Mark akan mengunjungi Lombok, Bali dan Pulau Komodo, betapa beruntungnya dia. Sementara aku ... masa ke situ doang nggak bisa.” Ampun deh Agit, menurut Retta dia tak harus bersikap seolah dia butuh persetujuan darinya.
“Pergi aja,”
“Tapi Ta ...”
 “Nggak pake tapi!”
“Lho, kok kamu jadi galak?”
“Nggak Git, maksudku ...”
“Terus kalo temen CS-ku itu mau nginap di sini boleh?”
“Ya tidur bertiga lah kita.”
“Retttttttttttaaaaa...”
“Kita bisa numpang di kamar sebelah lah.”
“Serius, kamu nggak papa?”
“Apa yang nggak buat kamu Git?”
“Pacarmu!”
Dan seperti biasa akhir obrolan mereka akan menjadi derai tawa.
***
Seteluk 25 Desember 2013
Retta benci melihat kegelisahan Agit yang mondar mandir sambil mengecek jam di handphone-nya. Agit sudah siap sedari tadi. Sekitar jam sepuluh tadi Agit nyaris mengalami shock traumatic, handphone-nya baru dinyalakan dan cowok dari CS yang bernama Gama menelponnya mengatakan dia baru dapat sewa motor dan baru akan jalan. Agit cemas, kalau si Gama tahu-tahunya sudah ada di dermaga ke Kenawa sementara dia baru saja terbangun dari tidurnya. Semalam Agit begadang menyelesaikan raport siswanya buat sabtu nanti. Untunglah si Gama masih di perjalanan.
“Tha, terus si Gama pasti mikir yak? Cewek apaan yang bangun siang?” tanya Agit panik.
“Cewek kayak kamu!” Jawab Retta sambil sibuk membereskan kamar mereka yang seperti kapal pecah. Sumpah mereka untuk tak membereskan kamar sampai di tahun 2014 akhirnya terpatahkan.
“Terus, ntar dibilang masa jilbaban tapi nggak sholat subuh?”
“Emang dia bakal nanya, kalau nanya tinggal bilang aja lagi mens.”
“Iiiiiiiih Retta.”
Agit mondar mandir lagi, dan setiap handphone-nya berbunyi dia seperti mendapat serangan panik.
Semoga cuaca cerah. Itu doa Agit, seminggu ini Seteluk hujan terus dan mereka cukup panik soal ancaman banjir. Tapi hari ini sempurna, langit berwarna biru dan ada beberapa gumpalan awan putih yang kelihatan nyaman untuk ditiduri.
Jam menunjukkan hampir pukul  dua siang dan SMS dari Gama yang mengatakan bahwa ferry-nya akan berlabuh membuat Agit memaksa Retta untuk buru-buru mengantarnya menuju dermaga. Agit mengajak Retta untuk ikut serta, tapi yeah namanya juga Retta walau punya badan gede Retta itu sangat takut dengan laut. Dulu, ketika mereka tinggal di Lombok, Agit yang selalu ‘membonceng’Retta kalau main kano di Senggigi. Jadi nanti Retta hanya mengantar Agit dan balik menjemputnya nanti. Mereka belum tahu apa Gama mau mampir di kos apa tidak.
***
Perkampungan Nelayan Poto Tano 25 Desember 2013

Retta tahu sejak awal, saat mendengar Agit berkata. “Gama ya?” pada cowok berjaket abu-orange dan mengendari motor matic di seberang jalan di bawah gerbang yang bertuliskan Selamat Datang di Kawasan Wisata Bahari Pulau Kenawa— Retta sudah menduga itu adalah cinta pada pandangan pertama. Bukan dia tapi Agit. Gama yang berkacamata dan berwajah ala cowok cupu di jaman mereka SMA adalah tipe cowok favorite Agit. Tipe favorite yang belum pernah Agit pacari. Karena Agit seringkali terlibat hubungan pacaran dengan cowok-cowok keren yang sayangnya brengsek. Saking sukanya Agit dengan lelaki tipe nerd itu, Agit pernah membuat tokoh bernama Megale Idea di dalam novelnya. Dan si Gama, menurut Retta seperti gambaran sempurna bagi sosok Idea di dunia nyata.
Retta melihat binar mata Agit yang tiba-tiba saja menyala dengan indah saat melihat Agit dengan ramahnya mengulurkan tangan dan menjabat tangan Gama. Agit dengan langkah ringannya berjalan menuju dermaga ke tempat beberapa nelayan dan mulai menawar harga untuk menyewa perahunya. Agit dengan celotehan dan senyuman yang berkembang dengan manisnya saat mulai bicara. Agit, betapa Retta bersyukur telah melihatnya tak lagi dibayangi awan kelabu yang membuatnya tak bergairah.
Agit memaksa Retta untuk ikut dengan mereka, tapi Retta terlalu takut, lagipula adalah ide bagus jika Agit bisa menghabiskan waktu dengan seorang cowok. Anggap saja itu seperti liburan romantis. Kasihan Agit juga sih, terakhir kali Agit menghabiskan waktu dengan cowok adalah beberapa bulan lalu, di liburan Idul Adha dengan Didan yang kurang ajarnya ternyata punya pacar.
***
Lautan dekat Pulau Kenawa 25 Desember 2013
Kali terakhir berperahu, Agit bersama orang-orang yang kini tak lagi akan pernah bersamanya. Agit merasa harus membuang jauh-jauh perasaan yang bisa membuat pedih hatinya. Lagipula, entah lautan menujukkan keajaibannya atau ada kekuatan misterius lainnya yang membuat hatinya diliputi kebahagiaan dan suka cita. Saat ini Agit hanya ingin tersenyum dan entah kenapa matanya tak ingin meninggalkan sosok Gama yang memotret lautan dan panorama di kejauhan. Agit bahkan merekam dengan otaknya setiap gerakan dan ekspresi Gama bahkan yang terhalus sekalipun.
Agit memeluk dinding perahu dan tangannya mencoba menyentuh lautan, itu seperti semacam penghormatan bagi Agit untuk sang alam. Agit selalu mengagumi keindahan alam dan harapan ‘sok idealisnya’ adalah ingin hidup berdampingan dengan harmonis bersamanya. Agit berusaha mengurangi pemakaian kertas dan plastik, juga mengantongi sampahnya kemana-mana daripada harus membuangnya sembarangan. Agit juga selalu berjalan kaki ke lokasi yang masih bisa dijangkaunya. Ke sekolah tempatnya mengajar, setiap hari Agit berjalan kaki, itu salah satu waktu terbaik untuk berkomunikasi dengan dirinya juga untuk menjaga alamnya, serta menikmati pemandangan sawah dan kebun di sepanjang perjalannya. Sebenarnya, jalan kaki juga baik untuk konsentrasi, tapi buat beberapa orang apa yang Agit lakukan malah dianggap mereka sangatlah aneh dan menyusahkan diri sendiri, padahal Agit senang karena setiap kali menghabiskan waktu begitu dekat dengan alam dia selalu merasakan efek yang membahagiakan jiwanya.
Agit bersyukur untuk hari ini, untuk lautan luas yang indah dan cakrawala yang mendamaikan jiwanya. Agit berharap semesta mau memberikan keajaibannya, membuat pengalamannya hari ini menjadi sebuah kisah bisa menjadi kenangannya yang sempurna.
***
Pulau Kenawa, 25 Desember 2013
Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata, memiliki pulaumu sendiri. Dulu, salah satu pikiran konyol yang sempat mampir dalam benak Agit adalah memiliki pulau pribadi. Ternyata inilah keajaibannya. Kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara tak terduga, untuk hari ini Agit merasa Gama seperti Sinterklaas yang sering dilihatnya di film kartun anak-anak di setiap Natal, Gama membantu mewujudkan salah satu mimpi terbesarnya.
 Agit tak sabar ingin melompat ke perahu dan menjejakkan kakinya di pasir yang basah, membenamkan kakinya yang kini bersandal jepit. Butiran halus pasir menggelitik kulitnya, segarnya air laut seolah melepas ketegangan kakinya ketika sang ombak seolah datang untuk menyambutnya. Agit rasanya ingin tertawa keras dan ingin bertindak gila karena Agit sangatlah bahagia.
Agit mengedarkan pandangan ke seluruh pulau yang luasnya tak lebih dari tiga belas hektar itu. Matanya langsung tertuju pada bukit mungil, dia harus mendaki. Dia ingin melihat keseluruhan pulau Kenawa dari atas sana. Pulau itu indah, Agit melihat warna hijau yang paling hijau di padang ilalang yang seperti hiasan bulu-bulu cantik dari nirwana. Dan warna biru dalam banyak gradasi pada laut dan langitnya. Di sana ada sebuah pondok mungil juga beberapa berugak[1] cantik di sepanjang pantainya.
Pemandangan di seluruh pulau itu seolah ingin menyenangkan Agit dan di sana seakan ada gelembung tak nampak yang menyelubungi Agit. Agit seolah berada di dunia yang dimilikinya sendiri dan pancaran kebahagiaan seakan bisa dia pancarkan ke seluruh semesta. Agit baru tersadar ketika Gama menyapanya.
“Git?”
Rupanya sedari tadi Gama tak tega harus membuyarkan kebahagiaan Agit.
“Hah?”
“Boleh minta difoto?”
Agit lama bisa mencerna kata-kata Gama, dan sekarang Agit serasa seperti menjadi penderita Stendhal Syndrome[2], semesta adalah karya seni yang luar biasa. Tiba-tiba saja dia merasa pusing dan sedikit mual juga keringat dingin mulai menjalarinya. Apalagi saat pandangan matanya bertemu Gama. Agit bahkan tak mencopot kacamatanya. Agit dengan wajah mungilnya sedikit tidak pede berkacamata dan seringkali meletakkan kacamata minusnya di kepala atau menggantungnya di kerah baju. Tapi, Agit tetap memakainya bukan karena  ingin menjadi sama seperti Gama, tapi Agit hanya ingin menyamarkan binar matanya. Agit tak sadar bahwa saat ini endorfin mulai merendam sebagian otaknya.
Gama menyerahkan kameranya pada Agit dan dia mulai meotret Gama dengan latar belakang indahnya panorama milik pulau Kenawa.
“Kamu mau difotoin nggak?”
“Hah?”
“Mau difoto, nggak?”
“Eh iya mau.”
Sayang, Agit seolah kehilangan separuh otaknya. Dia bahkan lupa bagaimana harus berekpresi di depan kamera.
Ada yang salah atau mungkin ini adalah hal yang paling benar yang terjadi pada diri Agit.
“Gama, daki bukit yuk!” Ajak Agit, semangat Agit membuatnya kuat. Memang bukit itu tak seberapa tinggi tapi tetap saja perlu energi.
“Yuk,”
Agit mendahului Gama. Kala mendaki tak sedikitpun Agit mengeluh, tidak ada lelah hanya bahagia yang seakan bertahan selamanya. Selain itu ada perasaan lain yang terasa menghangatkan hati Agit, damai. Sedamai kala angin membelai wajahnya, dan dia berbaring membiarkan rerumputan menjadi alas tubuhnya. Menikmati laut di kejauhan, langit, nyanyian alam, bahkan suara nafas Gama yang kelelahan sekarang terdengar seperti nyanyian.
“Capek?” tanya Agit. Gama mengangguk.
Lama mereka saling diam dan tak tahu siapa yang memulainya mereka mulai bicara dan sangat khas perempuan Agitlah yang mendominasi pembicaraan dan Agit bersyukur Gama adalah pendengar yang baik, Gama bahkan tak menunjukkan ekspresi bosan saat Agit mulai mengoceh tanpa henti. Belum pernah Agit bicara sebanyak itu dan senyaman itu dengan seseorang yang baru dikenalnya. Dia memang kadang berbicara banyak tapi lewat perantara, dunia maya misalnya.
“Jadi sejauh ini, siapa kenalan dari CS favoritemu?” tanya Gama.
“Kamu,” Itu benar “karena kamu yang komunikasinya paling mudah dimengerti, karena kamu orang Indonesia yang pertama. Selain itu ... kamu mau mendengarkan aku.”
Mereka membicarakan banyak hal, kecuali satu hal kehidupan asmara.
Satu bagian dari obrolan yang disesali oleh Agit, saat Gama bertanya.
“Kamu nggak sholat?”
“Lagi nggak sholat,” Agit khawatir kalau Gama pikir dia bohong.
“Aku mau sholat, tapi wudhu-nya dimana yak?”
“Tuhan kan Maha Asyik, ada toleransi lho buat musafir.” Agit tak menyangka bahwa jawaban itu memiliki nilai rasa yang membuatnya terlihat bodoh.
“Buat sholat nggak.” Tapi, di saat yang sama Agit tahu satu hal. Gama adalah pria langka itu, pria langka yang selalu dia minta di dalam doa.
***
Lautan-Perjalanan Pulang 25 Desember Menjelang Senja

Kepanikan melanda Gama, apalagi angin bertiup kencang dan cuaca mulai tak bersahabat, dia melihat hujan di kejauhan.
“Turun yuk!” Agit bangkit lebih dulu, mereka segera menuruni bukit, masih dengan semangatnya yang seperti takkan pernah padam.
“Ya, kamu harus sholat.” Kata Agit.
“Tadi harusnya bilang sama si bapak Nelayan supaya dijemputnya sebelum jam setengah enam.” Jamnya sudah hampir mendekati setengah enam, tapi dia belum melihat dikejauhan. “Khawatir nggak, kalau kita nggak dijemput?”
Agit menggeleng, dia malah tak ingin meninggalkan pulau ini.
Lewat dari setengah enam, Gama bahkan sudah selesai sholat dan memotret banyak foto dan Agit bahkan sudah berjalan di sepanjang pantai tapi tak nampak tanda-tanda si bapak Nelayan. Gama menghampiri Agit yang duduk dan membaca buku di Berugak.
“Kayaknya banyak nelayan yang cari ikan di sekitar sini, gimana kalau kita sewa perahu mereka ...”
“Yaps, nanti kita cari rumah bapak nelayan yang tadi.” Agit menyelesaikan kalimat Gama yang kini mengangguk dan mulai menghilangkan ekspresi khawatir di wajahnya. Dan, thanks God si bapak Nelayan menepati janjinya, dia datang walau tak tepat waktu. Cuma dia bawa kabar buruk, hujan lebat. Harusnya Agit khawatir, tapi dia malah dengan cepat melompat ke dalam perahu. Mengeluarkan jaketnya karena udara sekarang memang lebih dingin.
Benar saja di tengah perjalanan pandangan mereka bahkan tak bisa melihat dalam jarak yang cukup jauh. Hujannya sangat lebat dan angin kencangnya luar biasa. Agit diserang ketakutan seketika, dia teringat sebaris kalimat yang pernah dia tuliskan untuk sebuah kisah fiksinya ‘Aku membayangkan takdir menjebak kita dalam sekoci di tengah lautan. Kita tak memiliki siapapun kecuali satu sama lain. Lalu kita akan saling bercerita, hingga kusadari aku membunuhmu dengan kebosanan. Kisah yang sama yang selalu kuulang. Kuharap kita segera bertemu dengan daratan dan kutebus dosaku dengan kisah yang akan kutuliskan tentang kita yang bertahan di tengah lautan.’Suasananya memang tak terlalu sama seperti yang tengah terjadi tapi dalam diri Agit, dia berjanji akan menuliskan kisah ini.
Tak lama bapak nelayan menyodorkan jas hujan berwarna biru dan hijau. Itu milik Gama, tapi dia membiarkan Agit memakainya.
***
Sepanjang perjalanan Poto Tano Seteluk, Menjelang Senja 25 Desember 2013
Mereka sampai di daratan, hujan reda tapi awan mendung masih membayangi. Agit menatap ke arah matahari tenggelam, hanya ada sedikit semburat jingga. Agit menenangkan hatinya, suatu hari tidak boleh terlalu sempurna.
“Kamu mau balik ke Lombok? Capek tauk!”
“Tapi motornya cuma disewa buat sehari,” Gama memutar akal.
Agit tahu jadi dia menawari. “Kamu mau ikut ke kosanku nggak?”
Mendengar kata kos-kosan Gama berpikir itu kamar sempit dan Agit bahkan berbagi dengan teman kamarnya.
“Hmmmm...”
“Aku sama Retta santai, kok. Kita bisa minggat ke kamar tentangga.” Lama Gama menimbang sebelum akhirnya bilang.
“Hmmm.... boleh deh.”
Mereka memutuskan untuk pulang menuju ke kosan. Agit duduk di boncengan sambil berpegangan pada ransel Gama dan  bertanya-tanya. Bagaimana cara Tuhan bekerja hingga satu manusia bisa bertemu dengan manusia lainnya. Sepanjang perjalanan Gama bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang gadis bertahan tinggal di tempat sesepi itu, bertahan nyaris tiga tahun tanpa teman sebenarnya, dan juga dengan rutinitas yang menjadikan dia tak berbeda dari robot dan berjiwa.
Kepala Agit berputar berpikir, memikirkan tentang jika saja dia tinggal di kota seperti Jakarta misalnya, maka otak romantisnya berencana tentang, saat liburan tiba, dia akan mengepak buku dan tiket ke dalam ranselnya dan melangkah menuju pada alam, yang jauh di pedalaman, tempatnya nyaris tak ditemukan. Dia akan mengajak seseorang yang sangat dicintainya. Dia bahkan telah memikirkan kalimat bujukannya untuk orang yang di dalam kepalanya entah kenapa berwajah seperti Gama. “Kita harus menjauh dari kebisingan, hiruk pikuk masyarakat yang tak masuk akal, masalah yang membuat gila serta rutinitas yang membunuh dengan perlahan. Aku ingin hanya ada kita-dan semesta merestui cinta kita dengan cara yang sederhana. Alam akan membuat kita paham dan membuat kita memiliki keyakinan; bahwa dengannya kita memiliki kehidupan yang paling kita butuhkan.”
***
Seteluk, 25 Desember 2013  Malam hari.
Retta berada di antara Agit dan Gama, dan berharap menghilang saja. Dia ingin Agit memiliki waktu yang tepat dengan orang yang tepat. Itu saja.
Agit merasa bahwa dia harus berterima kasih, semesta seolah membiarkannya merasakan suka cita hari ini.
Gama. Agit suka nama itu. Tiba-tiba saja dia teringat ketika Devon mengartikan namanya dalam bahasa Jerman Swiss. Sekarang, dia ingin mengatakan pada Gama bahwa namanya memiliki arti dalam bahasa Sumbawa. Gama adalah semoga, berarti harapan, wujud rendah hati ketika memohon, kesabaran serta kebijakan. Agit merasa Gama memiliki semua itu dalam dirinya.
“Gama, kamu tahu ... nama kamu berarti semoga dalam bahasa Sumbawa.”
“Oh ya?” Agit tak bisa membaca ekspresi Gama. Agit tak mengerti, kenapa dia sampai kehilangan kemampuan bahkan untuk sekedar mengetahui apa yang mungkin hati seseorang lukiskan dari wajahnya. Satu kata tentang Gama yang bisa Agit baca; indah.
***



Sumbawa Besar, Minggu 28 Desember 2013

Let’s get lost! Seperti apa yang tertulis di profile picture Gama yang berlatar belakang panorama senja di lautan. Hari ini Gama dan Agit entah sengaja atau tidak tapi mereka tersesat. Awalnya mereka hanya berniat pergi mencari madu, susu kuda liar dan beberapa oleh-oleh khas Sumbawa. Sore nanti Gama harus kembali ke Mataram, besok dia harus terbang ke Jakarta. Liburan berakhir dan Gama tak mungkin tinggal, sementara tanpa Gama tahu. Agit baru saja mulai untuk mengakui bahwa hatinya memiliki perasaan yang untuk kali ini tak mungkin disangkalnya. Apa artinya cinta?Dia bahkan tak tahu siapa lelaki yang membuatnya jatuh cinta ini, tapi tetap saja dia membiarkan hatinya dimiliki, walau dia tak tahu apa lelaki ini bisa mengerti.
***
Pelabuhan Kahyangan 31 Desember 2013, 21:30
Bukan sekali dua kali Arden membiarkannya menunggu. Retta mengambil izin kerja di saat dia tak boleh izin, tapi rekannya kak Han dan kak Deni memberikannya jalan untuk menyelamatkan kisah cintanya.
“Brondong nggak punya masa depan,” itu yang Agit katakan. “Apa kita menerima begitu saja cinta kita anggap layak untuk kita miliki?” Retta hampir menyerah tapi jika satu jam lagi  Arden tak datang maka Retta tak bisa menunggu.
***
Seteluk 4 Januari 2014
Kembali dari liburan Agit dan Retta sama-sama nelangsa, mereka bahkan sama-sama saling mengklaim bahwa cuaca buruk membuat mereka meringkuk terus dan berdiam diri di tempat tidur sepanjang hari. Tapi, mereka tahu mereka harus bangkit.
“Apa yang paling menyedihkan dari patah hati?” Agit tiba-tiba bertanya, mereka sedang berbaring saling bersisian. Ini adalah kata-kata terpanjang Agit sejak kembali ke kosan, selebihnya dia hanya mengatakan “iya”, “tidak”, atau “oh”.
“Bokek kali,” Retta tak tahu harus menjawab apa.
“Jatuh cinta pada orang yang salah di saat yang salah. Aku nggak tahu ini benar apa salah, tapi aku sekarang percaya dongeng jatuh cinta pada pandangan pertama.” Ini bukan Agit yang lebih sering memendam perasaan, setidaknya Agit mengetahui bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi dan dia punya hati.
“Gama?” Retta menghela nafas.
“Padahal kemarin ketemu Didan, kabar buruknya. Bahkan saat Didan di depan mata. Aku seolah nggak melihatnya.” Suara Agit terdengar lemah.
“Karena bukan dia yang ingin kamu lihat. Perjuangkan hatimu, Git!”
“Tapi....”
“Kamu tahu kamu takkan memilikinya kan? Kamu nggak kehilangan apa-apa, seenggaknya kamu lega.”
“Gimana Arden?” tanya Retta.
“Aku harus menerima kalau dia takkan berubah.” Retta berguling dan membelakangi Agit. Artinya dia tak ingin membahas apapun lagi. Agit bangkit dan membuka netbooknya, dia menulis pesan untuk Gama. Tapi baru berani mengirimnya berhari-hari kemudian.
1/10, 2:45am
Hai Gama,
Saya pada akhirnya memilih untuk menulis ini karena saya sudah sangat kebingungan, saya menulis ini dengan mengumpulkan semua keberanian yang saya punya. Walaupun saya nggak berani menebak-nebak respon kamu nantinya tapi yang jelas saya harus mengatakan apa yang harus saya katakan, saya nggak mau menyesal karena nanti mungkin tidak ada kesempatan. Sebut saya bego, konyol atau apapun. Saya malu, bahkan pada diri saya sendiri, okay kita ketemu di waktu yang sangat singkat dan kesannya ini drama banget. Saya sendiri malah berharap bisa menertawakan kejadian ini. Saya bahkan nggak kenal kamu, kita hanya kenal begitu aja. Entah ini baik atau buruk, otak saya nggak bisa berhenti memikirkan kamu, perasaan saya cemas dan gelisah nyaris sepanjang waktu dan ini menyiksa saya. Konsentrasi saya hilang dan saya kebingungan, jelas sekali ini bukan kesalahan kamu. Akhir-akhir ini saya nggak bisa mengerjakan apapun dengan benar dan ini nggak bagus untuk hidup saya. Saya harap ini Cuma gara-gara terbawa suasana saja dan saya sudah berusaha untuk berpikir realistis. Sahabat saya menyarankan supaya saya memberitahu kamu, walau saya nggak tahu apa ini keputusan yang bijak. Saya ingin kembali merasa lega, saya ingin kembali seperti sebelumnya tapi saya nggak tahu harus bagaimana. Ini terasa seperti bukan saya. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, saya merasa bodoh dan malu, tapi lebih dari segalanya saya butuh perasaan lega. Perasaan kayak gini membingungkan sekali tapi saya tidak menyesali dan ikhlas—sebenarnya ada banyak bagian indah dan menyenangkannya. Saya tidak sedang berusaha untuk menambah beban pikiran kamu, semoga kamu nggak berburuk sangka ya. Saya tidak menaruh harapan tapi mungkin kamu bisa terima pesan ini sebagai curhatan teman atau pujian. Kamu orang yang baik dan berani, saya harap kamu baik-baik di sana. Semoga kamu berhasil dengan tujuanmu.
            -Brigitta-
Agit menunggu dan terus menunggu tapi di sana, hanya ada tanda centang mungil yang menunjukkan bahwa pada Jumat pukul 6: 28 pesan itu telah terbaca.
***
Mereka pernah bertanya-tanya tentang banyak hal yang harus mereka korbankan untuk mengubah diri mereka dari gadis remaja menjadi wanita dewasa. Mereka tak menemukan jawabannya, mereka menjalaninya. Mereka pernah bertanya mengapa mereka harus bertahan dalam kebingungan, mereka tahu mereka tak dibiarkan menyerah dan bersabar untuk menemukan jawaban. Mereka pernah bertanya mengapa ada yang datang lalu pergi begitu saja tanpa boleh dimiliki, selalu ada alasan di sana dan mereka percaya bahwa pertemuan itu tidaklah sia-sia.  
Retta mendapatkan apa yang dipertanyakan. Bahwa kekuatan terbesar seorang perempuan adalah bertahan, bertahan walau kadang menyakitkan bertahan walau kadang kamu harus menukarnya dengan kepahitan. Agit mengetahui apa yang harus dia ketahui bahwa pada akhirnya dia harus jujur. Dia terlalu lama mengabaikan tuntutan hatinya untuk merasakan cinta.
Mengakui perasaan itu kadang tak mengubah akhir kisahnya, malah mungkin merusak keadaannya. Tapi, setiap rasa memang harus diungkapkan. Bukan masalah berhasil atau tidaknya menjadi sebuah hubungan. Tapi, itu untuk membuktikan bahwa setiap orang boleh jatuh cinta dan juga berhak untuk dicintai. Berapa banyak penderitaan dari cinta yang tak pernah diungkapkan? Berapa banyak kesedihan dari sayang yang tak pernah dikatakan? Berapa banyak penyesalan dari kepedulian yang tak pernah ditunjukan? Mereka hanya terjebak dalam budaya yang tak membiasakan cinta harus diekspresikan. Setidaknya sekarang mereka percaya dunia akan lebih indah jika manusia menyadari bahwa mereka berhak  memiliki seseorang untuk disayangi dan seharusnya orang yang disayangi memahami bahwa mereka begitu berarti.
Tidak semua kisah cinta berakhir indah tapi saudara sejiwa selalu untuk selamanya.



[1]bangunan berupa panggung terbuka dengan empat atau enam tiang beratap berbentuk seperti lumbung.
[2] Penyakit ini menyebabkan penderitanya mengalami sakit kepala, jantung berdebar-debar dan halusinasi saat melihat benda-benda seni (terutama yang bagus dan besar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar