Date a girl who reads

Date a girl who reads

Kamis, 23 April 2015

Mereka Bukan Tidak Suka Membaca, Mereka Hanya Trauma Dengan Pengalaman Membaca Yang Kurang Menyenangkan




Ada pertanyaan yang diajukan seorang teman beberapa tahun lalu yang membuat saya kesulitan menjawabnya secara serius, jawaban yang saya berikan akan lebih baik jika dianggap candaan. Tapi jika kamu tipe serius, maka itu akan terdengar miris dan tragis. Pertanyaannya adalah: "Apa buku favorite siswamu?" Saya cuma bisa bilang, "Buku wajah, karya Mark Zuckeberg."
      Sesungguhnya kebanyakan siswa saya menderita buta aksara. Ini masalah besar! Siswa SMA tidak bisa membaca? Jangan salah paham, mereka sebenarnya bisa mengenali huruf, merangkainya menjadi kata dan melafalkannya dengan benar. Tapi membaca bukan hanya kegiatan membunyikan kata, namun mengerti dan memahami si kata. Bukankah nyaris tak ada bedanya bisa melafalkan huruf namun tak mengerti artinya dengan sama sekali tak bisa membaca.
      Sebagai guru saya memahami hal ini. Kebanyakan anak-anak usia sekolah tidak menaruh minat besar pada membaca. Padahal menurut saya ini adalah kesalahan, karena― contoh sederhana saja, dalam proses belajar misalnya, ‘kesalahan’ metode belajar dapat berakibat fatal. Pernah dengar tentang solusi tak masuk akal agar pintar? Bakar bukunya, abunya dicampur air dan diminum. Itu kelakar populer di kalangan anak-anak sekolah. Banyak anak-anak memilih ingin pintar tapi tanpa pengorbanan. Untuk itu marilah kita jawab pertanyaan berikut ini. Berapa banyak siswa yang memilih metode menghafal alih-alih membaca perlahan guna memahami materi yang mereka pelajari?

      Salah satu kunci belajar adalah banyak membaca. Namun tak sedikit yang memilih cara praktis dengan langsung menghafal, mereka keliru atau mungkin tak mengerti bahwa otak manusia memiliki keterbatasan ingatan seiring berjalannya waktu dan juga ada memori-memori yang akan terhapus oleh memori yang lebih penting. Berbeda jika mereka belajar dengan cara membaca materi dengan mengerti isi materi tersebut. Selamanya mereka akan mengingatnya. Memahami menjadikan seorang anak mampu menganalisis masalah. Bukankah pada akhirnya apa yang dipelajari di sekolah adalah bekal si anak untuk menyelesaikan masalah di masa depan?
      Tapi bila membaca saja malas rasanya sulit bisa membuat siswa menjadi lebih berpengetahuan. Anak-anak dan remaja masa kini adalah tipe manusia yang sudah dimanjakan oleh keberhasilan teknologi yang dikembangkan secara susah payah oleh generasi sebelumnya, televisi menjadikan anak-anak sebagai makhluk audio-visual yang ‘mematikan’ fungsi otak dalam berimajinasi dan sebagai generasi ponsel pintar (smart phone) mereka dengan memudah bertanya pada Google, nyaris tidak ada proses mencari ilmu, mendapatkan, memahami hingga menyimpulkannya
      Kenapa Siswa Benci Membaca?
      Saya percaya pada kalimat, tidak ada orang yang benci membaca, mereka hanya membaca buku yang salah. Mari kita kembali pada sub judul, kenapa siswa benci membaca? Untuk mendapat jawaban mungkin kita harus kembali ke masa lalu dan bertanya tentang bagaimana sejarah si anak mengenal huruf. Saya termasuk yang beruntung di usia lima tahun saya lancar membaca karena saya lahir dari keluarga yang mencintai buku dan segala jenis bacaan.
      Perkenalan saya dengan huruf juga sangat menyenangkan. Ayah saya secara kreatif memperkenalkan anak-anaknya dengan alphabet melalui cara yang kami pikir itu hanya permainan bukan sebuah kegiatan belajar. Ayah saya membuatkan huruf-huruf dalam bentuk puzzle sebagai cara kami belajar mengeja. Dibanding membelikan mainan orang tua saya justru sengaja berlangganan majalah anak untuk kami, antara lain Bobo dan Donald Bebek. Di hari ulang tahun saya dan adik-adik saya pasti mendapat kado buku dari orang tua. Jelas terdengar aneh saat anak berusia 9 tahun mendapat novel John Grisham yang berjudul The Client dan di ulang tahun ke-24 saya mendapat buku langka-terlarang Mein Kampf―buku wajib-nya NAZI, catatan harian dari Adolf Hitler. Kesimpulannya, memang ternyata keinginan membaca harus dimulai dari lingkungan keluarga.
      Hingga ketika tahun 2010 saya akhirnya menjadi guru SMA (hurray!!!) eh, saya kaget luar biasa mengetahui bahwa di lingkungan terdekat saya, tak ada perpustakaan atau minimal rental buku. Dari hal tersebut kesimpulannya adalah bahwa saya berada di tempat yang masyarakatnya memiliki minat membaca rendah. Lalu apa kabar dengan anak-anak usia sekolah? tak jauh berbeda.
     
      Dan (malunya) … mungkin saya tipe yang gampang menyerah karena saya juga tidak berusaha 'mengajak' mereka jadi suka membaca dengan aksi yang nyata. Yang saya tahu, mereka memang tak berminat dan lebih parahnya beberapa memiliki ketakutan akan membaca.   

      Ada baiknya juga saya kepo dengan iseng bertanya dan mengamati secara diam-diam, sehingga saya (dengan sok tahu) mendapat tiga alasan ini:  

1.    Membaca membuat mereka (maaf) muak. Ada yang ingat keluarga Budi? Sebagian besar siswa belajar membaca dengan Bapak, Ibu, Budi, serta saudara Budi; Wati dan Iwan di buku yang berjudul Bahasa Indonesia Belajar Membaca dan Menulis 1a seringnya masih diwariskan dari generasi ke generasi, yang membuat saya shock adalah buku SD kelas 1 saya sama dengan siswa saya ketika mereka dibangku SD juga (padahal rentang umur kami belasan tahun).
      Pendidikan kita memang lebih suka berjalan di tempat. Bayangkanlah buku tua dan apak (secara fisik lho ya, saya mengakui buku belajar membaca itu secara isi sangat bagus sekali dan berterima kasih, dengannya saya belajar dan suka membaca hingga kini) bukanlah buku yang layak dan metodenya pun seharusnya tak lagi mengeja satu per satu ke depan kelas di meja guru dan didengar oleh seisi kelas. Ketika salah, guru tak segan menghardik, buat saya bagi anak yang bermental lemah itu bisa jadi pengalaman yang traumatik. Jelas sekali sejarah awal membaca buku tak layak membuat (maaf) alih-alih siswa suka membaca mereka malah muak.

2.    Membaca bukanlah kegiatan yang menyenangkan. Setiap jenjang pendidikan pada generasi saya hingga siswa saya selalu ada kegiatan membaca di depan kelas dimana bahan bacaannya hanya lebih panjang pada tiap tingkat pendidikan. Bahkan yang tak masuk akal masih ada di SMA seorang siswa berdiri untuk membaca (tak jarang dengan terbata) yang didengar oleh seluruh kelas untuk nantinya mereka ditanya tentang gagasan atau ide pokok dari yang mereka baca. Membaca seperti itu membutuhkan keberanian buat banyak orang, apalagi kemudian ditodong dengan jawaban tentang ide pokok seperti. Itu seperti bentuk pemaksaan dan pembunuhan karakter. Selalu ada sisi ketakutan dari siswa jikalau pendapat mereka salah. Dan mau tak mau ini berhubungan dengan pengalaman membaca, mari kita flashback ke sejarah awal mereka belajar membaca. Dulu, pasti pernah ada anak yang berdiri di pojok kelas setelah dijewer karena tak hafal alfabet. Dan di pojok itulah si anak yang malu harus menghafal alfabet tersebut. Bisa berpikir dari sudut pandang si anak atau mencoba memahami perasaannya?

3.    Membaca buku yang salah. Di negara kita (secara umum) buku tidak termasuk benda primer dan buku yang dimiliki biasanya bukanlah benda kepemilikan tetapi berupa pinjaman dari sekolah untuk nanti dikembalikan dan diwariskan ke angkatan di bawah dan seterusnya. Dan seperti yang dibahas sebelumnya, sebagian besar bukunya sangat tak layak. Pun buka juga bukan benda murah yang mudah ditemukan di luar sekolah. Buku yang beredar di sekolah (maaf) lebih banyak buku yang tak menarik. Berdasaran pengalaman saya sejak SD hingga SMP, buku-buku dari perpustakaan sekolah saya tidak memiliki kekuatan untuk membuat siapapun ingin membacanya. Dan dijaman SMA hanya buku paket yang diperkenankan dipinjamkan dengan bebas sementara ensiklopedia, biografi, novel dan buku menarik lainnya dikunci di lemari kaca, hanya sebagai hiasan. Mari bertanya berapa banyak sekolah yang bersikap seperti itu yang secara tidak langsung mematikan keinginan para siswa untuk membaca? Sementara jika ingin membeli buku pribadi itu tak murah dan tak mudah ditemukan, apalagi di tempat kami, jika harus beli online harganya lumayan mahal.

      Dengan keadaan seperti ini sulit sekali untuk membangkitkan minat membaca, saya pribadi dengan senang hati sih meminjamkan buku-buku saya (asal dikembalikan) tapi mau meminjamkan kepada yang tak suka membaca rasanya kok percuma.
      Harapan saya semoga generasi muda menjadikan budaya membaca sebagai hiburan yang menyenangkan. Ada yang mau berbagi ide bagaimana caranya membuat mereka suka membaca?
      Oh ya, tulisan saya jangan dibawa serius, ini cuma curhatan untuk menyambut hari buku doang kok. Selamat hari buku, yuk budayakan mencintai kegiatan membaca buku!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar