Date a girl who reads

Date a girl who reads

Selasa, 17 Februari 2015

[Review] Sognando Palestina: Jendela untuk Melihat Penderitaan Remaja Palestina



Judul Buku                              : Sognando Palestina:Impian Palestina
Jenis Buku                               : Fiksi
Penulis                                    : Randa Ghazy
Penerbit                                   : Pustaka Alvabet
Cetakan                                   : Februari 2006
Tebal                                       : 232
ISBN                                       : 979-3064-17-X
Ikhtisar                                   :
Perang, kekerasan, ketakutan. Di balik itu tersimpan persaudaraan, cinta dan persahabatn. Sekelompok remaja Palestina, memutuskan untuk hidup dan bertahan di masa sulit. Masa berkobarnya rasa balas dendam, bom bunuh diri dan pengusiran. Meskipun demikian, mereka berusaha menjalani kehidupan yang normal, penuh solidaritas, dan keceriaan. Padahal setiap hari bisa saja menjadi hari terakhir bagi siapa saja. Satu-satunya senjata untuk bertahan adalah jiwa yang tegar dan keinginan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.
Ditulis oleh gadis belia berusia 13 tahun, novel kontroversial yang bermula dari cerita pendek peraih anugerah sastra di Italia ini telah menggemparkan dunia dan telah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa dunia. Sogando Palestina menuai kritik pedas dari kaum Yahudi yang tidak rela dunia mendengar, menyaksikan atau membaca selain dari materi yang sejalan dengan sudut pandang mereka.
***
Cukup dengan membaca ringkasan di balik buku membuat saya meyakini bahwa buku memiliki kekuatan. Gadis 13 tahun bernama Randa Ghazy yang bukanlah penduduk Palestina, sanggup menulis tentang tema yang tak mungkin hanya dikhayalkan sebelum dituliskan. Apalagi diperkuat oleh testimoni dari New York Times pada sampul depan buku ini sebagai “Karya Sastra yang luar biasa, langsung meledak dan memberi persfektif yang berbeda.” Sampul buku tak kalah dalam memberikan sentuhan yang seolah membawa jiwa penuh luka rakyat Palestina yang tertulis di dlam buku ini. Itulah sedikit gambaran fisik dari buku yang apabila boleh saya beri nilai, maka buku ini bernilai 90, nyaris sempurna.
Halaman pertama membuat saya terhenyak, karena dibuka oleh barisan puisi yang berisi kekuatan untuk melawan, seperti ini:
Tanpa gentar aku 'kan melawan
Ya, tanpa gentar akan kulawan
Di tanah tumpah darahku, aku akan melawan
Siapapun yang mencuri milikku akan kulawan
Siapa yang membunuh anak-anakku akan kulawan
Siapa yang robokan rumahku, akan kulawan
Oh, rumahku tercinta!
Di bawah puing-puing tembokmu, aku akan melawan
Tanpa gentar akan kulawan
Dengan segenap jiwaku, aku akan melawan
Dengan tongkatku, dengan pisauku, akan kulawan
Dengan bendera di tanganku, akan kulawan
Meski mereka potong tanganku
Dan nodai benderaku,
Dengan tanganku yang lain, akan kulawan
Tanpa gentar akan kulawan
Jengkal demi jengkal, di ladangku, di tamanku, akan kulawan
Dengan tekad dan keimanan, akan kulawan
Dengan kuku dan gigiku akan kulawan
Dan meski tubuhku
Tak lebih dari kumpulan bekas luka-luka menganga
Dengan darah dari luka-lukaku, aku 'ka melawan
Tanpa gentar akan kulawan

Kenapa harus melawan dan tak menyerah saja? Bawa saja ke Mahkamah Internasional! Tentu tidak bisa! Kenapa? Karena pada kenyataannya mereka hanya orang-orang Palestina yang mngetahui kenyataan bahwa mereka sendirian. Karena dunia tak peduli, sama sekali acuh tak acuh-apakah ada satu lagi yang mati atau berkurang. Hanya sekedar angka-angka. Kau mengerti? Sekedar angka-angka dan dunia cukup berkata “kasihan”. Bahkan kadang-kadang mereka tak berkata sepatah katapun, karena mereka terlalu sibuk berganti saluran televisi. Tetapi pada akhirnya hal itu tak penting. Apa gunanya, kan? Itu hanya perang orang Palestina tidak ada sangkut pautnya dengan dunia. Orang-orang Palestina harus bertahan!kenapa? karena mereka menjaga masjid suci Al Aqsha, menjaga tanah wakaf para muslim. Mereka menjaganya untuk dunia! Dan bukankah Allah Yang Maha Pengasih bersabda: Pertahankanlah tanah dan keluarga kalian. Apabila ada seseorang yang merampas tanah kalian, menguasai rumah kalian, merampas hak atas harta benda kalian, maka berjuanglah. Berperanglah.

Perang, yang membuat para remaja yang menjadi tokoh-tokoh dalam kisah ini, mau tak mau harus segera tumbuh dewasa dan melawan ketakutannya untuk bisa bertahan. Perang sebagai hal yang menuntut mereka untuk melawan dan mempertahankan iman. Israel mampu menghancurkan segalanya tapi tidak Islam dan keimanan warga Palestina. Bagaimana perang menjadi saksi tentang cinta dan pershabatan dan kerinduan mereka untuk hidup dalam kedamaian. Adalah Ibrahim yang hidupnya berubahsejak kematian tragis ayahnya. Ibrahim kemudian meninggalkan bangku kuliah, dan mulai berkeliling kampung-kampung Gaza selama bertahun-tahun. Dia mencoba menjadi lelaki seperti ayahnya. Sehingga singkat cerita, Ibrahim bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya, pemuda-pemuda lain, yang karena kepedihan, dan kehilangan anggota keluarga, membuat mereka bersatu serta saling menyayangi. Mereka menjadi keluarga baginya. Nidal, Ramy, Mohammad, Ahmed, Jihad, Riham, dan Wilad, yang masing-masing mempunyai karakter berbeda, tapi memiliki impian sama akan kehidupan damai di tanah Palestina.
Buku ini sangat penuh dengan hal yang membuat pembaca berdecak penuh kekaguman Penulisnya terlalu belia untuk bisa menuliskan kepedihan dan keputusasaan yang begitu mendalam. Mencoba menukar posisinys sebagai penulis dan tokoh yang bercita-cita memiliki kehidupan normal yang dimiliki penulis walau saya yakin sang penulis tak berkeinginan menghadapi kehidupan dalam pengungsian akibat peperangan. Mungkin jawabannya mengapa Randa mampu menuliskannya, karena rasa simpati dan empati atas seseorang bernama Jamal ad-Durrah yang tertulis di halaman persembahan. Nyaris seisi buku bercerita tentang kepedihan dan tak seperti dongeng yang menjanjikan bahagia buku ini jelas berkisah tentang perjuangan tanpa ujung  karena mereka percaya yaitu janji Allah SWT. yang akan memberikan surga bagi mereka, kaum yang tertindas dan berjuang di jalan Allah SWT.
Tentu saja cerita ini membuat Yahudi berang, karena mereka digambarkan sebagai tentara-tentara yang berperilaku monster yang membunuh anak-anak dan orangtua, membuat masjid-masjid  dibanjiri darah dan mayat, pemerkosa wanita-wanita Palestina. Tapi penulis cukup bijaksana, karena dia menuliskan bahwa tidak semua orang Yahudi jahat,  bahwa tak sedikit Yahudi yang menentang kekejaman tentara dan kebijakan pemerintahnya sendiri. Penulis juga bercerita tentang cinta antara pemuda Palestina beragama Kristen, Ramy, dan seorang gadis Yahudi, Sarah. Sehingga menimbulkan asumsi bahwa masalah di sini bukan hanya teletak pada agama dan kepercayaan, namun juga terdapat intrik politik.
Walau buku ini memiliki kekuatan memikat dengan tema kemanusiaannya namun sayang penyajiannya sedikit mengecewakan, terutama sering tertinggalnya narasi di percakapan yang penuh emosi sehingga membuat pembaca kebingungan tentang bagian tokoh yang tengah diceritakan. Terutama di bab satu, hal ini nyaris menghentikan saya untuk membaca. Juga tentang paragraf yang berantakan dan terkesan seperti kalimat-kalimat tunggal yang sengaja dibuat kacau karena mengingat penulisnya masih berusia cukup muda, namun bukankah itu tugas dari editor? Entahlah. Atau juga karena disebabkan oleh terjemahan yang kurang kuat mengingat bahwa buku ini merupakan terjemahan dari bahasa Itali.
Akan tetapi pada akhirnya, bahwa buku ini memberi pembaca gambaran tentang luka dan penderitaan rakyat Palestina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar