Date a girl who reads

Date a girl who reads

Sabtu, 04 Juli 2015

[Cerpen] Gadis Kesayangan Sang Pecinta Buku



Suatu senja di kota Sumbawa Besar, seorang gadis pulang kepada kenangan masa kecilnya. Gadis itu bernama Gadis. Dulu, di sinilah dia menghabiskan masa kanak-kanaknya yang penuh dengan cerita manis. Namun, ketika dia masuk melalui gerbang kayu lapuk itu, yang dia tahu bahwa hatinya remuk. Ketika pintu diketuk takkan lagi ada yang menyahut. Ketika dia mengucap salam, takkan ada lagi ayahnya yang dengan segera datang menyambut. Pulang, hanya untuk mengenang hal-hal indah yang telah hilang.
***
                "Jika kamu melangkah pergi artinya kamu tak boleh kembali … " Ancaman dari ayahnya tak mengurungkan niatnya untuk mengejar cita-cita. Selepas SMA dia hanya ingin menuruti mimpinya. Mimpi sangatlah egois. Mimpinyalah yang membuat dirinya berubah menjadi anak sadis yang meninggalkan cerita miris, karena kesalahannyalah Ayahnya meninggal dengan tragis.
                Menurut Gadis, kesepian dan kekecewaan membuat ayahnya kehilangan harapan hidupnya. Ketika istrinya meninggal, dia masih memiliki anak gadisnya. Ketika anak gadisnya pergi, yang dia ketahui bahwa dia tak cukup berharga untuk membuat orang-orang yang dicintainya tetap tinggal bersamanya.
                Anak perempuannya memang berkemauan keras. Kebahagiaan baginya tak cukup hanya dengan apa yang mampu pria itu bawa pulang ke rumah. Pria itu penuh cinta, hanya saja dia tak memiliki cukup rupiah untuk membeli berbagai keindahan dunia. Sepotong roti dan secangkir kopi pahit setiap pagi membuat putrinya muak. Gadis itu menginginkan roti dengan keju atau secangkir cokelat panas. Anak perempuannya bosan untuk kado buku di setiap akhir pekan. Kadang sesekali dia ingin hadiah bandul berbentuk hati  yang akan membuatnya terlihat menawan. Bagaimanapun, dia anak perempuan.
***

                Gadis mewujudkan mimpinya. Mimpi yang dia tukarkan dengan cinta ayahnya. Sebuah penukaran yang tak sepadan. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan tak selamanya membawa kebahagiaan. Mimpi besar gadis itu justru membawanya kepada kehampaan. Dia menerima banyak pujian, dia mendapatkan benda dan barang yang dia inginkan. Tapi, tak ada kasih sayang. Sementara, kerinduan justru membawanya pada penyesalan.
                Rintik rindu di balkoni, di sebuah rumah musim panas yang disewanyalah yang membawanya pada keputusan untuk pulang. Ketika itu, dia menerima kabar kematian sang ayah. Pulang menjadi suatu keharusan. Dia bahkan mengabaikan kata-kata terakhir ayahnya ketika dulu dia meninggalkannya.
***
                "Kupu-kupu dan gelembung soda, tahukah kamu betapa kamu mirip keduanya?" Melalui Skype Artha bicara padanya. "Kupu-kupu, berasal dari kepompong. Kamu adalah kepompong yang dirawat ayahmu. Dia mengenalmu, tahu kemampuanmu, tahu seberapa besar cita-citamu. Kamu kupu-kupu bersayap besar dan yang bersayap pada akhirnya akan terbang. Ayahmu justru menyayangkan jika talentamu tak dikembangkan." Artha mencoba meyakinkan Gadis.
                Saat itu Gadis tak berbicara, dia hanya menatap muram pada layar yang menampilkan wajah teman masa kecil yang tak lagi dijumpai lebih dari sepuluh tahun lamanya. Teman masa kecil yang terlalu sering dia rindukan.
                "Dan gelembung soda―tanpanya, minumanmu terasa hambar. Seperti segelas Cola begitulah kehidupan ayahmu, yang tak bisa dikatakan indah jika tanpamu. Kamulah gelembung itu, gelembung-gelembung mungil yang mempengaruhi cara orang-orang menafsirkan rasa manis dalam kehidupan ayahmu. Seorang ayah, butuh seorang anak perempuan untuk disayangi, dilindungi, yang mendampinginya. Anak yang berbakti. Tapi, tahukah kamu ada yang lebih berarti dibanding anak yang berbakti? Anak yang membanggakan. Dan kamu berhasil melakukannya." Artha berusaha memperkecil rasa bersalahnya, tapi baginya hal itu sia-sia.
                "Ayahmu meninggal dengan tenang, bukan karena kau tinggalkan. Memang ada kesepian dan kepedihan, tapi yang kutahu kamulah kebanggaannya, sumber kebahagiaannya." Bayangan Artha memburam, genangan kesedihan sekarang membanjiri pipinya. Gadis menutup laptopnya. Tak sanggup mendengar hal-hal indah menyayat hati lainnya yang mungkin diucapkan Artha.
                 Pembicaraan terakhirnya dengan Artha membulatkan tekadnya, pada keputusan untuk meninggalkan posisinya sebagai Chef di salah satu restoran terbaik di Beverly Hills. Gadis  pulang ke kota kecil itu, walau hanya demi membayar rasa bersalah yang tak lagi berguna.
***
                Gadis ingat pada salah satu kenangan masa lalunya. Dia merobek buku-buku kesayangan ayahnya dan meletakkannya sebagai hidangan makan malam. Bentuk protesnya, karena ayahnya membeli begitu banyak buku dan tak memikirkan kenikmatan lidah dan rasa kenyang di perutnya. Ayahnya, lebih suka mengenyangkan pikirannya. Hal itu tak masuk akal bagi gadis usia belasan yang memiliki kecintaan besar pada makanan. Pada saat itu Gadis sebetulnya ketakutan, dia merusak benda berharga milik ayahnya. Alih-alih menghukumnya, ayahnya hanya menyentuh kedua pipinya dengan sayang dan menatapnya dalam sambil berbisik. "Ada kunang-kunang di matamu. Cahayanya indah. Ayah menyayangimu." Ingatan itulah salah satu hal yang membawa kakinya kembali menjejakkan kaki di sini.
                Pagi ini, dia tahu apa yang dia lakukan. Dia harus merawat buku-buku ayahnya―hal lain selain dirinya yang begitu dicintai ayahnya. Dia tak ingin kelembapan atau mungkin rayap merusaknya. Namun, alangkah terkejutnya Gadis, segala sesuatu yang ada di sana sekarang ternyata jauh lebih baik dan buku-bukunya lebih banyak dari apa yang pernah diingatnya. Ada rak-rak baru, dan nampak semuanya terawat.
                Dinding-dinding perpustakaan pribadi ayahnya masih memajang potret masa kecil hingga remajanya. Tak hanya itu, tapi juga potret-potret terbarunya. Seseorang mengambilnya dari album facebook-nya. Tentu bukan ayahnya, ayahnya tak begitu berminat pada teknologi. Dia bahkan menyalahkan televisi sebagai pembunuh imajinasi.
                "Ayahmu benar." Seseorang mengagetkannya. Gadis hampir saja menjatuhkan buku yang dipegangnya. "Kunci masih diletakkan di tempat biasa. Seperti katanya, sewaktu-waktu kamu pasti pulang untuk menebus rindu."
                "Di bawah keset seperti biasa," Gadis hampir tak bisa berkata dengan benar. Ada sesuatu yang membuat lehernya tercekat.
                "Setiap sore dia selalu menunggu. Duduk di situ." Artha menunjuk sofa yang usianya sama dengan usia si gadis. "Dengan pakaian terbaiknya." Gadis melangkah dan duduk di sana. Matanya tepat menatap lurus pada gerbang kayu rumahnya. "Jika kamu datang, dia akan senang. Jika kamu datang, dia berjanji untuk mencicipi semua yang kamu masakkan. Hal yang seringkali diabaikannya dulu. Ayahmu bilang, maaf karena telah menduakanmu dengan buku-buku." Bagaimana bisa ayahnya menyampaikan hal sepenting ini pada seorang Artha?
                "Dan, aku juga minta maaf karena marah pada buku-buku bodohnya." Gadis tak bisa menahan sedihnya. "Aku marah karena dia hanya menceritakan tentang mereka yang tak nyata. Dia menyukai dunia yang aku tak bisa masuk ke sana. Seperti dia yang tak ingin masuk ke duniaku. Ayah tak pernah memahami inginku." Suaranya serak, tapi setiap kata yang terucap dari bibirnya membuat perasaannya lega.
                "Masih ingat apa yang terakhir diucapkannya?"
                Mengenang itu membuat mata Gadis kembali basah.
                "Jika kamu melangkah pergi artinya kamu tak boleh kembali … " Artha menghela nafas. "bila belum bisa memuwujudkan mimpi." Sambungnya lagi.
                Gadis tak percaya pada apa yang didengarnya.
                "Aku ada di sana, selalu ada dan tetap ada. Aku mendengarnya, seluruh kata yang tak ingin kamu dengar dulu. Kamu hanya ingin pergi secepatnya." Artha mencoba membawa Gadis kembali pada kenangan lama.  
                "Aku minta maaf walau mungkin terlalu terlambat. Walau tak pernah kamu tunjukkan tapi aku tahu kamu marah. Karena, betapa aku dan ayahmu begitu sama, alih-alih kamu putrinya. Pikirmu, setiap ayah menginginkan seorang putra." Ada tawa mengejek dalam suaranya tapi kemudian hilang ketika dia kembali bicara.
                "Sejak dulu, akulah yang paling sering menghabiskan waktu di sini dengannya. Tak inginkah kamu bertanya, mengapa?" Ada keraguan ketika Artha ingin menyelesaikan kalimatnya. "Karena aku ingin jadi sepertinya. Menjadi pria yang mencintaimu sedemikian besarnya." Bahkan, Artha sendiri terkejut ketika dia menjawab sendiri pertanyaannya.
                Gadis tak bisa berkata-kata. Dia hanya mampu menatap Artha dan menyambut tangannya. Menggenggamnya erat di dada, dan menumpahkan perasaannya yang tak mampu dibahasakannya.
                Setelah jeda panjang, akhirnya Artha memilih menggunakan kata-kata. Karena, kadang kebisuan terlalu sulit untuk diterjemahkan.
                "Kita memang sepasang merpati, tapi kamu adalah merpati yang selalu ingin terbang tinggi. Sulit untuk kuraih." Gadis menggeleng, seakan tak setuju dengan ucapan pria yang berada di depannya. "Oh …Gadis, seandainya saja bisa kukatakan … Terbanglah sejauh sayapmu mampu membawa terbang. Tapi ingat kemana harus pulang." Ada rasa frustasi ketika Artha mengucapkan kata yang telah disimpannya sedemikian lama.
                Gadis tak pernah mengira apa yang sejak dulu menantinya di sini. Sesuatu yang dulu sulit untuk ditinggalnya pergi. Dan, tak ingin menyesali sekali lagi. Dengan bibir gemetar akhirnya dia mampu mengatakannya:
                "Aku pulang … padamu. Aku mohon, jadilah mimpi baruku."

6 komentar:

  1. Aku suka cit.
    Kalau di jadikan novel berlatar sumbawa ini pasti booming nih di sumbawa hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada rencana mau bikin novel remaja berlatar belakang Sumbawa. Cuma kalo sekarang pengen fokus ke belajar menulis cerpen dulu :)

      Hapus
  2. Sangat berhasil! Suka dengan perbandingan makanan untuk pikiran dan makanan untuk lidah.

    BalasHapus
  3. Aku kira Artha itu perempuan. Efek lapar nunggu magrib jadi gak konek begindang. -___-

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus