Date a girl who reads

Date a girl who reads

Minggu, 05 Februari 2017

[Review] We Were Liars: Kepalamu Menolak Mengingat Kebenaran



Keterangan Buku:
Judul               : We Were Liars (Para Pembohong)
Penulis             : E. Lockhart
Penerjemah      : Nina Andiana
Desain Sampul : Martin Dima
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit : Jakarta, 2016
ISBN               : 978-602-03-0671-1
Jumlah halaman: 290

Blurb:

Keluarga yang menawan dan disegani.
Pulau pribadi.
Gadis cerdas yang risau; pemuda politis yang penuh semangat.
Empat sahabat−Para pembohong−dengan pertemanan
Yang kemudian menjadi destruktif.
Kecelakaan. Rahasia.
Kebohongan demi kebohongan.
Cinta sejati.
Kebenaran
Para Pembohong merupakan novel suspense modern
Karya E. Lockhart, finalis National Book Award dan penerima Printz Award.
Bacalah.
Dan jika ada yang bertanya bagaimana akhir cerita ini,
JANGAN BERITAHUKAN.



Review:


            Saya tengah terjebak dalam kesibukan kerja. Membaca adalah kemewahan yang bisa saya dapatkan di hari hujan tanpa aliran listrik, atau ketika mengantri di dokter gigi, dan separuhnya saya tuntaskan dalam bus pengap beraroma keringat dan minyak angin di perjalanan Sumbawa-Seteluk. Suspense seharusnya bukanlah genre favorit saya, tapi karena kepala tak mau dewasa saya selalu menyukai genre Young Adult jadi sedikit bumbu suspense tak masalah. Ibarat sebagai penyegar di kala sebagian besar kisah remaja yang saya baca belakangan hanya berisi cowok culun yang jatuh cinta pada cewek eksentrik. Saya juga menyukai drama dan rahasia keluarga yang dituangkan dalam kisah ini.
            Adalah keluarga Sinclair yang membuat saya iri setengah mati. Siapa keluarga Sinclair itu?
            Mari kita dengarkan sambutan dari Cadence ‘Cady’ Sinclair Easton/Easman (?) cucu perempuan tertua keluarga Sinclair. “Selamat datang di keluarga Sinclair yang sempurna. Di sini tidak ada kriminal. Di sini tidak ada pecandu. Di sini tidak ada yang gagal.
            Eh tapi di sini ada banyak kebohongan pun para pembohong… Oooops!

            Pada awalnya E. Lockhart bercerita tentang betapa sempurnanya keluarga pendukung Partai Demokrat ini; mereka memiliki wajah cantik dan tampan, bertubuh atletis, memiliki senyum lebar, dagu persegi, juga serve tenis yang selalu agresif. Yang membuatku iri bukan itu semua, tapi kepemilikan mereka atas pulau pribadi yang bernama Beechwood, pulau yang dilengkapi empat rumah di dalamnya; Clairmont, Red Gate, Cuddledown, dan Windmere, tempat keluarga ini menghabiskan musim panas mereka.
            Harris dan Tipper Sinclair memiliki tiga putri nyaris sempurna; Carrie, Bess, dan Penny−yang sayangnya tak memiliki kemampuan untuk mempertahankan pernikahan mereka. Di setiap musim panas keluarga-keluarga yang telah terkoyak ini berkumpul di Beechwood untuk merayakan musim panas. Carrie akan membawa Johnny dan Will putranya, ditambah kekasihnya, pria India yang tak akan dinikahinya, Ed beserta keponakan Ed, Gatwick Matthew Patil. Bess akan membawa empat anaknya; Mirren, si kembar Liberty-Bonnie, dan Taft. Sementara si bungsu dan anak kesayangan−Penny akan membawa putri tunggalnya Cady, si tokoh utama yang dari sudut pandangnyalah cerita ini sampai ke pembaca.
            Cerita ini dimulai pada musim panas ke lima belas Cady, tak lama setelah ayahnya kabur bersama wanita lain. Pada awalnya saya pikir Cady hanya anak manja yang tak bisa bertahan setelah keretakan keluarganya, saya menyangka Cady akan bercerita tentang tekanan yang dialaminya sebagai anak korban perceraian, Cady akan menjadi anak penderita schizophrenia atau semacamnya. Saya takkan lupa deskripsinya saat ayahnya menembakinya, melukainya, meninggalkannya dalam rasa malu dan ketidakpercayaannya bahwa dia ditinggalkan karena tidak dicintai. Tapi dia keluarga Sinclair, maka dia hanya perlu mengangkat dagu perseginya tinggi-tinggi dan melanjutkan hidup senormal mungkin.
            Tak ada anak usia belasan yang normal setelah ditinggalkan, baik untuk sementara maupun selamanya. Baik dalam jarak yang terbatas ataupun tanpa batas. Baik oleh binatang peliharaan ataupun oleh mereka yang dicintai.
            Kehilangan tak pernah mudah. Kehilangan mengubah apapun menjadi tak lagi sama seperti sediakala. Kehilangan begitu pedih. Sebagai pembaca, buku ini mengirimkan kepedihan sekaligus keindahan.
            Saya tak ingin bercerita banyak, selain bahwa saya mendapat pelajaran penting dari anak-anak perempuan Sinclair, kekayaan dan pendidikan terbaik tak membuatmu terlatih dalam membangun pernikahan. Dampak terburuk dari perceraian adalah anak-anak yang tak lagi mendapat haknya sebagai anak dan para orang tua yang tenggelam dalam kekecewaan. Perempuan, berhati-hatilah ketika jatuh cinta!
            Saya menyayangi para pembohong; Johnny, Mirren, Gat, dan Cady.  Johnny, dia seperti bola yang memantul, penuh energi, dan sarkastis. Mirren; manis, selalu ingin tahu, dan suka air, Gat; dia bagai kontemplasi dan antusiasme,. Ambisi dan kopi kental. Lalu Cady, saranku berpura-puralah menjadi dirinya agar kamu sebagai pembaca menyatu dalam kisahnya.


            Novel ini diceritakan dalam kalimat-kalimat indah yang kadang terlalu manis hingga saya merasa bisa meleleh bagai es krim di musim panas. Seperti apa yang dikatakan Gat pada Cady ketika ingin menggengam tangannya, “Saat ini jagat raya terlihat begitu besar. Aku butuh sesuatu untuk berpegangan.” Kadang saya berharap, kisah cinta Gat dan Cady adalah cerita cinta remaja yang dangkal. Tragedi sebesar ini terlalu mengerikan untuk kisah cinta pertama yang seharusnya manis.
            Saya suka moto-moto dari para pembohong. Mirren dengan, “Berbaik hatilah lebih daripada yang perlu kau lakukan.” Johnny dengan, “Jangan pernah makan apapun yang lebih besar dari bokongmu.” Gat dengan, “Jangan pernah menerima keburukan yang bisa kauubah.” Dan Cady dengan, “Selalu lakukan apa yang takut kau lakukan.” Seperti menghadapi kebenaran yang terlalu pening ketika harus diterima otaknya.
            Cady cerdas, tipe gadis yang kamu ingin menjadi sepertinya. Tapi manusia selalu memiliki kelemahan-kelemahan, memiliki batasan dan mudah terseret dalam kekeliruan yang mungkin tak sempat diperhitungkan yang nantinya akan menimbulkan penyesalan yang teramat dalam. Saya suka caranya dalam mengatasi kehilangannya, dengan project giveaway-nya, tak menyembuhkan memang namun berguna bagi orang lainnya.
            Cover novelnya yang membuat jatuh cinta pada pandangan pertama (selain deretan penghargaan yang diterima buku ini yang menggodaku sehingga harus membelinya) adalah bentuk yang diabadikan yang merupakan salah satu adegan paling mengiris hati yang berada di halaman 189. Oh Cady yang malang, saya benar-benar ingin memeluknya.
            Sebuah novel yang mengisahkan kelamnya keluarga kaya Amerika yang memegang tradisi dan tingginya harga diri. Sebuah karya hebat yang harusnya saya sesali karena menghadiahkan saya dengan akhir yang tak boleh saya katakann dan payahnya, seharusnya kisah cinta Cady dan Gat akan lebih sederhana dan sangat remaja jika saya boleh menyenandungkan soundtrack Grease, “summer fling, don’t mean a thing. But, uh oh those summer nights.”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar