Date a girl who reads

Date a girl who reads

Selasa, 14 Februari 2017

[REVIEW] Dan Damai di Bumi!: Damainya Dunia Jika Tanpa Prasangka




Keterangan Buku:
Judul               : Und Friede auf Erden! (Dan Damai di Bumi)
Penulis             : Karl May
Penerjemah      : Agus Setiadi dan Hendarto Setiadi
Desain Sampul : Teguh Tri Edyan dan Deborah Amadis Mawa
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Tanggal Terbit : Jakarta, 2016
ISBN               : 978-979-91-0991-0
Jumlah halaman: 599

Blurb:
“Ternyata selama ini saya hidup di tengah wabah yang mengerikan. Penyebabnya adalah prasangka ….”
***
Inilah salah satu novel paling gemilang karya penulis cerita petualangan terkemuka di dunia, Karl May (1824-1912). Sedikitnya dari proses penulisan dan segi penceritaan, Dan Damai di Bumi! Boleh dibilang amat berbeda dengan kisah-kisah petualangan Karl May sebelumnya, termasuk yang pernah terbit dalam Bahasa Indonesia. Novel ini tidak lagi bertumpu pada data pustaka, tapi petualangan Karl May selama berkunjung ke negeri-negeri Timur, mulai dari Mesir, Pakistan, Sri Lanka, Semenanjung Malaya sampai Tiongkok, Maret 1899 hingga Juli 1900. Dari segi penceritaan, novel ini juga jauh lebih matang; tidak melulu mengandalkan aksi fisik, tapi juga mengolah pergolakan batin tokohnya.

Dengan gaya bertuturnya yang menawan, Karl May mengajak para pembaca untuk melihat lebih dekat sisi kelam kolonialisme. Ia juga berhasil menghidupkan sikap toleran dan lapang dada dalam perbedaan, baik budaya, agama, maupun warna kulit. Membaca Dan Damai di Bumi! Anda tidak hanya terhibur tapi juga akan memperoleh semangat baru untuk menghadapi kehidupan yang hingga kini msih diliputi rasa prasangka dan curiga.

Review:
Bawalah warta gembira ke seantero dunia
Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak
Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,
Jadikanlah ia perlambang damai antarumat

            Saya membaca novel ini nyaris satu bulan lamanya. Tebal dan tidak praktis jika dibawa kemana-mana, sementara hari-hari belakangan ini tuntutan pekerjaan tengah menyiksa. Sehingga, setidaknya ada lima novel lain yang saya baca dan terselesaikan lebih dulu. Selain itu karena bagi saya ini buku mahal, jadi saya tak mau melahapnya dalam tempo singkat. Dinikmati perlahan dan mendalam. Dari Karl May saya belajar bahwa dunia akan lebih baik jika manusianya mulai berprasangka baik dan menganggap semuanya setara terlepas dari kekurangan dan kelebihannya. Kita sama terlepas dari suku bangsa mana kita berasal. Kita tak berbeda jika saja kita mau melihat dengan mata dan hati terbuka.

            Karl May menampilkan sosok Charley yang saya iri padanya karena dia telah melakukan perjalanan hebat mengelilingi separuh bumi. Mari tebak berapa banyak pelajaran dan pengamalan yang Charley miliki dalam hidupnya? Hebatnya Karl May sang penulis, tak pernah melakukan perjalanan yang sesungguhnya, senjatanya adalah ensiklopedia, kamus, buku-buku tentang geografi, etnologi, kamus ilmiah, peta dan laporan dari para pengelana. May memiliki riset yang juara.
            Karakter kesayangan saya dalam novel ini adalah Sejjid Omar, pelayan sang Sihdi atau Charley. Dia adalah seorang muslim yang baik, pembelajar gigih, dengan kesetian pada tuannya yang tak diragukan. Hanya sayangnya, Sejjid Omar karena ‘diberi’ karakter pelayan sehingga entah kedunguan atau saya anggap saja kepolosan tetap melekat padanya. Dalam bayangan saya Sejjid Omar lebih mirip seperti perpaduan Sinbad dan Aladin. Dari Sejjid Omar saya belajar tentang persamaan dan toleransi. Hal yang kita lupakan belakangan ini. “Kita semua bersaudara. Kalaupun kita berbeda iman, apakah itu berpengaruh pada tubuh kita? Bagaimana mungkin diri kita ternoda melalui sentuhan yang tidak ada sangkut paut dengan kepercayaan?”Itu hal pertama. Hal terpenting kedua yang saya pelajari darinya adalah tentang kebijaksanaan seperti berikut ini; “Apa gunanya hukuman jika perbuatan masih terus diungkit?” Bukankah ini pelajaran besar bahwa kesalahan bukan hanya berakhir pada proses sekadar memberi hukuman dan pengampunan. Dan yang ketiga, tentunya ini pun sangat penting, “Dan kalau sang ibu tak sanggup mengajari anak-anak, maka sang ayah juga takkan sanggup, sebab barang siapa mengambil harem tanpa roh tentunya tak cukup pandai membagi-bagi kepandaiannya kepada anak-anaknya?” Perhatikan cara Sejjid Omar berbicara, dia tak memberi pernyataan tapi sebalik bertanya agar kita-kita bersama untuk menjawabnya, artinya selalu terbuka kesempatan bagi orang lain untuk tak selalu setuju dengannya.
            Buku ini mengajak pembaca berkenalan dengan berbagai karakter yang berasal dari suku bangsa di dunia yang berbeda; Seperti Misionaris Amerika, Waller dan putrinya Mary yang pemahaman keliru seperti yang ditangkap Waller memberi pelajaran untuk tidak menggunakan prasangka dalam melihat dunia. Kelembutan Mary putrinya, berkali-kali menyelamatkan sang ayah dari jurang masalah.  Sepasang ayah-anak Fu dan Tsi yang bijak dan berpengetahuan luas, Tsi sendiri adalah seorang dokter lulusan Eropa. Kemudian ada Raffley dan Sang Gubernur dari Inggris. Serta sedikit tentang pemuka Adat Melayu yang membuka anggapan pria Amerika dan Eropa terhadap negeri bagian timur ini. Seperti yang terangkum dalam kalimat berikut: “Betapa berbeda pandangan saya mengenai orang Melayu dulu dan sekarang, mereka orang terbaik di dunia, gagah, cerdas, bertenggang rasa, lembut, pemaaf, tidak egois, adil, dan terutama ramah. Makin lama saya makin yakin bahwa kita seharusnya mencontoh mereka!

            Untuk para matrealistis yang menilai seseorang berdasarkan benda yang dimiliki saya rasa akan malu dengan kalimat ini, “Mereka tidak miskin, hanya saja kebutuhan mereka tidak banyak.” Buku ini bagus dan sarat pesan moral, saya merekomendasikan buku ini untuk mereka yang menginginkan pelajaran untuk dapat memiliki pandangan terbuka. Dan saya percaya bahwa, “Takdir selalu memilih orang yang tepat, yang kemudian akan muncul pada waktu dan tempat yang tepat pula.” Seperti halnya buku ini yang saya baca di saat saya melihat didepan mata ketika manusia mulai saling menghancurkan karena prasangka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar