Date a girl who reads

Date a girl who reads

Sabtu, 18 Mei 2013

Cerpen: Temani Aku Menatap Matahari




Kadang sugesti kuperlukan untuk menipu diri
Bukan untuk lari, tapi hanya menenangkan hati
Bahwa aku takkan mati secepat ini
***
          Terlalu lama menipu diri, mungkin hari ini harus kuakui , aku akan mati, sama seperti yang lain. Mati lebih alamiah dibanding kehidupan, tidak semua bisa hidup, tapi semua yang hidup pasti berujung mati. Apa yang harus kutakutkan? Aku hanya perlu menghadapinya. Mati tak lebih sulit dari pengabaian ayahku selama ini, mati tak lebih menyakitkan dari ibu yang lari dengan pemuda gimbal tukang tattoo yang (dulunya) berkeliling menjual jasanya di pantai dekat Villa kami. Kini aku sendiri, menghadapi sel-sel kanker yang menggerogoti, dan mati.

          Seperti malam-malam biasa, bersama pacar dan sahabatku, aku mendatangi salah satu club malam favorite kami. Malam, ini segalanya berbeda di diriku, aku menyadarinya, dan sangat sadar saat menatap wajahku di cermin yang memantulkan penampilan terbaruku; tidak ada lagi rambut cokelat keemasan warisan ayahku yang berdarah Eropa, tidak ada lagi semu merah dipipiku yang kini memucat seakan tak lagi dialiri darah, tak ada lagi tanda bahwa aku bisa hidup lebih lama.
          Aku tersenyum pada bayanganku yang tak lagi berwajah seperti seindah malaikat surga, karena telah berganti dengan wajah pasrah seorang gadis malang yang menanti datangnya  malaikat pencabut nyawa.
          Tidak ada lagi yang perlu aku takutkan, jadi aku melepas scarf yang menutupi kepalaku, malam ini telah aku  putuskan untuk merusak pesta dan mengejutkan mereka! Aku harus katakan…aku menderita kanker darah, parah dan kita akan berpisah, mungkin aku akan memberi sedikit joke diakhir pengakuan tragisku nanti, dengan berkata “sampai jumpa di neraka, para penggila pesta
***
          Aku berharap semoga mereka hanya akan tertawa- menganggapku kebanyakan  minum, dan melakukan bunuh diri fashion, dengan menciptakan gaya mengenaskan; perpaduan dua makhluk horror, gaya gothic konyol Tuyul yang botak dan Vampire yang pucat, anggap saja aku sudah bosan dengan gaya Feminim-Metal khas Blake Lively; summer dress dan boots seksi, yang kini kuganti dengan kostum berkabung serba hitam dan riasan dramatis; smookey eyes juga lipstick warna gelap, shit! Eye liner-ku meleleh dan membentuk garis hitam tak sempurna. Kuabaikan, aku siap berpesta dan siap untuk mengatakannya… mengakui bahwa hariku nyaris tak bersisa, tapi mampukah?
***
          Mereka di sana, di bawah cahaya warna-warni lampu yang menari-nari, ditengah rasa bahagia, yang kita tau bersama, tidak alamiah! Dimana logikanya saat aku akan mengatakannya di tengah pesta, membuat pengakuan bahwa aku akan mati sebentar lagi?
          Jawabannya lebih karena, aku hanya ingin mengatakannya tanpa harus di dengarkan oleh telinga mereka yang ditulikan musik yang menggila, tanpa harus disadari otak mereka yang sudah terbius euforia pesta, aku hanya ingin merasa lega. Itu saja.
          Aku mendekati mereka; Winda, Angga, dan Dharma, dan bergabung bersama dan larut dalam pesta. Hatiku merasa berdosa, bahkan saat kutau menuju mati aku malah makin memperlebar langkah ke neraka.
Tak ada yang peka diantara mereka, apalagi menyadari apa yang terjadi; aku, wajah pucatku, penampilan baruku, yang kudapatkan hanya pujian betapa kerennya aku, dan Angga berkali-kali mengecup kepala licinku.
Kupikir, inilah waktunya, karena aku sudah tak bisa menunggu, akhirnya aku bicara, bukan tapi  berbisik…aku akan mati” bahkan telingaku hanya menangkap getar lirih, karena dalam hati aku tak sanggup mengatakannya pada mereka, tak tahan lagi,  aku pergi.
Sejujurnya aku ingin mereka menyadari bahwa aku tengah bersedih, tapi yang kurasa bahwa mereka tak merasakan perasaan apapun, hati kami tak terkoneksi emosi, apalagi tersentuh rasa empati.
          Apa yang pikiran picikku lakukan? Aku sendiri, dan mati sebentar lagi? siapa yang peduli!
***
          Aku keluar dari ruang yang tak pernah kunikmati, itu cuma tempat yang kudatangi untuk membunuh sepi, tak ada yang kudapat disini, teman, hanya ikatan tanpa rasa, kekasih? Tak pernah terikat dengan hati!


TIGA BULAN KEMUDIAN
                     
“Bolehkah kukatakan betapa aku membencimu?” Angga berteriak frustasi kepadaku, aku tak menjawabnya, hanya menatapnya wajahnya yang tak lagi terlihat jelas, seakan dia berada di tempat yang hanya memiliki cahaya temaram, seakan aku melihatnya dari balik kaca berembun, seakan dia orang yang kuintip dari balik lubang kunci, tapi dia disini, dihadapanku, tengah menggengam tanganku, sementara aku terbaring kaku di tempat tidur tak nyaman, terkurung di ruang putih yang kubenci. “Kenapa memilih menderita sendiri?” Dia menyalahkanku, kupikir itu bijaksana, meninggalkannya dengan dunia yang disukainya, karena orang yang kucinta tak ingin kuajak dalam derita.
“Aku tak ingin merusak pesta” aku mencoba tertawa dalam sisa tenaga yang makin melemah.
“Idiot!”
“Panggilan sayang yang indah”
“Aku merindukan Ratu Pestaku”
“Tapi aku tak merindukanmu”Aku melepas tanganku dari genggamannya. “Boleh minta sesuatu?”
“Apapun” kini tangannya seolah tak peduli, sekali lagi dia menggenggam tanganku.
“Boleh berhenti mencintaiku?” aku memaksa diri menciptakan seulas senyum di bibir keringku.
“Takkan pernah” dia marah. “Aku mencarimu! Kemana-mana! Dan setelah bertemu dengan mudahnya kamu memintaku berhenti mencintaimu!”
“Aku tak bisa lagi berpesta…tak dapat lagi hidup lebih lama”
“Apa yang kamu rasa?”
“Aku akan pergi sebentar lagi”
Angga tak menatapku saat kata-kata itu membunuh harapannya, dia memalingkan wajahnya dan memilih menatap ke arah jendela. Sejujurnya aku tak menyadari sejak kapan dia di sini, karena aku baru saja menyadarkan diri.
“Boleh minta satu hal?” pintaku lagi “Temani aku menatap matahari pagi ini” aku tau Angga takkan mengecewakanku.

***
Aku selalu suka matahari terbit, membawa harapan, pertanda datangnya hari baru, aku selalu bahagia saat aku masih bisa merasakan indah cahayanya dari sela-sela jendela kamar perawatanku, tapi hari ini, aku dan orang yang kupikir akan kutinggalkan dan takkan pernah merasa kehilanganku tengah bersamaku, menunggu datangnya bola cahaya raksasa itu…
“Kita sudah melewatinya…” bisikku lirih
“Apa?” tanya Angga, sekarang tangan kami saling menggenggam seakan tak ingin terpisahkan, dan dia membiarkan kepalaku bersandar di bahunya.
“Waktu tergelap” Jawabku pelan lalu kami terdiam karena mata kami tengah menikmati guratan perak di ujung timur, yang entah mengapa kini terasa begitu dekat.
“Waktu tergelap terjadi tepat sebelum matahari itu datang, sebelum dia membawa cahayanya yang terang” aku berkata lagi, tapi suaraku terdengar semakin melemah, tapi aku tau aku mampu mengucapkan hal-hal yang ingin kukatakan.
“Aku sudah melewati saat itu” Ada nada bangga seakan aku bocah kecil yang berhasil pertama kali menyuapkan makanan pertama tanpa tumpah kemulut mungilnya.
 Angga mempererat genggaman tangannya seakan takut aku akan melepaskannya.
“Pernah menyadari bagaimana hidup ini berjalan?” Aku merasakan bahu Angga terguncang, dan aku merasakan ada cairan hangat yang meleleh dipipiku yang kuabaikan, aku merasa telah kehilangan seluruh tenagaku, tapi aku harus mengatakannya, aku menguatkan diri dan memaksa untuk terus bicara.
“Kita menyimpan sebuah harapan yang kita harap nanti agar terkabulkan… walau kadang ada keraguan, seakan harapan itu takkan pernah terwujudkan, tapi pada akhirnya harapan itu menjadi nyata… seperti saat aku menunggu seseorang yang tepat yang kupikir takkan pernah datang, kamu tau itu siapa? Itu kamu!” Kali ini Angga melepaskan genggamannya dan mendekapku, seakan aku ingin dijaga selamanya “Kemudian setelah hal itu terjadi segalanya seakan berakhir, seakan…hanya ada satu hal yang paling kamu inginkan, melebihi apapun, mengulangnya lagi, seperti memutar memori itu ke belakang, dan memutarnya dari awal, kembali pada peristiwa sebelum harapan itu termiliki…tapi aku tau tak ada waktu untuk mengulangnya lagi”
Aku terengah seakan kata-kata itu menghisap habis tenagaku, tapi aku tau aku telah mengatakannya, dan merasa bahagia saat menatap kemilau keemasan indah di saat terakhir dibatas waktuku, di tempat ternyaman di dunia, dalam pelukan orang yang kusayangi, tak ada penyesalan hanya ada senyuman karena aku pergi dengan tenang.

:::The End:::

2 komentar:

  1. Waah, Citra berbakat sekali... Suka deh sama tulisanmu. =)

    BalasHapus